22 October 2019

Islam dan Muslim di Amerika: Wawancara Imam Shamsi Ali

KONFRONTASI-Amerika sebuah negara yang masyarakatnya plural, baik dalam arti nation, etnik dan agama. Kendati demikian penyebaran ajaran Islam di negeri Paman Sam ini bukan tanpa aral dan rintangan. Lalu bagaimana sebenarnya perkembangan Islam dan kehidupan kaum muslim di negeri ini? Berikut adalah kutipan wawancara dengan Imam Shamsi Ali yang telah bertahun-tahun menempuh jalan dakwah di sana.

Bisa Anda gambarkan realitas kehidupan antarumat beragama di Amerika?

Hubungan antarumat beragama di Amerika baik dan semakin membaik justru setelah musibah 9/11 2001. Musibah itu menjadi batu loncatan sekaligus dorongan bagi kita untuk membangun hubungan yang lebih baik dengan komunitas agama-agama lain.

Untuk itu, apa tindakan Anda di tingkat konkret?

Saya berupaya menjadi garda terdepan untuk membangun komunikasi dengan komunitas agama-agama lain. Dengan semua komunitas agama. Agama apa saja, termasuk Yahudi. Saya pernah menulis buku bersama pendeta yang kata pengantarnya ditulis oleh Bill Clinton.

Secara esensial semua agama ‘kan untuk kebaikan. Istilah dalam Islam rahmatan lil’alamin. Teman-teman Kristen menyebutnya dengan istilah cinta kasih. God of goodness. Kebaikan-kebaikan itu kita satukan. Kita membangun energi positif untuk membangun dunia yang lebih baik.

Di Amerika ada gesekan-gesekan antarumat beragama?

Kadang ada gesekan-gesekan, tapi itu disebabkan oleh faktor politik ekstrim. Sekarang apa yang dilakukan oleh Presiden Donald Trump didukung oleh white supremasi. Mereka kelompok radikal kulit putih, sehingga memicu terjadinya gesekan-gesekan.

Tapi, fakta sosiologisnya di Amerika gesekan terjadi bukan antarumat beragama, melainkan antarras. Misalnya antara kulit putih dan kulit hitam. Juga antara imigran dan non-imigran.

Jadi, faktor politik lebih sebagai pemicu?

Ya. Ketegangan-ketegangan yang terjadi di Amerika saya kira karena politik yang diusung oleh Donald Trump To Make America Great Again. Istilah “Amerika hebat” itu kulit putihlah yang dimaksud. Politik rasis yang dikembangkan Donald Trump itu menimbulkan ketegangan-ketegangan.

Namun, hubungan antarumat beragama di Amerika alhamdulilah berkembang dan terus kita kembangkan. Bahkan, saat kami—umat Islam—mendapat tantangan, justru banyak teman nonmuslim membela.

Contoh konkret?

Tahun 2017 saya ikut melakukan demonstrasi menentang kebijakan Trump yang melarang orang Islam masuk ke Amerika.

Sekitar 10 ribu orang Islam tumpah di jalan-jalan. Times New York menulis, Today I’m Moslem too. Hari ini saya muslim juga. Anda melarang orang Islam masuk ke Amerika, larang dulu saya, teriak mereka.

Inilah hasil dari dialog-dialog antarumat beragama yang kita bangun di Amerika. Alhamdulillah, hasilnya sangat baik.

Anda juga pernah diajak dialog di luar tanah Amerika?

Saya intensif mengelola kegiatan dialog antarumat beragama (interfaith dialogue) tidak hanya di Amerika, tapi juga di berbagai tempat di dunia. Kami beberapa kali menginisiasi dialog antarumat beragama di Eropa, Singapura, Malaysia, dan—tentu juga—di Indonesia.

Apa target yang ingin Anda capai lewat dialog itu? Apa saja topik yang dibicarakan?

Dialog antarumat beragama lebih dominan dalam membangun komunikasi dan relasi dengan dua kelompok masyarakat agama (religious community) yang paling sering disebut dalam Al Quran, yaitu komunitas Yahudi dan Kristiani (Nashara)

Bagaimana Anda melihat hubungan Islam dengan dua komunitas itu berdasarkan perspektif sejarah Islam?

Hubungan antara Islam dan kelompok Yahudi dan Kristen (Nashara) memang unik. Kadang digambarkan begitu dekat. Bahkan Rasul Islam Nabi Muhammad saw menggambarkan mereka sebagai bagian dari umatnya juga (umati). Kedekatan itu bukan hal baru, karena mereka memang memiliki tempat yang sangat mulia dalam Al Quran. Salah satunya sebagai Ahli Kitab yang menjadi bagian dari iman Islam juga (beriman pada Taurat dan Injil).

Tapi fakta, di Amerika, bahkan di negeri kita, Islam seringkali dituduh sebagai biang terorisme…

Saya kira itu pembalikan fakta Saya jauh berjalan ke banyak negeri, tinggal di beberapa negara. Saya bangga dengan fakta: hubungan antarumat beragama di Indonesia sangat baik. Toleransi antarumat beragama di Indonesia sangat luar biasa. Kalau ada kasus-kasus terjadi, tentu harus dipandang secara kasuistis saja. Di mana saja ada kasus. Di Amerika pun, yang kata orang sebagai “mbahnya demokrasi” pun ada kasus. Kasus-kasus yang terjadi di Amerika janganlah dijadikan dasar untuk memburamkan fakta yang sebenarnya tentang realitas Islam di Indonesia.

Toleransi antarumat beragama di Indonesia sangat luar biasa. Contoh kecil saja, sekitar 80 persen dari penduduk negeri ini adalah umat Islam. Tapi coba perhatikan, posisi-posisi penting di pemerintahan kita diduduki oleh siapa? Banyak teman kita yang Kristiani, Hindu, Buddha mendapat tempat. Kami di Amerika mendapatkan apa? Emang kami di Eropa dapat apa? Tidak. Tidak mendapatkan apa-apa. Masyarakat Indonesia, khususnya umat Islam, toleransinya luar biasa. Janganlah dibangun image dan persepsi yang salah bahwa Indonesia sudah di ambang kehancuran karena faktor perbedaan agama. Seperti di Suriah, image itu yang dibangun.

Saya kira kehidupan antarumat beragama di Indonesia sangat moderat. Kerukunan hidup dan toleransi antarumat beragama adalah darah daging kehidupan bangsa kita. Janganlah fakta ini diburamkan.

Fakta tentang toleransi antarumat beragama di Indonesia sangat hebat. Janganlah fakta ini dibuat buram.

Ada beberapa tokoh Amerika yang sebelumnya anti-Islam, bahkan ada yang awalnya ateis, tapi setelah mengenal Islam, mereka bukan saja menjadi muallaf, namun justru berbalik menjadi da’i atau pendakwah Islam. Seperti Yusuf Estes dan Jefrey Lang, matematikawan itu, misalnya. Bagaimana Anda melihatnya?

Ya, mereka semua teman saya. Saya dan Yusuf Estes pernah tampil bersama di Guide Us TV. Ia pendirinya. Alhamdulillah, sambutan publik Amerika baik. Islam kalau kita sampaikan dengan sesungguhnya dan dengan wajah dan realitas yang sebenarnya, orang akan melihat pancaran kebaikan. Saya banyak pengalaman bagaimana orang datang pada saya, marah-marah, mencaci maki, berserapah, tapi kemudian pulang dengan senyum.

Di mana tepatnya Anda mengalami hal itu? Seperti apa konkretnya?

Saya pernah memberikan presentasi tentang Islam di New Florida University. Jaraknya hanya 50 kilometer dari gereja yang membakar Al-Quran. Ketika saya memberikan presentasi, tiba-tiba ada spanduk bertuliskan Anti Islam di barisan belakang.

Setelah selesai acara saya minta mereka duduk bersama dengan saya. Mereka hanya lima orang. Kami berdialog sampai dua jam. Setelah itu mereka pulang dengan lega. Bahkan salah seorang di antara mereka masuk Islam. Karena apa? Karena kita membuka mata mereka bahwa Islam tidak seperti yang mereka sangka.

Orang Amerika itu cepat merasa bersalah. Begitu kita sampaikan Islam yang sebenarnya, ada yang masuk Islam karena mereka ingin bertaubat dari kesalahan persepsinya tentang Islam sebelumnya.

Apa ciri-ciri Islam di Amerika secara kultural?

Islam di Amerika itu rasional. Bahkan Karen Armstrong, mantan biarawati yang kemudian menjadi ahli agama-agama itu pernah mengatakan, “Saya tahu pada agama-agama ada kebaikan.” Dan, katanya juga, “I must be honest. Saya harus jujur bahwa agama yang paling rasional adalah Islam, meski ada orang Islam yang tidak rasional.” Lalu beliau mengatakan banyak orang Barat, orang-orang Hispenic di Amerika khususnya, masuk Islam karena rasionalitas Islam. Orang Hispenic, teman-teman saya itu, menyatakan memilih Islam sebagai agama mereka, karena lewat Islam hati dan akal mereka dapat disatukan.

Amerika identik dengan filsafat pragmatisme. Ada jugakah kecenderungan bertumbuhnya mistisisme Islam yang disebut sufisme atau tasawuf itu di Amerika?

Ya. Islam itu sesungguhnya ya itu, meski kita tetap harus menjaga syariat. Jangan seolah-olah kita sudah dekat dengan Tuhan, lalu tidak perlu shalat. Jangan seperti itu. Dalam Islam ada keseimbangan antara spiritualitas dan syariat, dan itu yang kita tumbuhkan di Amerika.

Juga janganlah merasa imannya sudah bagus, sudah mendalam, lalu merasa tidak perlu shalat. Jangan seperti itu.

Adakah aspek perenial atau titik perjumpaan antara mistisisme dalam Islam dengan mistisisme dalam agama-agama lain seperti khasidisme dalam Yahudi atau gnostisisme dalam Kristen, misalnya?

Dari aspek spiritulitas memang begitu. Perbedaan terletak pada aspek syariahnya. Maka dikatakan, agama masa datang itu Islam. Islam itu secara spiritual artinya submission, berserah diri kepada Allah. Seperti dalam Islam, teman-teman Kristiani juga berserah diri pada Tuhan, tetapi cara atau syariahnya berbeda.

Ada juga dimensi kesadaran sosial dalam Islam?

Tentu, kita selalu membangun keseimbangan antara spiritualitas dan kesadaran sosial. Agama itu untuk kehidupan, Menjadi muslim yang baik bukan hanya di masjid. Islam mengajarkan kita peduli pada sesama, kapan pun dan di mana pun, dahulu, kini dan di masa-masa datang. (mr/nurinka/ Ahmad Nurullah)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...