Ini Kisah di Balik Masjid-masjid Bergaya China di Indonesia

KONFRONTASI -  Akulturasi budaya dalam suatu wilayah kerap kali memunculkan kekayaan dalam berbagai hal. Satu di antaranya terekam dalam gaya arsitektur sejumlah bangunan masjid yang mengandung unsur budaya China atau Tionghoa.

Hubungan antara masyarakat Nusantara dan China sendiri, seperti dituliskan dalam buku Jejak Rasa Nusantara: Sejarah Makanan Indonesia, sudah terjalin melalui perdagangan sejak abad ke-5, atau dengan kata lain terjadi pada masa sebelum penyebaran Islam berlangsung di Indonesia dan jauh sebelum kedatangan Belanda.

Maka dari itu pun tidak mengherankan jika sebuah masjid dibangun dengan bentuk mirip kelenteng karena misalnya berdiri di kampung yang sudah turun-temurun ditinggali warga China, yang kemudian menjadi Muslim.

Contohnya adalah masjid- masjid tua yang berdiri di Palembang. Menurut catatan harian Kompas, 17 Oktober 2005, ada empat masjid yang menyerap budaya China, di samping Jawa, Arab, Eropa, dan Palembang, yakni Masjid Muara Ogan (dibangun tahun 1889), Masjid Lawang Kidul (1881), Masjid Suro (1906), dan Masjid Sungai Lumpur.

Tak ketinggalan, Masjid Agung Palembang, yang peletakan batu pertamanya dilakukan pada 1738. Bentuk mustaka—kepala atap menara masjid—melengkung ke atas pada keempat ujungnya, menyerupai bentuk atap bangunan China (harian Kompas, 24 Desember 2000).

Sementara itu, di Cirebon ada Masjid Astana Gunung Jati, yang kerap kali tercium bau dupa. Masjid di Kompleks Makam Sunan Gunung Jati ini mengambil nama salah seorang Walisanga penyebar Islam di Jawa, Sunan Gunung Jati, yang dimakamkan di kompleks tersebut.

Di kompleks ini pula, seperti dituliskan dalam harian Kompas 10 November 1991, terdapat makam seorang putri China, Ong Tien, yang dikenal juga dengan nama Rara Sumanding, salah seorang istri Sunan Gunung Jati.

Tidak heran, bau dupa menyeruak karena makam itu juga didatangi peziarah China. Sementara itu, keunikan lainnya ada pada piring keramik kuno asal China yang dipajang di hampir di semua bagian kompleks pemakaman, lalu guci-guci kuno di serambi muka.

Bukan cuma Cheng Ho

Di Semarang, sejarah kedatangan Laksamana Cheng Ho di Nusantara menjadi cerita yang cukup umum. Pelaut yang merupakan seorang Muslim tersebut pada abad ke-14 berlabuh di sana setelah kapalnya terkena badai dalam pelayaran di pesisir utara Jawa.

Saat itu, ia memerintahkan pembangunan masjid. Namun, kemudian, karena bangunan tersebut khas arsitektur China dengan dominasi warna merah, warga keturunan Tionghoa di sekitar menganggapnya sebagai kelenteng (Sam Poo Kong), seperti dituliskan dalam harian Kompas, 9 Desember 2012.

masjid2

Patung Cheng Ho yang berdiri megah di depan kuilnya, di Klenteng Agung Sam Poo Kong. Karena nilai sejarahnya, klenteng tersebut dijadikan tempat wisata dan kerap dibanjiri wisatawan saat akhir pekan maupun perayaan-perayaan besar.

Meski demikian, jejak nuansa Islami masih ditemukan, antara lain berupa sebuah beduk besar di ruang utama.

Bentuk pengingat kehadiran Cheng Ho di Indonesia pun tidak hanya di Semarang. Sekian abad setelahnya, masjid dengan nama Cheng Ho dibuat di Surabaya, lalu pada 2008 dibangun di Palembang.

Untuk di Palembang, masjid yang terletak di Jakabaring itu dinamai " Masjid Al Islam Muhammad Cheng Ho". Masjid dengan menara berbentuk mirip pagoda ini dibangun atas prakarsa Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) yang dahulu dikenal sebagai Persatuan Islam Tionghoa Indonesia (Kompas, 23 Agustus 2008).

Menurut Ketua PITI Sumsel H Ahmad Affandi, bentuknya memang meniru bentuk masjid di China. Cheng Ho sendiri disebut berjasa menyebarkan agama Islam di Sumatera pada masa setelah Kerajaan Sriwijaya.

"Penyebaran agama Islam di China sendiri jauh lebih dulu daripada di Indonesia. Bahkan, China sudah dikenal sebagai pusat ilmu pengetahuan sehingga ada ungkapan tuntutlah ilmu sampai negeri China," kata Ahmad Affandi.

Di luar peran Cheng Ho, pembangunan sebuah masjid di Medan, Sumatera Utara, melibatkan kapitan China. Uniknya, masjid itu dinamai Masjid Lama Gang Bengkok.

"Dari dulu namanya Masjid Lama Gang Bengkok. Masjid tidak punya nama Arab," tutur Sekretaris Badan Kenaziran Masjid Lama Gang Bengkok Medan M Ihsan Tanjung (Kompas, 14 Agustus 2010).

Nama Gang Bengkok muncul karena masjid itu berdiri di pinggir gang yang bengkok. Atap masjid ini punya sisi-sisi melengkung khas arsitektur China, dengan ornamen Melayu bermotif lebah bergantung.

Masjid yang kini disebut bisa menampung 2.000 orang tersebut didirikan Kapitan China Tjong A Fie, salah satu pembangun Kota Medan, dan diperkirakan selesai dibangun pada 1885 saat pemerintahan Sultan Deli Makmun Arrasyid.

Diduga, arsitek pembangunan masjid itu sama dengan arsitek yang membangun rumah Tjong A Fie. Gaya itu terlihat dari pilar ruang utama masjid yang sama dengan pilar di rumah Tjong A Fie di Jalan Ahmad Yani.

Sementara itu, tanah tempat masjid berdiri adalah tanah wakaf dari Datuk Kesawan H Mohammad Ali.

Peran arsitek China

Bentuk ornamen oriental pada masjid adakalanya merupakan peran jasa arsitek dan pekerja China. Misalnya masjid di kawasan Pasar Lama Tangerang.

Masjid yang dibangun sekitar abad ke-18 dengan karakter "pagoda" yang disebut melambangkan keharmonisan antaretnis-budaya-agama ini melibatkan tukang yang didatangkan dari China.

Para pekerja itu juga membangun kelenteng dan ruko wilayah tersebut (Kompas, 18 Februari 2001).

Contoh lainnya adalah Masjid Agung Banten. Masjid ini kali pertama dibangun oleh Sultan Maulana Hasanuddin (1552-1570), sultan pertama Kasultanan Demak yang juga putra pertama Sunan Gunung Jati.

masjid3

Suasana Masjid Agung Banten jelang maghrib.

Rancangan bangunan utama masjid beratap tumpuk lima ini dipercayakan kepada arsitek China bernama Cek Ban Cut (Kompas, 2 Juni 2002).

Lalu, di Madura ada Masjid Agung Sumenep dengan gerbang berarsitektur China. Masjid megah ini dibangun pada masa pemerintahan Adipati Sumenep Pangeran Natakusuma I atau yang dikenal Panembahan Somala (1762-1811).

Pembangunannya berlangsung enam tahun sejak 1781 setelah Keraton Sumenep dibangun. Untuk membangun keraton dan masjid, menurut Kompas edisi 10 April 2010, Panembahan Somala menunjuk seorang etnis Tionghoa bernama Lauw Pia Ngo sebagai arsiteknya.

Lauw Pia Ngo adalah cucu Lauw Khun Thing, salah satu dari enam warga Tionghoa yang mula-mula datang dan menetap di Sumenep.

Masjid tua sumbangan warga China Muslim

Masjid- masjid tua di Jakarta tidak ketinggalan menjadi bagian contoh akulturasi mengingat wilayah Ibu Kota yang kerap disebut "melting point". Dua masjid di antaranya dibangun atas sumbangan warga China Muslim.

Salah satunya adalah Masjid Hidayatullah di Kuningan, Setiabudi, Jakarta Selatan. Masjid dengan dua menara serta atap tumpang yang tipikal bangunan berarsitek China ini berdiri di kawasan Karet yang dari dulu dihuni warga keturunan China, yang diduga masih kerabat Pak Teng-Sin, cikal bakal nama Karet Tengsin (Kompas, 19 November 1993).

Satu masjid lainnya adalah Masjid Angke yang memiliki nama resmi Masjid Al-Anwar. Masjid dengan nama "angke" yang dalam bahasa Tionghoa menurut sejarawan Perancis Denys Lombard berarti riviere qui deborde atau kali yang (sering) banjir ini terletak di Jakarta Barat.

Masjid yang dibangun pada 1761 tersebut didirikan oleh seorang wanita keturunan China Muslim dari Tartar yang bersuamikan orang Banten.

Langgam China dapat dilihat pada detail konstruksi balok sokong atap bangunan yang mengingatkan pada balok sokong bangunan China atau kelenteng (Kompas, 23 September 2001).

Komunitas Muslim Tionghoa

Hadirnya budaya China pada masjid juga tidak terlepas dari bertumbuhnya komunitas Muslim China di Indonesia.

Selain yayasan seperti Pembina Iman Tauhid Islam (PITI) yang mendirikan masjid Cheng Ho di Palembang, Komunitas Tionghoa Muslim memiliki masjid unik di Jalan Lau Tze, Jakarta Pusat.

Masjid yang merupakan gabungan dua rumah toko (ruko) yang didirikan Yayasan Haji Karim Oei itu sering kali hanya digunakan untuk shalat zuhur dan ashar.

Pasalnya, kegiatan masyarakat Tionghoa di kawasan itu memang ramai selama jam kerja (Kompas, 4 November 2004). Nama Haji Karim Oei sendiri merujuk pada tokoh Islam keturunan Tionghoa yang dekat dengan mendiang proklamator Soekarno dan Mohammad Hatta.

Ketua Yayasan Haji Karim Oei, Haji M Ali Karim Oei, mengatakan, masjid yang didirikan sejak 1991 itu memiliki beragam keunikan. Salah satunya sebagai pusat informasi dan dakwah di kawasan hunian serta bisnis masyarakat Tionghoa.

Bangunan Masjid Lau Tze sepintas dapat menipu mata jika tidak terdapat tulisan masjid. Di belakang mimbar digantung sepasang kaligrafi Arab ala Shu Fa atau kaligrafi Tionghoa asli buatan Beijing.

"Saat awal pembangunan, seorang encim sempat datang membawa beberapa batang hio untuk sembahyang di masjid ini karena dikira kelenteng," kata Ali Karim Oei.

Masjid dengan nama yang sama juga berdiri di Bandung ( Masjid Lautze 2). Ketua Dewan Keluarga Masjid (DKM) Lautze 2 Bandung Ku Khie Fung (Syarief Abdurrahman) menjelaskan, masjid yang berdiri tahun 1997 tersebut dibangun oleh Yayasan Haji Karim Oei untuk mengurangi diskriminasi terhadap kaum Tionghoa.

" Masjid ini dimaksudkan sebagai upaya asimilasi warga Tionghoa dengan pribumi," ujarnya seperti dikutip dari harian Kompas, 13 Februari 2010.

Di luar Masjid Lau Tze Jakarta dan Bandung, ada pula masjid di Salatiga, Jawa Tengah, yang merupakan bagian dari kompleks Pondok Pesantren Mutiara Hati Beriman.

Bagian atap masjid ini terlihat terdiri dari tiga tingkat dengan corak arsitektur Tionghoa. Warna bangunannya pun didominasi merah dan kuning.

"Islam itu kaya budaya. Masjid tidak berarti harus selalu berbentuk kubah. Masjid berarsitektur Tionghoa ini sama sekali tidak bermaksud eksklusif, tetapi sekadar rancang bangun," tutur Ketua Badan Pembina Yayasan Mutiara Hati Beriman Iskandar Abdurrahman (Kompas Jawa Tengah, Sabtu, 20 Juni 2009).

Menurut Iskandar atau juga dipanggil Chang I Pao, masjid yang disebut masjid "Arwana" alias Arab, Jawa, dan China itu diharapkan bisa mendewasakan umat, sekaligus membuat komunitas Tionghoa merasa dihargai dan merasakan Islam sebagai rahmat bagi semesta alam atau rahmatan lil 'alamin.(Juft/Sripo)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...