Apakah Kebenaran Itu Ada di Langit? Sebut Yusuf Chambers: Menjadi Muslim, Kutemukan Fitrah sebagai Manusia

KONFRONTASI -   Kenapa harus repot hidup di dunia bila manusia pasti masuk surga. Pemikiran kritis itu mengawali usaha Yusuf Chambers mengekplorasi hakikat kehidupan.

Pemikiran itu pula yang membawanya menghabiskan satu hari penuh tanpa bicara dengan siapa pun, dan menatap langit di malam hari seraya berkata, "Apakah kebenaran itu ada di langit."

Tak hanya sekedar bertanya, Chambers mulai membaca buku tentang astronomi. Harapannya, ia dapat mengetahui seberapa besar alam semesta.

Dari situ, ia sempat gemetar. Apa yang ia baca menandakan ada sebuah penciptaan besar yang menakjubkan telah terjadi sebelum dirinya lahir sebagai manusia.

Satu hari, ia memutuskan untuk menyambangi gereja. Pikirnya, gereja memiliki jawaban atas pertanyaannya. Sayang, niatan itu terhambat lantaran kepala gereja tengah sibuk, dan memintanya untuk membuat janji temu di lain hari.

Sehari setelahnya, ia dapat bertemu dengan pendeta tersebut. Pertama hal yang ia lihat adalah pendeta tersebut begitu sibuk dengan pena, kertas dan dering telepon tanpa henti.

Keterangan foto tidak tersedia.

Membuka percakapan, Chambers menuangkan seluruh pemikirannya. Namun, pendeta itu tidak memberikan jawaban yang memuaskan. Tapi melalui kebijaksanaannya, Chambers diminta untuk mencari tahu tentang setiap agama di dunia. "Pekerjaan saya hanyalah membuka dan menutup pintu gereja. Hanya itu pekerjaan saya," kata si pendeta.

 

Sejak itu, Yusuf Chambers mempelajari Buddha, Hindu, Kristen dan agama lain. Akan tetapi, tidak satu pun dari agama tersebut yang memuaskannya. Satu titik, ia mulai mendalami ilmu pengetahuan, mempelajari astronomi. Lagi-lagi, ilmu pengetahuan tidak dapat memberikan jawaban. Ilmu pengetahuan tidak mampu menjawab pertanyaan kemana manusia setelah mati dan mengapa manusia perlu hidup di dunia.

Satu waktu, Chambers berada di Malaysia, untuk bertemu dengan kekasihnya yang seorang Muslim. Saat itu, tengah masuk bulan suci Ramadhan. Tim tidak pernah tahu, bahwa tradisi yang dijalankan warga Muslim Malaysia adalah bagian dari ritual bulan suci. Ia terkejut ketika kekasihnya itu meminta dirinya untuk tidak mengunjunginya selama Ramadhan.

Dalam hatinya, Yusuf Chambers telah berjuang untuk mencari kebenaran. Melalui kekasihnya itu, ia berharap akan mendapatkan kemudahan dalam usaha menemukan kebenaran.

Nyatanya, harapannya itu tidak sesuai kenyataan. Ia merasa kesal, dan akhirnya ia terlibat pertengkaran hebat dengan kekasihnya itu.

Dari pertengkaran itu, Chambers mencoba mencari tahu tentang Islam yang dianggap membuat kekasihnya itu mengabaikannya.

"Saya diminta untuk tidak main-main mencari tahu tentang Islam hanya karena bertengkar dengan pasangan. Merasa kesal, saya langsung melamar kekasih saya, padahal saya tidak tahu bahwa untuk menikahi perempuan Muslim, saya harus memeluk Islam," tuturnya.

Semenjak pertengkaran hebat dengan sang kekasih, Yusuf Chambers mulai fokus dengan usahanya mencari kebenaran. Ia mulai belajar, berpuasa dan kadang shalat di masjid.

Ia belum menjadi Muslim karena belum terucap dua kalimat syahadat terucap dari bibirnya. "Tapi anda harus percaya, hanya dalam semalam pertanyaan besar itu akhirnya terjawab," ucapnya.

Kembali berada di London, ia terus membaca buku, berwudhu, shalat dan berdzikir. Rutinitas itu secara perlahan mulai menyempurnakan dirinya dalam mengamalkan ajaran Islam. Satu malam, ia pergi ke masjid. Di sana, ia mengikrakan diri memeluk Islam. Sekitar 300-400 orang menyaksikan momen tersebut.

Sejak itu, ia berusaha keras untuk menjadi Muslim yang kaffah. Ia sudah tahu, apa jawaban hakiki dari kehidupan sesuah kematian. Hatinya begitu damai dan tenang. Sebelum memeluk Islam, hatinya jauh dari kata puas. "Saya menemukan fitrahku sebagai manusia. Depresi saya hilang. Ketergantungan pada alkohol lenyap seketika," ungkapnya.

Selepas memeluk Islam, ia menikah dengan perempuan Maroko. Ia membangun keluarga kecil, meski sepanjang perjalanan kerikil cobaan kerap menghadang. Yang membahagiakan dirinya, keluarga besarnya melihat itu sebagai bagian dari fase kehidupan.

Saksikan videonya: https://www.youtube.com/watch?v=GQWmpgCxCtY

(Jft/Republika)

 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA