Tak Peduli HAM, Presiden Filipina Tetap Lanjutkan Kebijakan 'Tembak dan Bunuh' Penjahat Narkoba

KONFRONTASI-Presiden Filipina, Rodrigo Duterte, akan terus mempertahankan kebijakan kontroversialnya untuk menembak mati setiap penjahat narkoba meski banyak dihujani kritikan dan kecaman. Duterte bahkan mengaku tak peduli soal hak asasi manusia (HAM).

Laporan berbagai media lokal Filipina, seperti dilansir AFP, Sabtu (6/8/2016), sekitar 800 orang narkoba terbunuh  sejak Duterte menang pemilu pada Mei lalu. Selama kampanye, Duterte bersumpah akan membunuh puluhan ribu pelaku kriminal di Filipina.

"Kampanye 'tembak dan bunuh' ini akan tetap diberlakukan hingga hari terakhir saya menjabat, jika saya masih hidup hingga saat itu," tegas Duterte yang berusia 71 tahun ini dalam konferensi pers di kampung halamannya di Davao.

"Saya tidak peduli soal HAM, percaya dengan saya," imbuhnya, berdasarkan transkrip resmi yang dirilis Istana Kepresidenan Filipina pada Sabtu (6/8).

Duterte menyebut, pejabat pemerintahan yang memanfaatkan jabatannya untuk terlibat perdagangan narkoba, yang menghancurkan banyak kehidupan rakyat Filipina, ada di urutan pertama dalam daftarnya. Lebih lanjut, Duterte juga menawarkan jaminan resmi dan personal, kepada para tentara dan polisi Filipina, untuk mendapat kekebalan dari peradilan atas pembunuhan yang dilakukan mereka saat menjalankan tugas.

Badan Antinarkoba PBB, pekan ini, bergabung dengan organisasi HAM internasional dalam mengecam pembunuhan sembrono di bawah pemerintahan Duterte. "Kantor PBB untuk Urusan Narkoba dan Kejahatan Kriminal memiliki kekhawatiran besar atas laporan pembunuhan di luar hukum terhadap para tersangka pengedar dan pengguna narkoba di Filipina," demikian pernyataan Direktur Eksekutif Badan Antinarkoba PBB, Yury Fedotov.

"Saya bergabung bersama Sekjen PBB dalam mengecam pembunuhan di luar hukum, yang ilegal dan merupakan pelanggaran hak mendasar dan kebebasan," imbuhnya, merujuk pada kecaman keras Sekjen PBB Ban Ki-Moon pada Juni lalu.

"LSM-LSM mengadu kepada PBB, ini bukan urusan mereka. Saya menyatakan perang. Saya sekarang memberlakukan pasal perang," tegas Duterte.

Duterte juga menyatakan, dirinya tidak takut kebijakan kontroversialnya itu akan memicu pemakzulan maupun pelengseran dirinya. "Rakyat Filipina menangis memohon keadilan," tegasnya.

Disampaikan kepolisian Filipina, bahwa lebih dari 500 ribu orang telah menyerahkan diri kepada kantor polisi lokal dan berjanji berhenti memakai narkoba.[mr/dtk]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...