Peneliti Australia: Jokowi Kembali ke Akar Otoriter Indonesia, Merusak Perjuangan dan Kebebasan

SYDNEY- AUSTRALIA- Peneliti Australia menyebut Jokowi telah kembali pada otoriterisme di Indonesia, sangat merusak. Pada bab kesimpulan buku Man of Contradictions, peneliti Ben Bland dari Lowy Institute menyatakan: ''Yang kita tahu pasti, setelah enam tahun berada di istana presiden, dia (Jokowi) telah kembali ke akar otoriter Indonesia, mengikis kebebasan berbicara dan hak-hak minoritas, merusak perjuangan yang sangat penting melawan korupsi, dan meluncurkan dinasti politiknya yang baru lahir.''

"What we know for sure is that after just six years in the presidential palace, he has lurched back towards Indonesia’s authoritarian roots, eroding free speech and the rights of minorities, undermining the all-important fight against corruption, and launching his own nascent political dynasty." ungkap Ben.

Sepak terjang Presiden Joko Widodo/Jokowi dari pengusaha mebel menjadi pemimpin negara mengundang penelitian oleh peneliti di Australia. Hasil penelitian menyebut, Jokowi sebagai sosok kontradiksi. Jokowi juga disebut belum mencerminkan (belum berperan nyata)  sebagai presiden, pemimpin negara, tapi masih di level wali kota. Presiden Joko Widodo telah disebut sebagai sosok yang " kontradiksi", namun pengertian ini tidak selalu buruk.  Jokowi memang dalam sorotan dunia. Dalam bukunya, Ben Bland, Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute menyebutkan "setelah mengamati dari dekat, terlihat bahwa semakin lama Jokowi berada di istana [sebagai presiden], maka semakin pudar pula janji-janjinya."​

Ben Bland, Direktur Program Asia Tenggara di lembaga Lowy Institute menjelaskan hal tersebut kepada ABC Indonesia soal buku terbarunya berjudul 'Man of Contradictions - Joko Widodo and the Struggle to Remake Indonesia'.

Dalam 6 bab buku setebal 180 halaman ini, Ben memaparkan bagaimana "seorang pembuat mebel" berhasil menangkap imajinasi bangsa Indonesia tentang sosok pemimpin yang diidam-idamkan, namun juga penuh "kontradiksi".

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...