25 June 2019

Pemerintah AS akan Hentikan Siaran Radio VOA Indonesia

WASHINGTON DC, KONFRONTASI -- Pemerintah Amerika Serikat berencana menghentikan siaran radio Voice of America (VOA) Indonesia. Alasannya, siaran radio tersebut sepi peminat jika dibandingkan platform online atau digital.

Rencana pemangkasan itu tertuang dalam usulan anggaran tahun 2016 dari Broadcasting Board of Governor (BBG), induk dari VOA, kepada Kongress AS. "Radio VOA Indonesia akan dihentikan. Riset media di Indonesia menunjukkan bahwa televisi merupakan media utama, dan platform digital online semakin populer," demikian tulis BBG dalam dokumen usulan anggaran 2016 yang diakses dari website resminya, Jumat (10/3/2015).

Penghentian program siaran radio Indonesia itu merupakan bagian dari pemotongan anggaran yang dilakukan BBG sebesar US$15,6 juta, yang mana sepertiganya atau US$5,8 juta merupakan pemangkasan anggaran VOA. Secara keseluruhan, anggaran untuk VOA sendiri mencapai US$212,5 juta pada tahun 2015.

Menurut survei BBG yang diakukan oleh Gallup pada bulan Februari-April 2014, pendengar radio VOA hanya 1,8 persen, atau sepersepuluh dari jumlah penonton televisinya yang mencapai 18,5 persen. Oleh karena itu, meski siaran radio dihentikan, siaran televisi akan terus jalan dengan frekuensi 3,83 jam seminggu.

"Indonesia tetap menjadi prioritas dalam kebijakan luar negeri dan siaran. Sumber daya yang ada akan dipindahkan dari radio ke televisi dan media online," tulis BBG.

VOA merupakan perangkat AS dalam menjalankan strategy soft power dalam kebijakan luar negeri dan diplomasi publik. Salah satu misinya adalah mendorong terjaganya tatanan internasional dan memajukan kebijakan AS di Asia Pasifik melalui peningkatan kesadaran dan keterlibatan publik.

Di antara isu yang menjadi perhatian VOA adalah perselisihan di Laut Tiongkok Selatan, di mana Tiongkok berselisih dengan beberapa negara di kawasan mengenai batas wilayah laut.

VOA disiarkan dalam sekitar 45 bahasa yang berbeda, dan salah satunya yang paling tua adalah Indonesia. Dalam usulan pemangkasan anggaran 2016, selain Indonesia ada siaran lain yang diusulkan ditutup, yaitu Laos dan Afrika Tengah. Sementara sebagian lagi mengalami pengurangan jam siar seperti Afghanistan dan Zimbabwe.

Di Indonesia, konten radio VOA disiarkan oleh tak kurang dari 250 afiliasi yang tersebar di seluruh nusantara. Rencana penghentian itu mengundang reaksi dari banyak pihak. Menurut sumber di VOA, banyak radio afiliasi yang memprotes kebijakan tersebut, dan dari mereka ada yang sudah berniat untuk mempertanyakannya ke Kedutaan Besar AS di Jakarta.

"Hak publik untuk memperoleh informasi secara bebas dan cuma-cuma secara langsung dari sumbernya dikebiri. Apalagi alasan penutupan ini hanya karena survei Gallup yang dinilai tidak obyektif karena hanya dilakukan di kota-kota tertentu," ujar sumber tersebut.

Bila usulan anggaran itu disetujui Kongres, per 1 Oktober 2015 akan sudah berlaku. Dampaknya, 16 pegawai dari total 23 pegawai di siaran radio VOA terancam kehilangan pekerjaan.  (Dtc/zip)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...