18 October 2019

Pakistan Cabut Moratorium Hukuman Mati

KONFRONTASI-Pakistan mencabut moratoriumnya mengenai hukuman mati dalam semua perkara besar, kata para pejabat pada Selasa, setelah memulai eksekusi bagi pelanggaran terorisme menyusul pembunuhan massal di satu sekolah oleh Taliban.

Kementerian Dalam Negeri Pakistan telah memberikan arahan kepada pemerintah-pemerintah provinsi untuk memproses hukuman gantung bagi narapidana yang permohonan pengampunannya ditolak kata seorang pejabat kementerian itu kepada kantor berita AFP.

Seorang pejabat pemerintah membenarkan berita tersebut.

Pakistan telah menggantung 24 terdakwa sejak memulai kembali eksekusi pada Desember setelah militan Taliban membunuh lebih 150 orang, sebagian besar anak-anak, di satu sekolah di bagian baratlaut negara itu.

Pencabutan sebagian dari moratorium tersebut hanya berlaku atas para pelanggar terorisme tetapi para pejabat mengatakan hal itu telah diperluas.

"Pemerintah telah mencabut moratorium mengenai hukuman mati," kata seorang pejabat senior kementerian itu kepada AFP.

"Kementerian Dalam Negeri telah memberikan arahan kepada pemerintah-pemerintah provinsi untuk mempercepat eksekusi semua narapidana yang permohonan pengampunannya telah ditolak oleh presiden." Hingga dimulainya kembali Desember, tak ada hukuman gantung sipil di Pakistan dilakukan sejak 2008.

Hanya satu orang dieksekusi pada waktu itu -- seorang serdadu yang dinyatakan bersalah oleh mahkamah militer dan digantung pada November 2012.

Menteri Dalam Negeri Provinsi Baluchistan, Akbar Hussain Durrani, membenarkan pemerintah telah mengeluarkan instruksi untuk memulai kembali eksekusi.

"Kami telah menerima sepucuk surat dari pemerintah federal yang meminta untuk mempercepat semua kasus hukuman mati bagi eksekusi yang permohonan pengampunannya ditolak," kata dia di Quetta, ibu kota provinsi itu.

Amnesty Internasional memperkirakan lebih 8.000 orang menunggu giliran untuk dieksekusi. Sebagian di antara mereka telah mengajukan permohonan pengampunan tapi ditolak.

Para pendukung hukuman mati di Pakistan berpendapat bahwa inilah satu-satunya cara efektif untuk mengatasi meingkatkanya militansi.

Sistem pengadilan terkenal berjalan lamban. Perkara-perkara sering disidangkan selama bertahun-tahun, dan ada ketergantungan besar pada pengakuan saksi mata dan sedikit perlindungan bagi hakim dan jaksa.

Ini berarti kasus-kasus teror sulit diputuskan sementara para ektrimis dapat mengintimidasi para saksi mata dan pengacara supaya membatalkan tuduhan-tuduhan.

Kelompok-kelompok hak asasi manusia dan Uni Eropa bersikap kritis terhadap dimulainya kembali eksekusi.[mr/rol]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...