23 July 2018

Otoritas Pemerintah Rusia Ungkap Kekejaman Josef Stalin

KONFRONTASI -  Rusia mempublikasikan sebuah dokumen yang membuktikan bahwa mantan pemimpin mereka, Josef Stalin, secara pribadi menandatangani surat perintah pembunuhan terhadap kalangan terkemuka Polandia semasa Perang Dunia II. Saat itu Rusia merupakan negara raksasa bernama Uni Soviet.

Seperti dikutip dari laman harian Sydney Morning Herald, Jumat 30 April 2010, pembunuhan massal 1940, yang disebut pembantaian Katyn, dilakukan terhadap hampir 22.000 warga Polandia, yang dianggap sebagai "borjuis." Mereka terdiri dari pejabat militer, pendeta, penulis, profesor, dan aristokrat.

Sejak 1992, pemerintah Rusia telah mengizinkan beberapa peneliti melihat dokumen rahasia. Namun baru Kamis kemarin publik diperbolehkan mengakses dokumen, yang dulu sangat dijaga kerahasiaannya semasa rezim Soviet.

Publikasi tersebut mengakhiri debat selama bertahun-tahun mengenai benar-tidaknya perintah pembunuhan oleh Stalin. Selama ini, para pengagum Stalin, Stalinist, mengklaim bahwa idola mereka tidak pernah secara pribadi mengesahkan pembunuhan tersebut.

Berkas-berkas dokumen tersebut berupa katalog atas keputusan-keputusan yang kemudian berujung pada Stalin dan para asistennya, yang mengesahkan eksekusi terhadap 21.587 tentara cadangan Polandia.

Pembantaian dilaksanakan oleh Polisi Rahasia Soviet, NKVD, di tiga lokasi, tetapi hanya satu lokasi, yakni Hutan  Katyn di barat Rusia, yang menjadi istilah bagi salah satu pembantaian paling terkenal pada Perang Dunia II.

Dalam dokumen tersebut terdapat sebuah catatan dari kepala NKVD, Lavrenty Beria, untuk Stalin terkait nasib orang-orang Polandia yang akan dibantai. Beria, dalam catatan tersebut, mengusulkan bahwa NKVD akan melakukan hukuman paling berat, yakni mati ditembak. Tanda tangan Stalin dan cap berwarna merah bertuliskan 'top secret' berada di halaman pertama dokumen tertanggal Maret 1940 tersebut.

Keputusan oleh Presiden Dmitry Medvedev untuk mempublikasikan dokumen tersebut dipandang sebagai tindakan bersahabat, meski simbolis, bagi Polandia yang selama berpuluh tahun mendesak agar kenyataan tersebut diungkapkan.Publikasi dilakukan beberapa pekan setelah presiden Polandia, Lech Kaczynski, dan 95 orang Polandia tewas dalam kecelakaan pesawat saat akan menghadiri upacara peringatan pembantaian Katyn di Rusia.(Jft/Viva)

Category: 
Loading...