Obama: Para Pemimpin Muslim Harus Lawan Gerakan yang Tunggangi Islam

KONFRONTASI-Para pemimpin dan tokoh dunia diminta untuk melawan gerakan yang menunggangi Islam dan ideologi yang meradikalisasi orang.

Seruan itu disampaikan Presiden Amerika Serikat, Barrack Obama dalam sebuah konferensi ekstrimisme yang diwakili 60 perwakilan negara dunia, melansir BBC, Kamis, 19 Februari 2015.

Pertemuan tersebut dilangsungkan berkaitan dengan rangkaian insiden ekstrimisme yang belakangan melanda Amerika dan Eropa. Di Benua Biru telah terjadi penembekan brutal di Prancis dan Denmark.
 
Presiden Obama menegaskan kelompok ISIS bukanlah pemimpin agama melainkan teroris. "Para teroris ini adalah ancaman utama, khususnya bagi masyarakat yang menjadi target mereka," kata Obama.

Ia menegaskan perlawanan terhadap teroris tidak hanya bisa dilakukan dengan kekuatan militer dunia saja. Untuk itu ia mendorong dunia turut melawan gerakan ekstrimis tersebut.

Para pemimpin muslim, kata Obama, perlu berbuat lebih untuk melawan gagasan yang ingin menunggangi Islam.

Namun para pengkritik Obama menyesalkan kenapa penerus George W. Bush itu tak menyematkan Islam radikal pada gerakan yang telah terkenal sadis itu.

Menanggapi kritikan itu, Obama berdalih gerakan teroris tidak layak untuk mengatasnamakan agama.

Dalam kesempatan tersebut, Obama menegaskan fokus konferensi itu adalah adalah pencegahan gerakan radikal dan esktrimis.

Guna mewujudkan upaya tersebut, Obama gencar menggalang dukungan dari semua pihak, mulai masyarakat yang terdekat dengan dampak ISIS dan Al Qaeda hingga pengusaha eksekutif teknologi dunia yang bermarkas di Silicon Valley.

Semua itu demi melawan gerakan ekstrimis yang kerap menggunakan platform online sebagai penyebar propaganda.

Obama juga mengingatkan gerakan radikal bisa tumbuh matang dengan strategi kekerasan yang disebarkan ISIS. ia yakin umat muslim di seluruh dunia tidak semuanya sepakat dengan jalan yang ditempuh oleh ISIS.

"(Taktik kekerasan) membuat individu makin matang untuk radikalisasi," jelas Obama.

Sebagaimana diketahui belakangan ini negara Eropa dan Amerika mendapat serangan brutal. Januari lalu, Prancis berduka dalam tragedi Charlie Hebdo. Sementara akhir pekan lalu serangan juga muncul di Kopenhagen, Denmark.

Sementara di North Carolina, juga terjadi pembunuhan terhada tiga mahasiswi muslim. Di Kanada, juga pada Oktober lalu, juga terjadi serangan yang menewaskan tentara. [mr/vns]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...