15 August 2018

Misi Arab Saudi Kirim Pasukan ke Suriah Dukung ISIS

KONFRONTASI - Anggota parlemen Irak mengatakan, satu-satunya tujuan Arab Saudi dan Uni Emirat Arab (UEA) mengirim pasukan ke Suriah adalah untuk mendukung ISIS.

Kantor berita IRNA melaporkan, Iskandar Watout, anggota Komisi Pertahanan Parlemen Irak pada Selasa (9/2/2016), menuturkan bahwa keputusan Saudi dan UEA untuk menerjunkan pasukan darat ke Suriah akan menyingkap cadar dari negara-negara pendukung teroris, karena mereka adalah pendukung utama kejahatan ISIS.

“Dunia mengetahui bahwa Arab Saudi, UEA, Qatar dan Turki telah mengacaukan kawasan dengan memberi dukungan langsung kepada kelompok-kelompok teroris,” tegasnya.

Sebelumnya, Penasihat Menteri Pertahanan Arab Saudi, Brigadir Jenderal Ahmed Asseri mengatakan Riyadh siap melakukan operasi darat di Suriah. Pemerintah UEA juga menyambut rencana itu dan menyatakan kesiapan untuk bergabung dengan Al Saud.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Adel al-Jubeir, setelah bertemu dengan mitranya dari AS, John Kerry, di Washington, mengklaim bahwa Arab Saudi merupakan bagian dari koalisi anti-ISIS dan memerangi terorisme.

Al-Jubeir pada Senin (8/2) menjelaskan bahwa Arab Saudi bersama sekutunya sedang berusaha memberikan dukungan lebih besar kepada oposisi Suriah dan mengatakan, Riyadh siap mengirim pasukan darat ke Suriah, karena Arab Saudi adalah bagian dari koalisi anti-ISIS.

Sementara itu, John Kerry dalam konferensi pers bersama al-Jubeir, juga mengapresiasi Raja Arab Saudi, Salman bin Abdulaziz, karena telah berkeinginan memerangi ISIS di Suriah. Kerry juga mengklaim bahwa Arab Saudi sangat berhasrat mewujudkan perdamaian di Timur Tengah.

Arab Saudi, Amerika Serikat dan Turki, merupakan faktor utama berlanjutnya krisis Suriah dan perluasan instabilitas regional. Para penentang Presiden Suriah, Bashar al-Assad, sejak tahun 2011 menggunakan terorisme sebagai sarana untuk menggulingkan Assad dari kekuasaan.

Front Arab-Barat pimpinan Arab Saudi dan AS, telah sekitar lima tahun menggunakan berbagai macam cara untuk melengserkan Assad namun gagal dan sekarang mereka menggunakan intrik perundingan damai untuk mengacu tujuan yang sama.

Dukungan finansial dan persenjataan kepada berbagai kelompok teroris di Suriah, serta banjir kombatan dari berbagai wilayah dunia ke Suriah, telah membuat seluruh kawasan menghadapi ancaman terorisme. Para penjagal ISIS yang memiliki ideologi Wahabi-Takfiri dari Arab Saudi, didukung secara finansial oleh Riyadh dan mendapat pelindungan dari Amerika Serikat, Turki dan sejumlah rezim regional.

ISIS dengan mudah merelokasi minyak curian dari Suriah dan Irak menuju Turki untuk kemudian dijual ke Israel. Detak denyut nadi terorisme ISIS, bergantung pada kerjasama dan politik kobar api Arab Saudi, Turki dan Amerika Serikat. Adapun klaim negara-negara tersebut memerangi terorisme ISIS, adalah dalam rangka mempersiapkan opini publik dunia untuk menggulingkan pemerintahan sah Presiden Suriah, Bashar al-Assad.

Interferensi dalam proses perundingan damai Suriah yang digelar pekan lalu di Jenewa, yang pada tahap awal membentur jalan buntu, pada hakikatnya juga bagian dari pembagian kerja antara para pendukung kelompok-kelompok teroris di Suriah.

Pemaksaan Arab Saudi dan Turki untuk melibatkan para gembong teroris dalam perundingan damai Suriah di Jenewa, jelas kontras dengan asas perundingan dan pada intinya bertentangan dengan niat Riyadh dan Ankara sebagai pengklaim anti-ISIS.

Dukungan untuk sebagian teroris dan pemberantasan sebagian kelompok teroris, adalah politik terkini Arab Saudi dan Amerika Serikat untuk mengakhiri Bashar al-Assad. Pengumuman kesiapan Arab Saudi untuk mengirim pasukan darat ke Suriah dan dukungan AS dalam hal ini juga mengacu politik yang sama.

Pengumuman kesiapan Arab Saudi untuk mengirim pasukan darat ke Suriah, gerak-gerik baru Turki di dekat perbatasan dengan Suriah, serta sambutan Amerika Serikat terhadap Adel al-Jubeir, itu semua terjadi setelah militer Suriah dengan kerjasama kelompok muawama, berhasil membuat kelompok-kelompok bersenjata dukungan Turki dan Arab Saudi di Aleppo, terdesak.

Reaksi Arab Saudi dan kemenangan militer Suriah di medan perang, jelas saling bertentangan dan klaim terbaru Saudi dalam rangka mengubah kondisi yang ada sesuai dengan target awal Riyadh. [irb/ian]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...