Memalukan, Amerika Ditolak Mentah-mentah Oleh Negara Tetangga Indonesia untuk Dirikan Pangkalan Militer di Sekitar Perairan Natuna, Ini Sebabnya, 'Mungkin Mereka Melatih Cara Berpikir'

KONFRONTASI -    Analis maritim Asia telah dibuat geger dengan proposal Washington mendirikan pangkalan militer di Singapura, negara tetangga Indonesia.

Banyak yang tidak habis pikir dengan gagasan Amerika tersebut.

Para ahli tersebut menyebutnya sebagai 'balon percobaan' yang dilakukan oleh administrasi Trump, satu hal yang justru dianggap mereka gagal total ke depannya.

Hal ini karena proposal itu tidak akan mendapat dukungan dari negara-negara Asia, atau ditindaklanjuti oleh Joe Biden di pemerintahannya selanjutnya.

Lantas apa penyebab negara Asia tidak suka dengan pendekatan AS ini, jika negara Asia juga memerlukan AS untuk menangkal kekuatan China yang terus tumbuh di Asia-Pasifik?

Tentunya secara logis menempatkan musuh China di tempat strategis menjadi salah satu cara yang bisa menangkal kekuatan China menguasai perairan strategis Laut China Selatan.

Namun rupanya, bagi para pakar, keberadaan pangkalan militer AS permanen di wilayah itu justru membuat suasana semakin kacau.

Keberadaan pangkalan militer misal di Singapura atau di Natuna justru akan sebabkan Beijing lebih marah.

Pangkalan militer milik Amerika Serikat di Okinawa, Jepang

Dampak ini dapat sebabkan masalah yang jauh dari yang bisa dihadapi oleh pemerintah negara-negara tersebut.

Sementara itu, Menteri Pertahanan Singapura mengatakan kepada This Week in Asia bahwa tidak ada pembicaraan terbaru dengan AS mengenai pengiriman kapal perang tambahan ke sana.

Bagi Singapura, mereka akan dicap tidak memahami aturan dan tindakan mereka mengizinkan didirikannya pangkalan militer bagi AS secara permanen akan dianggap tidak dapat diterima oleh banyak pihak.

Sehingga Singapura saat ini sedang mengupayakan menangkal kesan jika mereka berada dalam persekutuan, seperti ahli keamanan regional Singapura, Collin Koh.

"Saya yakin pemerintahan Biden akan lakukan penanganan lebih berhati-hati untuk tidak menyinggung politik regional dan lebih berhati-hati mengulas proposal itu dengan sekutu dan mitra AS, jika tidak membatalkan rencana itu langsung pada Januari mendatang," ujarnya.

Sementara itu Olli Pekka Suorsa, rekan Koh di S. Rajaratnam School of International Studies (RSIS) mengatakan ia melihat proposal itu sebagai sesuatu yang hanya "latihan pemikiran" sebagai sinyal dari AS kepada Beijing untuk tunjukkan niat mereka bersaing dengan China.

Analis lain seperti John Bradford, yang juga analis di RSIS, tunjukkan bahwa dari sudut pandang Angkatan Laut AS, ada keuntungan memiliki pangkalan militer di wilayah itu.

Pasalnya, pangkalan militer mereka di Jepang sudah kewalahan dan menangani terlalu banyak pekerjaan.

Persimpangan jalur maritim

Sekretaris Angkatan Laut AS Kenneth Braithwaite mengusulkan pembuatan pangkalan militer baru di "persimpangan antara Samudra Hindia dan Pasifik" dalam simposium Selasa kemarin.

"Kita tidak bisa hanya mengandalkan pangkalan militer di Jepang," ujarnya dilansir dari USNI News.

"Kita harus mendekat kepada sekutu kita yang lain seperti Singapura, India, dan menempatkan beberapa kapal di sana yang akan relevan jika pahit-pahitnya kita harus mengalami peperangan."

Ia kemudian berkata, "lebih penting lagi, itu bisa menyediakan lebih banyak pertahanan. Sehingga kita akan membuat pangkalan militer baru dan kita akan meletakkannya, jika tidak di Singapura, maka di tempat lain yang lebih strategis di seberang Pasifik sampai sekutu dan mitra kita melihat itu bisa membantu mereka sembari membantu militer kita."

Usulan ini belum dibahasnya bersama pelaksana Menteri Pertahanan Amerika Serikat yang baru, Christopher Miller, tapi sudah ia bahas dengan mantan bos Pentagon yang dipecat Donald Trump minggu lalu, Mark Esper.

Braithwaite tidak menyediakan detail lebih lanjut mengenai betapa besar pangkalan militer yang rencana akan dibangun di Singapura tersebut, atau apakah kapal dari pangkalan militer lain akan dikirim ke pangkalan militer tersebut.

Belum ada juga rincian mengenai pengoperasian membagi dengan pangkalan militer AS lain di wilayah Asia-Pasifik.Juru bicara Angkatan Laut AS secara berulang mengatakan kepada media "belum ada keputusan yang dibuat mengenai kapan dibuat atau lokasi pangkalan militer baru di Indo-Pasifik."

Pangkalan militer AS di Yokosuka, Jepang, mencakup 48 juta mil persegi dari garis Internasional Date Line di pertengahan Samudra Pasifik sampai perbatasan Pakistan-India di Samudra Hindia.

Sementara pangkalan militer di Bahrain mencakup wilayah Timur Tengah dan sebelah barat Samudra Hindia.

Wilayah-wilayah tersebut adalah tempat beroperasi kapal-kapal dan pasukan yang ditempatkan di pangkalan militer tersebut.

Rencana Braithwaite dianggap banyak analis dari Singapura kurang persiapan.

Perbandingannya adalah dengan permintaan lain dari administrasi Trump, salah satunya usulan Mark Esper Agustus tahun lalu untuk meluncurkan misil jarak menengah di Asia.

Rencana itu dianggap terlalu jauh dari kenyataan, bahkan sekutu setia AS seperti Jepang atau Korea Selatan pastinya tidak ingin untuk menggelar fasilitas rudal.

Ada alasan lain mengapa kemungkinan Singapura menjadi pangkalan militer sangat tidak mungkin. (jft/SOSOK.ID)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...