Masyarakat Dunia mengalami kebangkitan Agama-Agama setelah maraknya pandemi Corona.

KONFRONTASI-  Masyarakat di berbagai belahan dunia mengalami kebangkitan agama-agama setelah maraknya pandemi Covid-19/Corona. Namun demikian kebangkitan agama yang substansial  yang justru  diharapkan, bukan kebangkitan ritual atau ceremonial agama yang sekedar simbol-simbol belaka. Kebangkitan agama yang mencerahkan dan mencerdaskan ummat manusia dengan fokus kasih sayang, kemanusiaan dan keadilan serta kebenaran hakiki, bakal mengubah wajah dunia yang sangat materialistis menjadi spiritualistis.

Demikian benang merah  pandangan para panelis dalam webinar internasional yang diselenggarakan oleh civitas academica Universitas Malikussaleh Aceh, Universitas Paramadina  dan Universitas Leiden, Belanda, dalam webinar internasional bertema Kebangkitan Agama-Agama setelah Meruaknya Corona, Sabtu (29/6/20). Berbicara dalam  forum akademik yang bebas dan rileks itu antara lain  Sofiah Agustina (Universitas  Islam Netherlands)  Al Chaidar (Universitas Leiden), Dr Taufik Hidayat dan Herdi Sahrasad (Universitas Paramadina), Hasanudin Siddik, Lutfi Nugraha, Iman Santosa, dan Arif Rahman Hakim (Universitas Paramadina), Dr Rasyidin MA (Universitas Malikussaleh) dan  para partisipan dari Surabaya dan Tangerang.

Di China Tiongkok  warga yang lokasinya dekat dengan Wuhan, tempat penyebaran epidemi virus corona kini lebih bersemangat untuk pergi ke tempat-tempat ibadah seperti masjid dan gereja. Di Eropa Barat dan Timur, hal yang sama juga terjadi, juga di Asia dimana ummat Hindhu, Buddha, Islam, Kristiani dan kepercayaan lokal, makin menguat di kalangan masyarakat yang dilanda Corona. Di Malaysia dan Singapura, Wabah virus corona juga semakin meningkatkan kepercayaan bahwa kelompok-kelompok berbasis agama memberikan alternatif terhadap korupsi yang telah menjangkiti pemerintah.

Para panelis itu mengungkapkan, Masyarakat dunia juga disajikan tontonan praktik “kambing hitam” atau saling menyalahkan, khususnya antara Amerika Serikat (AS) dan Tiongkok sementara pada saat yang sama para korban Corona berjatuhan, terbaring atau tewas di mana-mana. Perang asimetris atau perang biologis China-AS menjadi sorotan dunia internasional terkait pandemi Corona yang datang awal dari Wuhan itu.

Para panelis juga melihat, sementara kalangan teroris atau radikalis yang sangat frustasi terhadap penguasa, menggunakan Corona sebagai tentara Tuhan yang harus digayung bersambut untuk melancarkan serangan aksi melawan thogut-thogut Neoliberalisme, demokrasi dan kapitalisme/Komunisme.

Sejauh ini, Pandemi Corona telah menyengsarakan masyarakat di seluruh dunia, namun di Eropa, sebagian masyarakat justru menjadi lebih menoleh kembali kepada spiritualitas, dan agama, dimana banyak orang kemudian sadar bahwa kehidupan ini fana dan mudah lenyap oleh pandemi Corona yang tak disangka dan dinyana sebelumnya. Suara kemanusian kembali bergema agar bangsa-bangsa di dunia  untuk berjuang bersama mengatasi Corona.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA