21 November 2017

Lari dari Gerombolan Teroris, Wanita Ini Sebut ISIS Tak Sesuai Ajaran Nabi Muhammad dan Alquran

KONFRONTASI -  Seorang wanita yang berhasil melepaskan diri dari cengkeraman kelompok Islamic State atau ISIS bercerita pengalaman buruknya selama tinggal di wilayah yang selama ini dikenal sebagai “kekhalifahan” ISIS. Dia melarikan diri setelah kecewa karena ISIS tak sesuai dengan ajaran Islam.

Wanita ini memperkenalkan diri dengan nama pendek Khadijah. Dia dari Kota Tunis, Tunisia, ke Suriah.

Khadijah yang sudah tiga tahun tinggal di Raqqa—yang diklaim ISIS sebagai ibu kotanya—mengatakan kepada Russia Today bahwa dia melihat banyak kekejaman dan ketidakadilan. Menurutnya, tidak ada upaya nyata di kelompok ISIS untuk menjalankan hukum Syariah Islam.

”Suami saya dan saya membuat kesalahan besar dengan datang ke sana. Dan saya menyarankan agar Anda tidak mempercayai orang-orang yang mengatakan bahwa ISIS adalah negara Islam, yang mengajarkan Islam dan Syariah serta hidup sesuai dengan ajaran Nabi Muhammad dan Alquran,” kata Khadijah.

Selama tinggal di Raqqa, dia mencatat bahwa para militan ISIS tidak mentolerir perbedaan pendapat dan pertentangan dengan pemerintahan mereka.

”Semua orang yang menentang mereka, dipenggal kepalanya. Dan orang-orang tidak tahu kapan ini akan terjadi,” ujarnya.

”Mereka tidak berada di jalan yang benar. Inilah keadaan tirani dan setan. Suami saya meninggalkan mereka (ISIS), dan menyuruh saya untuk melakukan hal yang sama,” lanjut Khadijah. Dia dan suaminya melarikan diri dari Raqqa berjalan ke arah selatan ke Kota al-Mayadeen dan kemudian ke Turki.

Tapi, sebelum dia berhasil melarikan diri, wanita muda ini telah menyaksikan sisi tergelap ISIS, di mana kehidupan orang-orang di kelompok itu, khususnya wanita dan anak-anak sangat rentan.

”Ada banyak kejahatan di tempat tinggal perempuan. Anak-anak menderita kudis, kutu. Saat anak sakit, mereka tidak mendapat perawatan di rumah sakit,” kata Khadijah.

Jika wanita ditemukan melanggar kode etik yang ketat, yang dipaksakan oleh ISIS, mereka dikurung di penjara seperti fasilitas penahanan oleh pengawas wanita, yang bertanggung jawab atas ”asrama wanita”.

”Sangat memuakkan untuk berada di sana,” ucap Khadijah yang menceritakan kisah-kisah wanita dalam persalinan yang mencari pertolongan tapi tidak ada yang peduli. Wanita di sana dipaksa melahirkan bayi di tempat.

Bahkan, kata Khadijah, ada seorang wanita yang berdarah sampai meninggal saat persalinan setelah superintendent (pengawas) menolak untuk membantunya.

”Wanita malang itu pergi ke kebun, sambil mengalami pendarahan hebat, tinggal di sana sampai pagi dalam cuaca hujan dan dingin. Tidak ada yang memperhatikannya. Dan pada pagi hari suaminya datang, melihat tubuhnya terbaring di kebun dan lewat, tanpa memperhatikan, karena tidak ada yang terjadi, seolah-olah (korban) adalah seekor anjing,” tutur Khadijah. Dalam kasus lain, ada seorang wanita yang menjadi lumpuh setelah permohonannya untuk dikirim ke rumah sakit ditolak meski dia mengatakan bahwa kakinya membusuk.

Khadijah juga membenarkan ulah para militan ISIS yang menjadikan wanita yang bukan istrinya sebagai budak seks. Menurutnya, wanita yang bukan budak seks tidak mengalami apa yang disebut sebagai ”jihad seks”.

”Anda pergi ke balai kota dan menikah. Jika Anda sudah menikah dan suami terbunuh, Anda akan  menikah dengan pria lain,” katanya. Cerita yang sama sekali berbeda adalah, bagaimanapun, ketika seorang wanita yang ditangkap atau tawanan dan berubah menjadi budak seks.

Sebagai budak seks, seorang wanita dianggap sebagai milik pemiliknya, untuk melakukan apa yang dia suka, seperti, dijual atau diberikan sebagai hadiah.

”Istri dan wanita lainnya tinggal terpisah. Dia (militan ISIS) tinggal bersama mereka secara bergiliran, suatu hari dengan satu wanita, dan beberapa hari dengan yang lain,” ujar Khadijah, yang mencatat bahwa meskipun istri mereka terhormat, tapi terkadang iri pada wanita budak Yazidi.

”Banyak pria mencintai gadis Yazidi lebih dari istri mereka,” katanya.

Nur Al-Khouda, 20, wanita yang berasal dari Tripoli, Libanon, mengatakan bahwa suaminya pertama kali bergabung dengan kelompok Salafi dimana dia diindoktrinasi dengan ideologi ISIS dan berangkat ke Suriah.

”Dia meyakinkan saya bahwa tidak ada yang buruk di sana dan saya mempercayainya sebagai istri, jadi saya mengatur semua dokumen dan saya bergabung dengannya di Suriah,” kata wanita muda ini kepada Russia Today, yang dilansir Sabtu (15/7/2017) malam.

Perdagangan budak, kata dia, adalah pasar yang sedang booming di ISIS.

”Mereka menaruh banyak perhatian pada penampilan wanita. Mereka membeli make up untuk menjualnya seharga USD15.000, perawan diberi harga USD30.000,” ujar Al-Khouda.(Juft/Snd0)

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...