Korut Dikabarkan Hukum Mati Wakil Perdana Menteri

Konfrontasi - Wakil kepala kabinet Korea Utara Choe Yong Gun dihukum mati karena mengkritik sejumlah kebijakan pemimpin tertinggi Kim Jong-Un, kata kantor berita Korea Selatan Yonhap pada Rabu (12/8).

Kepala kabinet adalah jabatan setara perdana menteri dalam tata pemerintahan parlementer Korea Utara dan membawahkan urusan administrasi pemerintahan.

Choe, yang menjabat wakil kepala kabinet sejak Juni 2014, harus menghadapi regu tembak pada Maret setelah menentang kebijakan Kim di bidang kehutanan, kata Yonhap mengutip sumber "yang mengetahui Korea Utara".

Choe terakhir kali terlihat di depan media Korea Utara pada Desember dalam upacara peringatan kematian mantan pemimpin tertinggi Kim Jong-Il, kata keterangan kementerian penyatuan Korea Selatan pada Rabu.

Seoul "memantau saksama kemungkinan perubahan terkait nasib Choe", kata kementerian untuk urusan hubungan dua Korea tersebut.

Jika kabar kematian Choe betul, maka Korea Utara pada tahun ini menghukum mati dua pejabat tinggi negara. Sebelumnya, Menteri Pertahanan Hyon Yong-Chol juga dikabarkan harus menyerahkan nyawanya pada April akibat tuduhan pembangkangan dan mengantuk saat parade militer.

Menurut sejumlah laporan media massa, Korea Utara mengeksekusi Hyon dengan tembakan anti-pesawat tempur. Eksekusi kejam tersebut dilakukan hanya bagi pejabat senior dengan tujuan menakuti pejabat lain yang hendak membangkang.

Korea Utara sendiri hingga kini belum membenarkan eksekusi mati terhadap Hyon--laporan pertama muncul pada Mei dari badan intelejen Korea Selatan. Namun demikian, negara tersebut telah mengumumkan pengganti Hyon, Park Yong Sik, pada Juli.

Badan intelijen Korea Selatan pada Mei juga menyatakan Kim telah menghukum mati puluhan pejabat --termasuk pamannya-- sejak berkuasa pasca-kematian ayahnya pada Desember 2011.

Pyongyang pada Desember 2013 secara terbuka mengumumkan hukuman mati terhadap paman pemimpin tertinggi, Jang Song-Thaek, dengan tuduhan penghianatan dan korupsi.

Kim, yang baru berusia awal 30-an, beberapa kali merombak pejabat tinggi militer. Sejumlah pengulas mengatakan tindakan itu untuk memastikan mereka setia kepada sang pemimpin muda.

Wangsa Kim berkuasa di negara miskin Korea Utara lebih dari enam dasawarsa dengan tangan besi dan sama sekali tidak menenggang oposisi. (rol/ar)

2015-08-12 20:55:07.2015-08-12 20:55:07.

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...