Kondisi Mulai Aman, Pengungsi Somalia Mengalir Pulang

Konfrontasi - Makin banyak keluarga pengungsi Somalia di kamp pengungsi Dadaab di bagian timur-laut Kenya mengalir kembali ke tanah air mereka karena kondisi yang relatif damai di Somalia, yang dicabik perang.

Kelompok paling akhir yang naik ke pesawat yang disewa PBB menuju Mogadishu berjumlah 41 orang dari tujuh keluarga. Mereka telah tinggal di Kamp Pengungsi Ifo selama dua-setengah abad belakangan.

Di antara mereka terdapat Yussuf Ahmed Osman (35), yang berasal dari Wilayah Banader di Ibu Kota Somalia, Mogadishu.

Osman tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya, kata Xinhua --yang dipantau Antara di Jakarta, Selasa siang. Ia memberitahu wartawan di kamp pengungsi terbesar di dunia tersebut bahwa ia gembira bisa pulang ke rumahnya.

Para pejabat senior pemerintah yang mengunjungi kamp itu pada Senin mengadakan perbincangan dengan keluarga untuk mendoakan mereka.

Osman, yang tiba di kamp tersebut ketika ia belum lagi berusia 10 tahun, mengikuti pelajaran sekolah menengahnya pada 2011 dan telah menjadi guru sukarela di kamp tersebut sejak itu. Ia mengatakan sudah tiba waktunya buat mereka untuk bergabung dengan masyarakat mereka dalam membangun kembali tanah air mereka.

"Kami bahagia bahwa ada kondisi yang relatif damai di Somalia. Dan sebagaimana pribahasa mengatakan, Timur atau Barat rumah adalah yang terbaik. Saya mau bergabung dengan warga lain Somalia dalam membangun kembali tanah air kami," kata Osman kepada wartawan.

Ia menyatakan salah satu hal yang membuat dia pulang ialah kurangnya peluang kerja buat pengungsi dan dukungan yang berkurang dari lembaga PBB yang mengoperasikan kamp pengungsi itu.

"Kami dulu biasa menerima sedikitnya tiga jatah makanan dalam satu bulan dan hidup saat itu berjalan baik. Tapi saat kita berbicara, ransum ini telah berkurang jadi satu kali dalam sebulan, yang nyaris tak cukup buat satu keluarga," kata Osman.

Betapapun juga ia berterima kasih kepada Komisariat Tinggi PBB Urusan Pengungsi (UNHCR) dan Pemerintah Kenya untuk dukungan yang telah mereka berikan buat pengungsi yang putus-asa selama mereka berada di kamp pengungsi.

"Selama kami mendapat perlakuan dengan baik, hidup di satu negara sebagai pengungsi tanpa kesempatan lain untuk memberdayakan diri kami secara ekonomi agak riskan," kata Osman, yang hanya berbicara Bahasa Inggris dan bahasa aslinya, Somalia.

Menurut UNHCR, kondisi keamanan dan sosial-ekonomi di banyak bagian Somalia tidak bagus bagi kepulangan dalam jumlah besar.

Banyak pengungsi tetap ragu untuk pulang, tapi sebagian pengungsi ingin meninggalkan hidup di pengasingan dan membantu pembangunan kembali negara mereka.

Untuk mengakhiri salah satu situasi pengungsi paling rumit di dunia, penting untuk memastikan bahwa sedikit orang yang pulang dapat berhasil dan memuji kondisi yang lebih damai dan stabil di Somalia.

Kelompok 41 orang yang kebanyakan terdiri atas perempuan dan anak kecil disertai dalam penerbangan mereka ke Mogadishu oleh pejabat Pemerintah Kenya dan UNHCR.

Saat mendarat, mereka diserahkan kepada UNHCR Somalia yang pada gilirannya menyerahkan mereka kepada para pejabat Pemerintah Somalia bagi pemukiman kembali mereka. Setelah itu, mereka secara otomatis akan menyerahkan status pengungsi mereka.

UNHCR mengatakan lebih dari 5.000 orang sejauh ini secara sukarela telah kembali ke rumah mereka sejak program tersebut dimulai pada Desember 2013. (rol/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...