25 June 2019

Khamenei: Saya Tidak Percaya dengan Kesepakatan Nuklir

KONFRONTASI-Pemimpin spiritual tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei, mengkritik Presiden Iran Hassan Rouhani dan Menteri Luar Negeri Javad Zarif untuk pertama kalinya atas keprihatinannya tentang kesepakatan nuklir 2015. Khamenei mengatakan mereka tidak bertindak karena ingin melaksanakan perjanjian dengan kekuatan dunia.

Khamenei telah memberikan cap persetujuan secara implisit pada kesepakatan itu, yang penandatanganannya memicu perayaan spontan di seluruh Iran. Kesepakatan itu menyerukan Iran untuk membatasi pengayaan uraniumnya dengan imbalan pencabutan sanksi ekonomi yang melumpuhkan.

Tetapi kesepakatan berantakan sejak Trump menarik AS dan memberlakukan kembali sanksi lama serta menghasilkan sanksi baru yang lebih ketat.

"Hingga taraf tertentu, saya tidak percaya pada cara kesepakatan nuklir dilaksanakan. Saya berkali-kali mengingatkan presiden dan menteri luar negeri," kata Khamenei seperti dikutip dari VOA, Kamis (23/5/2019).

Khamenei sebelumnya telah memperingatkan bahwa Barat, terutama AS tidak dapat dipercaya. Namun ia tidak pernah menyalahkan politisi dan diplomat top Iran. Sebaliknya, ia malah menyebut keduanya telah melakukan yang terbaik yang mereka bisa.

Sejak Trump menarik AS tahun lalu dan menerapkan kembali sanksi AS pada bulan November, pihak-pihak yang tersisa dalam kesepakatan itu tidak mampu menjaga kecepatan bantuan, dan ekonomi Iran telah dirugikan secara signifikan, terutama karena hilangnya pendapatan dari ekspor minyak dan risiko menimbulkan hukuman AS yang telah menghalangi perusahaan internasional untuk membuka toko di Iran.

Sementara pemimpin tertinggi Iran itu mengawasi perwakilan terpilih, peran utamanya dalam masyarakat adalah spiritual daripada politik. Khamenei mengakui hal itu dalam pidatonya Rabu malam, dengan mengatakan betapa gentingnya situasi meminta dia untuk berbicara.

"Keyakinan kami adalah bahwa kepemimpinan tidak harus masuk ke dalam masalah eksekutif, kecuali jika itu mempengaruhi seluruh revolusi," jelas Khamenei.

Tidak ada komentar langsung dari Rouhani, yang menjalani masa jabatan empat tahun keduanya sebagai presiden, atau Zarif terhadap kritik yang dilontarkan Khamenei.

Ketegangan meningkat antara Iran dan AS setelah Washington mengirim lebih banyak pasukan militer ke Timur Tengah, termasuk kapal induk, pembom B-52 dan rudal Patriot, dalam unjuk kekuatan terhadap apa yang dikatakan pejabat AS sebagai ancaman Iran terhadap pasukan dan kepentingannya di wilayah tersebut.[mr/snd]

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...