19 September 2019

Ekonomi AS Lemah, tapi Peluang Investasi lebih Terbuka

KONFRONTASI- Perekonomian beberapa negara di kawasan Eropa masih melambat, ditambah data manufaktur China yang belum membaik.

Wakil Presiden Jusuf Kalla (JK) mengungkapkan akibat perkembangan ekonomi global ini, telah menyebabkan setiap negara semakin waspada dalam menentukan arah kebijakan ekonominya.

"Memang dunia banyak berubah, dalam globalisasi itu begitu banyak perubahan ada positifnya tapi lebih banyak negatifnya," ungkapnya di Jakarta, Jumat (16/1/2015) malam.

JK menuturkan, hingga saat ini terdapat tipe kebijakan ekonomi yang biasa digunakan oleh negara-negara maju, di antaranya Amerika Serikat. Menurut dia, AS memiliki arah kebijakan ekonomi yang mengistimewakan sektor perdagangan dibanding industri, maupun mengistimewakan sektor keuangan dibandingkan sektor produksi.

"Banyak yang mengistimewakan trade (perdagangan saham) dibanding industri, mengistimewakan finance dibanding produksi. Tetapi akibatkan mereka maju dalam beberapa waktu tapi ambruknya lebih besar. Seperti ekonomi Amerika yang mendahulukan trade dan finance," ujarnya.

Akan tetapi, kata JK, kebijakan yang dilakukan oleh China lebih baik, kendati tidak tumbuh besar melainkan relatif lebih kuat dan stabil. "Tetapi kalau China, dia mendahulukan industri dan produksi maka dia tetap tumbuh meski lebih stagnan, ya walau tetap ada masalah,"pungkasnya.

Para CEO memang lebih memilih berinvestasi di Amerika Serikat (AS). Mereka menyakini jika peluang investasi di AS akan lebih terbuka dibandingkan tiga tahun lalu.

Walau begitu, menurut survei PwC, Kamis (22/1/2015), para CEO ini mengkhawatirkan sejumlah faktor di AS. Misalnya regulasi yang berlebihan, serta ancaman pembajakan internet.

Selain itu, pebisnis global ini juga kebijakan fiskal AS, termasuk utang dan defisit. Demikian dilansir dari CNBC.

Pada tahun 2015 ini, dana investasi asing langsung (global foreign direct investment) ditaksir mencapai USD1,7 triliun.

Beberapa tahun terakhir, investasi asing yang cukup besar terserap di negara Brasil, Rusia, India dan China (BRIC).

Walau begitu, menurut data PBB, Amerika Serikat (AS) memimpin penyerapan dana asing itu pada tahun 2013, dengan nominal sebesar USD338 juta.  (KCM/Okezon)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...