Duterte Perpanjang Lockdown Filipina Hingga 11 Pekan ke Depan

KONFRONTASI-Setelah menerapkan lockdown selama sembilan minggu, Filipina akan memperpanjang lagi masa lockdownnya hingga 11 pekan ke depan

Presiden Rodrigo Duterte mengumumkan perpanjang lockdown itu lewat pidato resminya, Selasa (12/5). Selain memperluas wilayah penguncian, masa lockdown pun diperpanjang menjadi 11 pekan. Itu artinya Filipina menjadi negara dengan perpanjangan lockdown terlama di antara semua negara-negara di dunia yang memberlakukan penguncian

Duterte mengambil langkah ekstrem demi penanganan wabah virus corona yang lebih baik lagi. Sementara negara lain bersiap dengan pelonggaran, ia malah semakin memperketat dan memperpanjang aturan tersebut.

Masa lockdown sebelumnya, baru akan selesai dua pekan lagi. Kemudian ditambah perpanjangan 11 pekan. Ini akan menjadi masa lockdown terlama, sementara Kota Wuhan, pusat penyebaran virus corona hanya melakukan lockdown selama 76 hari.

Langkah-langkah penguncian akan sedikit dilonggarakan di beberapa wilayah. Namun ia tetap mendesak kewaspadaan dengan mewajibkan rakyatnya memakai masker.

"Mereka yang diijinkan keluar untuk bekerja dan yang diharuskan tetap tinggal di rumah, harus sama-sama memahami bahwa yang kita hadai adalah virus, dan segala hal bisa saja terjadi. Bahwa pelonggaran pembatasan ini bukan untuk mengatakan virus corona tidak berbahaya," kata Duterte seperti dikutip CNA, Selasa (12/5).  

"Kita tidak bisa membiarkan gelombang kedua atau ketiga terjadi," tegasnya.

Duterte menyadari langkah lockdown akan membuat ekonomi pincang, tetapi ia berkeyakinan upaya penguncian akan menyelamatkan rakyatnya. Ia bersama jajarannya tengah memikirkan dorongan ekonomi di satu sisi tetap mempertimbangkan keselamatan rakyat.

Ekonomi negara ini dihantam dua dekade pertumbuhan. Manila, sebuah kota yang ramai dengan sedikitnya 13 juta orang dan jutaan penduduk informal, menjadi pusat infeksi. Lockdown di Manila dan kota-kota besar lainnya mengamanatkan karantina untuk tetap berada di rumah, jarak sosial, pembatasan transportasi, imigrasi dan latihan di luar ruangan, dan membatasi pergerakan pekerja di sektor-sektor penting. Selain itu, hanya satu orang per rumah tangga yang boleh keluar untuk kunjungan ke supermarket, apotek, atau klinik.

Filipina menjadi salah satu negara pertama yang melarang penerbangan ke dan dari China setelah tiga pengunjung China dinyatakan positif. Filipina juga menjadi negara ketiga yang memberlakukan karantina rumah, walau angka kasus masih kecil.

Juru bicara Harry Roque mengonfirmasi langkah karantina di kota-kota besar sangat berdampak pada ekonomi.

"Sumber pemerintah terbatas, jadi kami harus menghasilkan sumber daya untuk melawan Covid-19 dalam jangka panjang, di masa depan tanpa intervensi ekonomi hasilnya akan lebih merugikan daripada dampak Covid-19," kata Roque.

Roque mengatakan Manila juga mengizinkan beberapa aktivitas ekonomi penting demi menghindari resesi karena menurunnya konsumsi domestik yang menjadi pendorong utama pertumbuhan Filipina.[mr/rm]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...