Dituding Pimpin Kartel Narkoba, Maduro Bongkar Plot Jahat AS

KONFRONTASI- Di tengah pandemi virus corona atau Covid-19 yang menjadi musuh bersama dunia saat ini, Amerika Serikat justru "berulah". Pemerintahan Presiden Donald Trump di Amerika Serikat pada 26 Maret lalu mengeluarkan tuduhan serius kepada sederet pejabat top Venezuela, termasuk Presiden Venezuela Nicholas Maduro.

Otoritas Amerika Serikat mendakwa Maduro dan sejumlah pejabat top Venezuela atas dakwaan "terorisme narkoba". Kementerian Kehakiman Amerika Serikat, dalam dakwaannya, menyebut Maduro memimpin sebuah geng pengedar kokain bernama The Cartel of the Suns. Amerika Serikat menuduh "kartel" pimpinan Maduro itu bekerja sama dengan kelompok pemberontak bernama Pasukan Bersenjata Revolusioner Kolombia (FARC).

Buka hanya itu, Amerika Serikat bahkan membuat sayembara, barangsiapa yang bisa memberikan informasi kepada pihak terkait soal keberadaan Maduro yang akan berujung pada penangkapannya, akan diberikan imbalan hingga 15 juta dolar AS.

Tuduhan ini menjadi ironi tersendiri, karena selain tidak berdasar, tuduhan ini juga dilontarkan di waktu yang kritis bagi dunia, yakni ketika pandemi wabah corona atau Covid-19 terjadi.

Maduro pun gerah dengan tuduhan tersebut. Untuk menjelaskan apa yang terjadi dari sudut pandangnya, Maduro pun menulis surat terbuka yang ditujukan pada masyarakat dunia pekan ini. Dalam surat itu dia mengecam keras tuduhan Amerika Serikat terhadap Venezuela.

"Dengan hormat, izinkan saya untuk menyampaikan kecaman terhadap peristiwa serius yang terjadi terhadap perdamaian dan stabilitas Venezuela, pada saat kepedulian negara dan pemerintah harus difokuskan dalam melindungi kehidupan dan kesehatan rakyat, karena percepatan pandemi Covid-19," tulis Maduro.

Dia menjelaskan bahwa semua tuduhan yang dilayangkan oleh Amerika Serikat terhadap dirinya dan sederet pejabat top Venezuela lainnya tidak lebih dari omong kosong belaka.

"Pantomim Amerika ini termasuk tawaran mereka dengan memberikan hadiah kepada siapa saja yang dapat memberikan informasi tentang presiden dan pejabat senior Venezuela, yang mengarah ke momen berbahaya yang menyebabkan ketegangan di benua Amerika, untuk apa yang saya anggap perlu untuk menceritakan fakta, yang mengungkapkan plot jahat di balik tuduhan Kementerian Kehakiman Amerika Serikat tersebut," sambungnya.

Dia menjelaskan bahwa sehari sebelum Amerika Serikat mengeluarkan tuduhan itu, tepatnya pada tanggal 25 Maret 2020, Venezuela lantang mengecam opini publik nasional dan internasional mengenai perkembangan di wilayah Kolombia yang berbatasan dengan Venezuela.

Perkembangan yang dimaksud Maduro merujuk pada rencana operasi militer yang bertujuan untuk mengancam kehidupan Maduro, anggota keluarganya serta pejabat senior Venezuela. Operasi itu juga bertujuan untuk menyerang masyarakat sipil dan militer di Venezuela.

Maduro, dalam suratnya, menyebut bahwa operasi ini dipimpin oleh seorang pensiunan jenderal angkatan bersenjata Venezuela bernama Cliver Alcala.

"Setelah tanggal 24 Maret, terungkap sebuah operasi untuk mengontrol daerah utara Kolombia yang berbatasan langsung dengan Venezuela, di mana polisi Venezuela menangkap sekumpulan senjata perang dengan kendaraan sipil," kata Maduro.

"Penyelidikan mengungkapkan bahwa persenjataan canggih tersebut akan didistribusikan kepada sekelompok mantan militer dan paramiliter Venezuela dan Kolombia, yang dilatih di beberapa kamp yang terletak di wilayah Kolombia," sambungnya.

Setelah rencana operasi ini terungkap, pada tanggal 26 Maret, Alcala memberikan pernyataan kepada media Kolombia dari kediamannya di kota Barranquilla, Kolombia. Dia secara terbuka mengkonfirmasi keikutsertaannya dalam tindakan yang dilaporkan sebelumnya. Dia bahkan mengaku sebagai pemimpin militer operasi tersebut.

Pada kesempatan yang sama, Alcala mengungkapkan bahwa senjata itu diperoleh atas perintah pemimpin oposisi Venezuela Juan Guaido yang didukung oleh Amerika Serikat. Guaido diketahui mendeklarasikan diri sendiri sebagai pemimpin Venezuela. Padahal, secara konstitusional, Maduro lah presiden sah Venezuela.

Sementara itu Alcala lebih lanjut menerangkan bahwa persenjataan yang ditemukan itu rencananya akan digunakan dalam operasi militer untuk membunuh tokoh-tokoh senior dan pemerintah Venezuela, yang pada akhirnya berujung pada kudeta di Venezuela.

Alcala juga mengklarifikasi bahwa senjata itu diperoleh melalui kontrak yang ditandatangani oleh dirinya sendiri, Juan Guaido, penasihat Amerika dan Juan Jose Rendon, penasihat politik untuk Presiden Kolombia Ivan Duque, dan dibuat dengan sepengetahuan otoritas pemerintah Kolombia.

Setelah hal tersebut terungkap ke publik, Amerika Serikat justru merespon dengan cara tidak biasa.

"Dalam menghadapi pengakuan ini, respons pemerintah Amerika Serikat yang tidak biasa adalah publikasi tuduhan yang disebutkan di awal surat ini, dengan dimasukkannya nama Alcala secara berlebihan, seolah-olah itu adalah bagian dari otoritas Venezuela dan bukan Amerika Serikat," jelas Maduro.

Bukan hanya itu, sambung Maduro, pasca pengakuan ini terungkap, Alcala pun ditangkap oleh pasukan keamanan Kolombia dan segera diserahkan ke Penegak Hukum Narkoba Pemerintah Amerika Serikat.

Menurut Maduro, penangkapan ini merupakan hal yang ganjil, karena Alcala sebagai tahanan tidak diborgol. Dia bahkan sempat mengucapkan selamat tinggal serta bersalaman dengan pasukan yang menangkapnya, tepat di kaki tanggap pesawat VIP yang akan membawanya ke Amerika Serikat.

"Ini menunjukkan bahwa pada kenyataannya semua itu adalah cara untuk menyelamatkan seseorang yang mereka anggap sebagai agen Amerika," ujar Maduro lagi.

Tidak lama setelah itu, Amerika Serikat justru melempar tuduhan tidak berdasar yang menyebut bahwa Maduro merupakan bagian besar dari kartel narkoba.

Lebih lanjut Maduro menerangkan bahwa rencana operasi bersenjata yang gagal itu mulanya akan dieksekusi pada akhir bulan kemarin. Padahal di waktu bersamaan, hampir semua negara dan wilayah di dunia tengah berperang dengan virus corona, tidak terkecuali Amerika Serikat dan Venezuela.

Maduro mengingatkan, apa yang dilakukan oleh pemerintahan Trump di Amerika Serikat justru memperburuk keadaan mereka.

"Selama pandemi, Pemerintah Amerika Serikat, alih-alih berfokus pada kerja sama kesehatan global dan kebijakan pencegahan, (justru) telah meningkatkan tindakan pemaksaan sepihak, menolak permintaan dari masyarakat internasional untuk mencabut atau melonggarkan sanksi ilegal yang mencegah Venezuela mengakses obat-obatan, peralatan medis dan makanan," tambah Maduro.

"Pada saat yang sama, Amerika Serikat telah melarang penerbangan kemanusiaan dari Amerika Serikat ke Venezuela untuk memulangkan ratusan warga Venezuela yang terperangkap dalam krisis ekonomi dan kesehatan di negara itu," jelas Maduro.

Maduro menekankan, Venezuela jelas mengecam Amerika Serikat atas situasi tersebut. Namun dia menegaskan kembali bahwa hal itu tidak menyurutkan niat Venezuela untuk memelihara hubungan dan kerja sama dengan semua negara, terlebih di tengah pandemi virus corona saat ini.

"Dalam menghadapi keadaan serius seperti itu, saya mencari dukungan Anda yang tak ternilai dalam menghadapi sanksi yang tidak biasa dan sewenang-wenang ini, dieksekusi oleh versi baru dari Macarthism tua (praktik membuat tuduhan subversi atau pengkhianatan tanpa mempertimbangkan bukti) yang diperkenalkan setelah Perang Dunia II," ujar Maduro.

"Pada saat itu, mereka melabeli musuh komunis mereka dan menganiaya mereka, hari ini mereka melakukannya melalui kategori teroris atau penyelundup narkoba tanpa memiliki bukti apa pun," tambahnya.

Dalam surat yang sama, Maduro menggarisbawahi keteguhan Venezuela dalam perjuangannya untuk perdamaian. Dia juga menekankan komitmen negaranya untuk menjaga kehidupan dan kesehatan rakyat di tengah pandemi virus corona saat ini.

"Saya menggunakan kesempatan ini, untuk menyampaikan rasa solidaritas saya dan masyarakat Venezuela kepada seluruh masyarakat di dunia yang saat ini juga terdampak pandemi ini. Jika ada sebuah pelajaran yang dapat dipetik dari situasi sulit ini, adalah kita harus duduk bersama untuk mencari jalan keluar dan bergerak maju," kata Maduro.

"Semua model politik dan ekonomi yang mengedepankan egoisme dan individualisme telah menunjukkan kegagalan totalnya untuk menghadapi situasi ini. Mari kita bergerak maju secara perlahan tapi pasti menuju sebuah dunia baru dengan keadilan dan kesamaan sosial, di mana kebahagiaan dan pemenuhan setiap hak asasi manusia menjadi titk tengah dari setiap aksi kita," sambungnya.

"Saya berterima kasih atas solidaritas yang telah diberikan kepada negara dan masyarakat Venezuela, mengecam tindakan blokade kriminal di mana kami atau negara lain yang menjadi sasarannya. Saya menggunakan kesempatan ini untuk menyampaikan rasa hormat saya dan mengundang Anda semua untuk mari kita terus bersatu untuk membawa sebuah harapan baru," tutup Maduro. (mr/rm)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA