20 November 2019

AS dan RRC Saling Bersaing Sengit dari Sisi Ekonomi, Politik sampai Militer

KONFRONTASI- AS  dan RRC saling bersaing  sengit meski  mengklaim saling bersahabat. 

Fokus baru Amerika Serikat dalam membangun hubungan di kawasan Indo-Asia Pasifik telah menimbulkan berbagai tanggapan — mulai dari apresiasi sampai keprihatinan. Banyak negara ingin untuk memperluas hubungan ekonomi, politik, diplomatik, dan militer dengan A.S., tetapi mereka juga ingin mempertahankan hubungan baik dengan China. Amerika Serikat berbagi tujuan kerjasama, stabilitas serta kemakmuran kawasan, dan sasaran strategi penyeimbangan kembalinya dalam memperkuat aliansi lama dan membina aliansi-aliansi baru.

“Penyeimbangan kembali ini tidak berkenaan dengan satu negara atau sekelompok negara,” dijelaskan oleh Deputi Menteri Pertahanan A.S. Ashton B. Carter dalam sebuah pidato pada 1 Agustus 2012 di New York, A.S., mengenai penyeimbangan kembali. “Hal ini tidak berkenaan dengan China; tidak berkenaan dengan Amerika Serikat. Hal ini berkenaan dengan kawasan damai Asia Pasifik, di mana negara-negara berdaulat dapat menikmati manfaat dari keamanan dan meneruskan kemakmuran.”

Sebagai bagian dari perundingan meja bundar yang dikeluarkan dalam jurnal Asia Policy edisi bulan Januari 2013, para penulis dari berbagai kawasan menyuarakan harapan mereka bagi penyeimbangan kembali dan peluang yang dikenali bagi pengembangan hubungan timbal balik yang menguntungkan dan kutipan-kutipan dari para pemimpin A.S. yang relevan dengan uraian setiap penulis. Berikut ini adalah petikan dari uraian tersebut.

Penjaga kehormatan Pasukan Bela Diri Darat Jepang membawa bendera nasional sebelum pertemuan para pejabat pertahanan tingkat tinggi dari A.S. dan Jepang. [AFP/GETTY IMAGES]

Penjaga kehormatan Pasukan Bela Diri Darat Jepang membawa bendera nasional sebelum pertemuan para pejabat pertahanan tingkat tinggi dari A.S. dan Jepang. [AFP/GETTY IMAGES]

JEPANG: Koordinasi Strategi Pertahanan

Let. Jen. (Purn.) Noboru Yamaguchi/Akademi Pertahanan Nasional Jepang

Penyeimbangan kembali A.S. atas Asia Pasifik merupakan suatu perubahan mendasar dalam strategi pertahanan A.S. Pada saat yang sama, Jepang telah memakai seperangkat kebijakan keamanan yang baru — yang terpenting, konsep kekuatan pertahanan yang dinamis. [Catatan Editorial: Artikel ini mendahului publikasi “Pertahanan Jepang,” Juli 2013]. Konsep fokus pertahanan dari kepulauan di sebelah barat daya sebagian dapat memperlengkapi pasukan A.S. yang disebarkan di dan sekitar Okinawa dengan perlindungan pertahanan Jepang. Oleh sebab itu, terdapat kebutuhan mendesak bagi Amerika Serikat dan Jepang untuk melakukan serangkaian dialog intensif untuk mengoordinasikan strategi-strategi pertahanan mereka masing-masing, yang mencakup sejumlah bidang di mana kedua negara ini dapat memberdayakan upaya masing-masing. Bersamaan dengan penyeimbangan kembali A.S., kebangkitan China akan menjadi faktor sentral dalam bentang keamanan di Asia Pasifik. Baik Amerika Serikat dan Jepang harus berupaya sebaik mungkin untuk membangun dan memelihara hubungan konstruktif dengan China melalui berbagai bentuk keterlibatan, termasuk pertukaran antar militer. Strategi keterlibatan ini akan berhasil dengan baik bila Amerika Serikat dan sekutunya berhasil sebagian dalam melindungi kebijakan mereka menghadapi China. Sementara kebangkitan China dalam dua dekade terakhir sangat berarti secara militer, Pasukan Pembebasan Rakyat masih memiliki banyak hal yang dilakukan untuk mengimbangi militer terbaik dunia. Oleh karena itu, Amerika dan sekutunya di Asia memiliki kesempatan untuk menciptakan lingkungan keamanan di mana para pelaku kawasan, termasuk China, secara alami cenderung melakukan hubungan kerja sama daripada permusuhan.

Diskusi ini menimbulkan pertanyaan terhadap komitmen Amerika Serikat atas pengerahan besar dan terus berlanjut di Asia Pasifik. Untuk membantu Amerika Serikat memburu sikap “merata secara geografis, luwes secara opearsional, dan berkelanjutan secara politik”, Jepang, bersama dengan sekutu A.S. lainnya seperti Korea Selatan dan Australia, harus bekerja sama secara erat dengan Washington untuk melakukan program-program yang telah disepakati untuk memindahkan pangkalan-pangkalan A.S. di Jepang. Melalui upaya semacam itu, pengerahan A.S. yang terus berlanjut di Asia akan menjadi lebih merata di seluruh kawasan, dengan memberikan negara-negara kesempatan yang lebih baik untuk menghadapi berbagai kemungkinan di sepanjang wilayah jangkauan geografis yang lebih luas.

Perspektif A.S.

“Apa yang telah disadari oleh Amerika Serikat, mungkin lebih dari apa pun selama beberapa tahun terakhir, ialah bahwa tidak mungkin bagi Amerika Serikat untuk menjadi pelaku efektif di kawasan Asia Pasifik kecuali kami memiliki kemitraan dalam kekuatan dan vitalitas dengan Jepang. Hal ini sangat penting.”

May. Jen. Stephen R. Lyons, kiri, dari Angkatan Darat A.S. Pasifik berjabat tangan dengan May. Tang Fen dari Tentara Pembebasan Rakyat China pada penutupan pelatihan militer dua hari pada bulan November 2012. Pelatihan manajemen bencana menunjukkan kesediaan kedua negara untuk bekerja sama demi kebaikan bersama. [GETTY IMAGES]

May. Jen. Stephen R. Lyons, kiri, dari Angkatan Darat A.S. Pasifik berjabat tangan dengan May. Tang Fen dari Tentara Pembebasan Rakyat China pada penutupan pelatihan militer dua hari pada bulan November 2012. Pelatihan manajemen bencana menunjukkan kesediaan kedua negara untuk bekerja sama demi kebaikan bersama. [GETTY IMAGES]

— Mantan Pembantu Menteri Luar Negeri untuk Urusan Asia Timur dan Pasifik Kurt Campbell, Pidato Utama di Center for Strategic and International Studies (CSIS)-Forum Nikkei pada 26 Oktober 2012

China: Upaya dalam Kerja Sama Preventif

Yan Xuetong/Institut Hubungan Internasional Modern Di Universitas Tsinghua

Para realis China setuju dengan para pakar strategi aliran utama bahwa kompetisi yang meningkat antara China dan Amerika Serikat tidak terelakkan karena celah dalam kekuatan nasional komprehensif menciut di antara kedua negara ini. Dengan China yang siap untuk menjadi adikuasa tepat setelah Amerika Serikat pada tahun 2022, kompetisi strategis di antara mereka tampaknya hanya akan meningkat dan berkembang ke dalam banyak sektor. Namun demikian, para realis China memiliki keyakinan bahwa kepentingan egois, seperti keinginan untuk menghindari bentrokan militer di antara dua kekuatan nuklir, akan mendorong kerja sama A.S.- China, khususnya kerja sama preventif. Selama kedua pihak waspada, mereka dapat menjaga persaingan mereka secara damai. Pertimbangkan, misalnya, bahwa perselisihan di antara China dan Jepang mengenai Kepulauan Senkaku/Diaoyu hampir tidak berdampak kepada hubungan China-A.S. Fenomena ini menggambarkan bahwa baik Beijing maupun Washington berhati-hati atas konflik yang dapat meningkat pada bentrokan militer.

Dibandingkan dengan kebijakan A.S. atas China dalam masa pemerintahan pertama [Presiden A.S. Bill] Clinton, strategi penyeimbangan kembali saat ini jauh lebih halus dan dengan jelas menggambarkan persahabatan superfisial antara China dan Amerika Serikat. Persahabatan yang superfisial ini memicu persaingan di antara kedua negara ini, tetapi strategi dari persahabatan yang superfisial ini memudahkan kerja sama di antara mereka. China dan Amerika Serikat telah mampu mempertahankan persahabatan superfisial ini sejak akhir tahun 1990-an, bahkan saat ketiadaan kepercayaan timbal balik, terutama karena mereka berbagi kepentingan strategis obyektif, seperti nonproliferasi nuklir, perdamaian di Asia Pasifik, kontraterorisme di Asia Tengah, serta perdagangan dan investasi. Pada akhir tahun 1990-an, misalnya, China dan Amerika Serikat setuju untuk tidak lagi saling menjadikan sasaran senjata nuklir, yang telah membantu menstabilkan hubungan bilateral.

Untuk mengatur persaingan yang tak terelakkan, prinsip “kompetisi damai” dapat lebih berguna daripada prinsip “koeksistensi damai.” Dalam kunjungannya ke China pada bulan Oktober 2011, Wakil Presiden [A.S.] Joe Biden dengan hangat diterima oleh rekan imbangannya Xi Jinping. Xi mengusulkan kepada Biden bahwa China dan Amerika Serikat sebaiknya mengembangkan jenis hubungan kekuatan besar baru yang bersifat “persaingan sehat.” Menyusul pertemuan tersebut, tidak terdapat suara dari pihak A.S. yang menolak saran ini. Ada kemungkinan bagi China dan Amerika Serikat untuk setuju pada prinsip persaingan damai melalui kerja sama preventif, bahkan bila mereka tidak dapat sepakat dalam persaingan sehat, karena prinsip sebelumnya dapat memberikan garis merah bagi kedua pihak.

Para prajurit tentara payung Angkatan Darat India dan A.S. menaiki helikopter CH47 untuk latihan terjun sebagai bagian dari Yudh Abhyas 2013. [SGT. MICHAEL J. MCLEOD/U.S. ARMY]

Para prajurit tentara payung Angkatan Darat India dan A.S. menaiki helikopter CH47 untuk latihan terjun sebagai bagian dari Yudh Abhyas 2013. [SGT. MICHAEL J. MCLEOD/U.S. ARMY]

Jadi, China dan Amerika Serikat sebaiknya mencurahkan upaya lebih banyak dalam mengembangkan kerja sama preventif daripada mencoba meningkatkan untuk saling percaya. Kerja sama dapat dilandasi oleh kepentingan yang bertentangan maupun bersama. Walaupun dalam tahun-tahun mendatang China dan Amerika Serikat sebaiknya secara psikologis bersiap untuk melihat peningkatan kepentingan yang bertentangan lebih cepat daripada kepentingan bersama, Beijing dan Washington dapat dengan cekatan mengelola kompetisi dengan berfokus pada pengembangan kerja sama preventif yang didasari oleh kepentingan-kepentingan yang bertentangan ini. China dan Amerika Serikat dapat mengembangkan kerja sama seperti itu tidak hanya dalam bidang militer tetapi juga dalam menghadapi ancaman keamanan nontradisional, seperti yang diakibatkan oleh perubahan energi, keuangan, dan iklim.

Untuk menyerukan China dan Amerika Serikat agar memprioritaskan kerja sama preventif tidak berarti bahwa mereka harus berhenti membangun saling percaya atau membangun kepentingan bersama. Namun demikian, hal yang penting adalah mengenali bahwa kerja sama preventif menawarkan jalan bagi kedua pihak untuk menstabilkan hubungan strategis mereka pada saat tiadanya kepercayaan. Skenario terburuk bukanlah bahwa China dan Amerika Serikat akan dihadapkan pada lebih banyak persaingan di tahun-tahun mendatang, tetapi bahwa persaingan seperti itu akan meningkat menjadi konflik militer karena mereka tidak pernah belajar untuk bagaimana mengembangkan kerja sama pada saat tiadanya saling percaya atau kepentingan bersama.

Perspektif A.S.

“Tentu saja, hubungan A.S.-China telah dan akan terus memiliki unsur baik itu kerja sama maupun kompetisi. Kebijakan kami yang konsisten selama ini ialah untuk meningkatkan mutu dan kuantitas kerja sama kami; mendorong persaingan ekonomi yang sehat; dan mengelola ketidaksepakatan untuk menjamin bahwa kepentingan A.S. terlindungi dan hak-hak dan nilai-nilai universal dihormati. …Sebagaimana dikatakan berkali-kali oleh Presiden Obama, Amerika Serikat menyambut bangkitnya China yang damai dan makmur.”

— Tom Donilon, penasihat keamanan nasional A.S., dalam sebuah pidato, “Amerika Serikat dan Asia Pasifik pada tahun 2013,” yang disampaikan dalam Asia Society di New York, New York pada 11 Maret 2013India: Mencapai Keseimbangan Kekuatan

Bagi publik Amerika Serikat, kebijakan luar negeri mungkin menempati posisi bawah dalam daftar pertimbangan untuk memilih presiden.Namun ada satu negara yang hampir selalu disebut ketika membahas ekonomi dan politik luar negeri, di luar persoalan tewasnya duta besar AS di Benghazi, Irak, Afghanistan, dan Iran.

''Pinjaman dari Cina harus segera diakhiri. Negara tersebut tidak bisa lagi dipakai sebagai sumber dana pemerintah Obama,'' kata Claudia Williams, warga yang tinggal di Lake Forest, Chicago.

Data yang dikeluarkan Mei lalu menunjukkan Cina adalah kreditor asing terbesar AS dengan surat utang yang dibeli Beijing mencapai US$1,2 triliun.

Posisi ini membuat pemerintah di Washington menghadapi dilema.

Di dalam negeri, banyak pengusaha yang mengeluhkan Cina, yang dianggap bisa menjual produk ke pasar dalam negeri AS dengan harga emas melalui manipulasi mata uang yuan.

Dimanfaatkan Romney

china us
Cina adalah salah satu sumber dana utama AS

''Mitt Romney, calon presiden Republik, sering menyinggung persoalan ini. Ini dijadikan isu besar oleh Romney dan Republik,'' kata Jeffrey Winters, pengamat ekonomi politik dari Northwestern University, Chicago.

Di sisi lain, kata Winters, semua orang paham bahwa Cina makin lama makin besar, baik dari aspek ekonomi, politik, dan pengaruh di kawasan.

Itu berarti Washington harus mengikuti gerak-gerik Cina dengan seksama.

''Dalam situasi seperti ini, AS harus berhati-hati, jangan sampai terlibat konflik dengan pemerintah di Beijing,'' kata Winters.

AS juga berkepentingan untuk melihat kawasan Asia Pasifik yang stabil, kata Djayadi Hanan, pengamat politik dari Ohio State University.

''Namun pada saat yang sama AS tidak bisa membiarkan Cina terus memperbesar pengaruh di kawasan ini. Dominasi Cina harus diimbangi. Persoalannya adalah Washington juga harus menghitung agar tak didikte oleh Beijing,'' kata Hanan.

Masih sulit diprediksi

Baik Winters maupun Hanan sulit memprediksi perubahan signifikan arah kebijakan AS di Asia Pasifik seadainya Romney menang di pemilihan presiden.

"Bila Romney menang, ia harus menghadapi Cina bukan dengan pendekatan yang kaku dan keras"

Djayadi Hanan

Keduanya sepakat dalam debat capres, Romney lebih banyak mengiyakan pernyataan Barack Obama.

Yang mungkin akan terjadi adalah, kata Hanan, para arsitek kebijakan luar negeri di era George W Bush akan banyak berperan mengarahkan kebijakan-kebijakan Romney.

''Bila demikian halnya, mungkin kita akan melihat pendekatan yang lebih keras dari AS ketika berhubungan dengan Cina, Burma, atau Pakistan,'' kata Hanan.

Perang melawan terorisme mungkin juga akan makin gencar seandainya Romney berkuasa.

Namun Winters menggarisbawahi bahwa kerasnya sikap Romney terhadap Cina, mungkin juga terkait dengan strategi meraih suara di pemilihan presiden.

''Itu mungkin hanya gertakan saja. Kita harus ingat bahwa posisi terbaik AS saat ini adalah tidak terlibat konflik dengan Cina,'' kata Winters.

''Bila Romney menang, ia harus menghadapi Cina bukan dengan pendekatan yang kaku dan keras,'' tandasnya.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...