Amerika Serikat akan Kirim 3.500 Pasukan ke Timur Tengah Usai Bunuh Jenderal Iran

Konfrontasi - Amerika Serikat (AS) akan mengerahkan lebih dari 3.500 tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah. Pengerahan ini diumumkan setelah serangan drone militer AS menewaskan Komandan Pasukan Quds pada Garda Revolusi Iran, Mayor Jenderal Qasem Soleimani, di Baghdad, Irak.

Seperti dilansir AFP, Sabtu (4/1/2020), pengerahan tentara tambahan ini berasal dari Divisi Lintas Udara ke-82 Pasukan Tanggap Global, yang telah mengirimkan ratusan tentara tambahan ke kawasan Timur Tengah pada awal pekan ini saat ketegangan meningkat usai Kedutaan Besar AS di Baghdad diserang.

Juru bicara Departemen Pertahanan AS atau Pentagon menuturkan bahwa brigade Pasukan Cepat Tanggap dari Divisi ke-82 telah diberitahu sejak awal pekan ini bahwa personel mereka akan dikirimkan ke kawasan Timur Tengah.

Pentagon menyebut bahwa sekitar 3.000 hingga 3.500 tentara tambahan akan dikerahkan ke Kuwait dalam waktu dekat. 

"Brigade itu akan dikerahkan ke Kuwait sebagai langkah yang pantas dan langkah pencegahan dalam merespons peningkatan level ancaman terhadap personel dan fasilitas AS, dan akan membantu dalam menyusun kembali pasukan cadangan," sebut juru bicara Pentagon.

Disebutkan seorang pejabat AS yang enggan disebut namanya kepada AFP bahwa sekitar 750 tentara telah dikirimkan dari unit itu dan telah tiba di Baghdad, untuk kemudian ditugaskan menjaga keamanan di Kedutaan Besar AS.

Sekitar 14 ribu tentara AS telah dikerahkan ke Timur Tengah sejak tahun lalu selama ketegangan dengan Iran terus meningkat. Dari jumlah itu, sekitar 5.200 tentara AS dikerahkan di berbagai wilayah Irak untuk membantu pasukan keamanan Irak memerangi para militan.

Milisi pro-Iran di Iran memanfaatkan kematian Soleimani untuk mendorong parlemen Irak agar mencabut kesepakatan keamanan yang mengatur pengerahan tentara AS di wilayah Irak. Para anggota parlemen Irak akan menggelar rapat darurat pada Minggu (5/1) besok dan diperkirakan akan menggelar voting. 

Pentagon dalam pernyataannya mengakui bahwa serangan drone dengan target membunuh Soleimani itu diperintahkan oleh Presiden Donald Trump untuk 'melindungi personel AS di luar negeri'.

Pentagon menjelaskan bahwa Soleimani dibunuh karena dia 'secara aktif mengembangkan rencana untuk menyerang diplomat-diplomat dan personel militer Amerika di Irak dan sekitarnya'. AS juga menuduh Soleimani menyetujui serangan terhadap Kedutaan Besar AS di Baghdad, awal pekan ini.

Keputusan AS mengerahkan tentara tambahan ini bertentangan dengan pernyataan Trump sebelumnya soal rencana menarik mundur tentara-tentara AS dari zona konflik di Timur Tengah. Trump dalam pernyataan terbaru pada Jumat (3/1) waktu setempat, juga menegaskan bahwa AS bermaksud menghentikan perang, bukan memicu perang baru, dengan menargetkan Soleimani dalam serangannya di Irak. (dtk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...