10 December 2019

17 WNI dari Wilayah ISIS Sakit-sakitan, Ingin Pulang ke Indonesia

KONFRONTASI - Sebanyak 17 WNI yang sebelumnya berada di wilayah kelompok yang menamakan diri Negara Islam atau ISIS, masih berada di kamp Suriah dan menyatakan banyak dari mereka yang sakit-sakitan dan mereka "ingin kembali ke Indonesia."

Melalui bantuan petugas Kamp Ain Issa di Suriah, Omar Allouche yang merekam suara mereka, salah seorang dari WNI yang menyebut bernama Dilfansyah Rahmani, mengatakan kondisi mereka sakit-sakitan.

"Kami 17 orang ingin bersama-sama kembali ke Indonesia. Kami berharap...bantuan dari pemerintah Indonesia membantu kami keluar dari Suriah dengan aman," kata Dilfansyah.

Dilfansyah termasuk di antara 12 perempuan lainnya berada di kamp tersebut dan belum bertemu dengan anggota keluarga laki yang berada di Kobane, kota di Suriah Utara.

"Bersama yang laki-laki, lima orang di Kobane, Insya Allah kami berharap mereka dapat keluar dari penjara Kobane dan kami semua bersama-sama kembali ke Indonesia."

"Kami belum bisa bertemu dengan keluarga kami (yang laki)... kami belum tahu kabarnya, kondisi kami di sini juga banyak yang sakit sakitan, uang semakin menipis," tambahnya.

Omar Allouche sendiri mengatakan kepada BBC Indonesia, 12 WNI yang terdiri dari perempuan dan anak-anak itu telah berada di kamp tersebut selama 10 hari.

Dalam wawancara dengan wartawan AFP di kamp tersebut pekan lalu, salah seorang WNI, Nur, mengatakan propaganda ISIS semuanya bohong.

'Semua bohong'

"Semua bohong ... ketika kami memasuki wilayah ISIS, masuk ke negara mereka, yang kami lihat sangat berbeda dengan apa yang mereka katakan di internet," kata Nur di kamp di Ain Issa, sekitar 50 kilometer di utara Raqqa.

Nur bersama ribuan orang lainnya meninggalkan Raqqa yang digempur oleh pasukan pemerintah Suriah dengan bantuan militer Amerika Serikat.

WNI lain yang diwawancara AFP, Leefa, 38 tahun, mengatakan ia memutuskan meninggalkan Indonesia dengan harapan bisa 'menikmati hidup yang sebenarnya sebagai Muslim sejati di bawah kekuasaan daulah Islamiyah'.

"Saya punya masalah kesehatan. Saya perlu operasi di bagian leher dan biayanya sangat mahal di Indonesia. Tapi di daerah ISIS semuanya gratis," kata Leefa.

Namun di Raqqa, operasi tidak gratis dan biayanya mahal dan Leefa tak bisa menjalani operasi.

Juru bicara Kementerian Luar Negeri RI, Arrmanatha Nasir, mengatakan kepada BBC Indonesia Minggu (18/06) lalu, telah mengetahui keberadaan WNI itu dan berkoordinasi untuk upaya pemulangan.

"KBRI sedang melakukan koordinasi secara intensif dengan aparat keamanan di kamp pengungsi tersebut, terkait upaya pemulangan," kata Arrmanatha.(Juft/BBC)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...