25 September 2018

Risiko Pencernaan Akibat Makanan Pedas

Konfrontasi - Rasa pedas telah menjadi ciri khas berbagai makanan di dunia. Selain diyakini manambah selera makan, sensasi pedas juga menyimpan berbagai risiko pencernaan.

Pedas pada makanan bisa didapat dari beberapa hal, yaitu cabai, jahe, dan merica. Cabai merupakan produk yang paling banyak digunakan oleh masyarakat Indonesia untuk mendapatkan cita rasa pedas pada makanan. Dalam cabai terkandung Capsaicin, yang menyebabkan efek pedas pada makanan. Makin kecil ukuran cabai, makin pedas rasanya, karena mengandung makin banyak Capsaicin pada biji dan urat bagian dalamnya.

Capsaicin bermanfaat menstimulasi otak untuk memproduksi endorphin, hormone ‘feeling so good’ yang tidak hanya berguna untuk menghilangkan rasa sakit, tetapi juga mensupport mood yang baik. Selain itu, Capsaicin juga dapat menurunkan gula darah, kolesterol, dan menstimulasi produksi sel mukosa dalam sistem pencernaan.

Dibalik pedasnya cabai terkandung vitamin C dimana tiap 100g cabai mengandung sekitar 143,7 mikrogram vitamin C.Vitamin C adalah antioksidan yang larut dalam air, sangat penting untuk sintesis kolagen, mencegah kulit kasar, dan meningkatkan daya tahan tubuh. Kemampuannya sebagai sumber antioksidan juga patut diakui karena mengandung vitamin A. Cabai juga kaya potassium, manganese, zat besi, dan magnesium. Potassium penting untuk komponen sel dan cairan tubuh yang membantu mengontrol tekanan darah dan denyut jantung. Manganese dan magnesium untukkofaktor enzim. Zat besi untuk pembentukan sel darah merah. Terakhir, cabai juga mengandung vitamin B kompleks.

Rasa pedas bisa juga bermanfaat, namun bisa juga sebaliknya. Rasa pedas pada cabai dapat mengiritasi mukosa tubuh seperti mukosa mata, bibir dan saluran pencernaan. Bagi para penderita maag atau dengan pencernaan yang sensitif, disarankan untuk lebih berhati-hati dalam mengkonsumsi makanan pedas. Adakah batas bagi tubuh untuk mengkonsumsi makanan pedas? Sebenarnya tidak ada batasan dalam mengkonsumsi makanan pedas, karena ketahanan seseorang dengan orang lain akan berbeda. Misalnya ada yang tahan makan 10 cabai, namun ada juga yg tidak tahan walau makan cabai hanya 2 buah saja.

Pada penderita maag, pedas bisa menjadi musuh dalam selimut. Mereka diwanti-wanti untuk menghindari cabai karena sifatnya yang mengiritasi mukosa pencernaan. Meskipun secara ilmiah Capsaicin pada cabai masih menjadi kontroversi, dalam arti ada yang menyatakan baik bagi pencernaan, tapi ada pula yang berpendapat sebaliknya.

Penelitian di Jepang menyatakan bahwa Capsaicin pada cabai bisa menurunkan sekresi asam lambung melalui mekanisme blockade nervus vagus. Sementara penelitian di Belanda mengatakan cabai bisa melindungi lambung dari efek buruk aspirin.

Meskipun begitu, pasien dengan penyakit maag disarankan untuk tidak mengkonsumsi cabai secara berlebihan. Ditakutkan bisa mengakibatkan produksi asam lambung meningkat sehingga memicu timbulnya tukak pada lambung.

Akan tetapi, cabai bukanlah penyebab tukak pada lambung. Ada banyak faktor penyebab terjadinya tukak lambung. Bisa karena sekresi asam lambung yang berlebih, penurunan aliran darah lambung, pemakaian obat-obatan anti nyeri, alcohol, merokok, stress, atau infeksi dari kuman H.Pylori. Jadi bukan cabai yang menyebabkan tukak pada lambung, meskipun Capsaicin pada cabai sebaiknya dibatasi atau dihindari pada penderita maag (gastritis).

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...