Menikmati Sie Reuboh Khas Aceh Besar

Oleh Chairul Bariah

 

ACEH, selain memiliki wisata alam yang asri, juga dikenal dengan wisata kulinernya. Budaya Timur Tengah dan India turut memengaruhi kuliner di Aceh. Kehadiran pedagang dari India (Gujarat) dan Persia ratusan tahun silam ternyata ikut membawa dampak pada tata cara dan penggunaan rempah-rempah sebagai  bumbu utama dalam masakan Aceh. Selain gulai kari atau kuah beulangong, salah satu masakan Aceh yang terkenal adalah sie reuboh. Daging rebus ini kuliner khas Aceh Besar.

Siang itu, setelah menghadiri suatu acara di Kota Banda Aceh,  saya bersama rombongan dari tempat kerja sepakat mencari tempat makan yang khas Aceh Besar. Setelah beberapa tempat yang ditawarkan akhirnya pilihan kami jatuh pada sebuah warung sederhana yang terletak di pinggir jalan Banda Aceh-Medan Km 8 Lambaro, Aceh Besar. Delima Baru namanya.

Hujan yang lumayan deras turut mengiringi saya dan rombongan ke warung ini. Tanpa harus menunggu lama, menu yang kami pesan pun tiba. Banyaknya menu yang disajikan, seperti sie reuboh, eungkot paya (ikan rawa-rawa), gulai kambing, tumis udang, ayam gulai, dan lain-lain membuat saya bingung mau makan yang mana. Terus terang, karena penasaran dengan menu sie reuboh  saya bertanya kepada sahabat saya yang di samping: Yang mana sie reuboh?

Ternyata, sie reuboh ini warnanya kuning keemasan, rasanya  hampir mirip rasa kuah kari dan sedikit pedas jika dibandingkan dengan masakan lain. Sie reuboh ini diracik dengan beberapa campuran rempah, di antaranya cabai merah, cabai rawit, cabai kering, lengkuas, jahe, kunyit, lada, dan bawang putih yang dihaluskan dan ditumis. Kualitas daging yang digunakan tentunya harus yang nomor satu dan sedikit lemak.

Menu ini menjadi pilihan utama bagi yang menyukai daging sapi minim kuah. Rasa penasaran saya terhadap sie reuboh sudah terobati pada hari itu. Satu piring sie reuboh yang disajikan di hadapan saya habis tak tersisa. Menyantapnya fokus dan maknyus.

Sie reuboh yang nikmat dan menggoyang lidah ini mendorong saya untuk bertemu dengan pemilik warung, yaitu Pak Rusli Sulaiman. Pria berusia di atas 50 tahun ini mengatakan, usahanya sudah dimulai sejak tahun 1997. Dia adalah generasi ketiga yang mengelola dan neneruskan usaha warung milik keluarga ini.

“Untuk menjaga agar pelanggan mencintai menu yang tersedia di warung ini, kami selalu menjaga kualitas rasa,  baik itu bahan utama  berupa daging maupun racikan bumbunya. Kami juga memiliki tukang masak yang andal,”  ujar Pak Rusli.

Bagi masyarakat Aceh Besar, sie reuboh  adalah menu utama saat mak meugang, baik saat menjelang puasa Ramadhan maupun Idulfitri. Uniknya, sie reuboh  dapat disimpan dalam jangka lama, bisa lebih dari tiga bulan, dan dapat dipanaskan kapan pun kita mau. Kenapa makanan ini tahan lama? Rahasianya justru pada sistem pengawetannya yang tidak menggunakan bahan pengawet buatan, melainkan hanya menggunakan lemak (gajih) dari sapi.

Lemak dalam jumlah lumayan banyak dimasak berbarengan dengan daging sapi. Setelah masak dan didinginkan, lemak tersebut langsung membalut dan menutupi seluruh daging. Cara ini ternyata efektif  membuat daging menjadi awet karena tertutup lemak yang mengandung gelatin dan berfungsi sebagai zat lilin yang biasa digunakan petani asing untuk melindungi kulit buah jeruk atau apel impor.

 

Satu lagi kunci rahasianya, sie reuboh ini biasanya dimasak di beulangong tanoh (belanga tanah), sehingga kapan pun dipanaskan sangat praktis. Belanga tanah ini juga menyimpan panas lebih lama dan selalu ada tutupnya. Umumnya sie reuboh dimasak menggunakan kayu api, meski tak ada larangan dimasak dengan kompor gas. Sie reuboh juga sangat nikmat dimakan dengan nasi yang hangat atau panas.

Sejauh yang saya amati, sie reuboh yang disajikan di Warung Delima ini tidak hanya disukai oleh masyarakat Aceh Besar dan sekitarnya, tetapi juga wisatawan yang datang dari berbagai daerah, bahkan luar negeri. Belum lagi hilang rasa khas sie reuboh dari lidah  saya, hidangan yang lain yang tak kalah menggodanya pun saya cicipi, yakni ayam tangkap khas Aceh Besar. Nah, menu yang satu ini bahan utamanya adalah ayam kampung muda yang dipotong besar dan digoreng dengan daun kari (teumurui) plus daun pandan, ditambah dengan cabai hijau utuh, kemudian disajikan dalam keadaan panas.

Bagi pelanggan yang tak menyukai daging sapi atau ayam, di warung ini juga tersedia eungkot (ikan) paya, udang tumis, dan ikan kayu (keumamah). Konon, keumamah dan sie reuboh tergolong makanan perang dan menu favorit para pejuang Aceh ketika melawan Belanda pada 1876 hingga 1942. Itu karena kedua menu ini awet alias tahan lama. Jadi, cocok dibawa ke hutan atau ke gunung saat mujahid Aceh harus berlindung ke hutan dari kejaran musuh.

Karena asyik menikmati kuliner khas Aceh Besar ini saya hampir lupa dengan tamu dalam rombongan saya yang sebagian besar belum ada air minum di mejanya. Lalu saya panggil seorang pelayan untuk sesegera mungkin menyediakan minuman segar yang disukai rombongan. Ada beberapa minuman segar yang sangat cocok dengan menu yang disajikan di warung ini, di antaranya air timun serut dan pepaya serut. Umumnya disajikan bersama es.

Masih ada lagi menu yang dapat kita nikmati di tempat ini, misalnya kuah sop daging dan sayur  khas Aceh, yaitu pliek-u (patarana). Hampir semua warung yang menyajikan masakan khas Aceh selalu tersedia menu ini. Campuran  dari beberapa sayuran terutama daun melinjo dan buah melinjo dengan racikan beberapa bumbu di tambah bahan utama kuah pliek adalah pliek-u. Untuk mendapatkan rasa yang lezat gulai pliek-u ini biasanya juga dicampur dengan udang yang berkualitas atau terkadang dicampur dengan siput sedot (chue).

Warung yang dikelola oleh putra Aceh Besar  ini  juga menyediakan menu kuah beulangong masakan khas Aceh Besar yang tak pernah lupa disajikan pada saat menjamu tamu dari luar daerah yang datang ke Aceh.  Semua menu yang disajikan memiliki rasa yang berbeda, tapi memiliki tujuan yang sama, yaitu memuaskan dan memanjakan para pelanggan, memberi kesan mendalam, dan  berharap warung ini menjadi pilihan utama untuk dikunjungi saat ingin menikmati kuliner khas Aceh Besar.

Satu hal yang sangat menarik dari jamuan makan bersama ini adalah jalinan silaturahmi antara sesama. Adanya komunikasi face to face di warung ini sambil menyantap makanan yang rasanya enak dan enak sekali mampu meningkatkan tali persaudaraan serta mampu menghilangkan jarak yang tercipta karena hierarki jabatan.(jft/SERAMBI)

 

 

 

Chairul Bariah, Dosen Fakultas Ekonomi Universitas Almuslim, Peusangan, melaporkan dari Matangglumpang Dua, Bireuen

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...