23 November 2017

Ini 7 Makanan Beracun Yang Selalu Diburu Para Pecinta Kuliner

KONFRONTASI -  Sensasi kenikmatan kuliner kadang membuat kita melupakan bahaya di balik makanan yang hendak disantap. Tak jarang makanan yang paling lezat memang mengandung bahaya. Umumnya bahaya dari risiko keracunan.

Di Indonesia ada tempe bongkrek yang kerap menyebabkan keracunan, tetapi masih dibuat dan diperdagangkan secara ilegal oleh masyarakat. Bagaimana dengan negara lain? Makanan beracun seperti apa yang bisa membuat para penikmatnya mengabaikan risiko demi kelezatan? 

1. Feseekh - Mesir

Feseekh adalah sejenis ikan asin yang jadi salah satu kuliner tradisional khas Mesir. Makanan beraroma menyengat ini banyak ditemui di kedai-kedai khusus produk olahan ikan di Kairo. Bisa menyebabkan keracunan dan dalam beberapa kasus bisa berakhir pada kematian.

Dilansir BBC, pemerintah sudah memberikan peringatan akan bahaya makanan ini setiap tahun. Namun warga Mesir masih juga memburu makanan ini.

Feseekh biasanya disajikan dengan roti baladi, sedikit minyak, kucuran air lemon, dan bawang merah untuk melunakkan rasa asinnya yang tajam. Untuk mencegah hal-hal yang tidak diinginkan, disarankan untuk membeli produk ini dari fasakhani yang bersertifikat. Fasakhani adalah ahli pembuat feseekh yang sudah mempelajari teknik pemilihan bahan dan pengolahannya selama bertahun-tahun.

 

2. Sup kelelawar buah - Guam

 G

Guam, sebuah pulau tropis di benua Amerika memiliki satu hidangan tradisional yang tergolong ekstrem, yaitu sup kelelawar buah. Sup ini dibuat dari kelelawar utuh yang direbus bersama sayuran dan kuah santan.

Dilansir National Geographic, kelelawar buah berkaitan erat dengan penyakit lytico-bodig. Penyakit yang ini disebabkan karena syaraf ini disebabkan karena racun Dichlorodiphenyltrichloroethane (DDT) yang terkandung di dalam jaringan lemak kelelawar. Rupanya kelelawar buah gemar mengonsumsi biji cycadophyta yang mengandung DDT dalam jumlah besar. Selain lytico-bodig, konsumsi daging kelelawar buah tanpa supervisi bisa pula memicu ALS, Parkinson, dan Alzheimer.                            

 

3. Ackee - Jamaika

Ackee, buah yang masih bersaudara dengan lengkeng dan leci mengandung racun hypoglycin yang bisa mengakibatkan mual dan muntah akut. Namun buah tersebut justru menjadi makanan pokok di Jamaika. Warga negara tersebut bahkan punya satu kuliner khas yang tak bisa ditinggalkan, yaitu ackee rebus dengan ikan cod asin. Menu ini bahkan bisa dikatakan sebagai hidangan nasional.

Racun hypoglycin terkandung pada biji ackee yang berwarna hitam. Jika masuk ke dalam tubuh dalam jumlah besar, bisa menyebabkan koma atau kematian. Untuk menghilangkan racun, warga Jamaika biasanya membuang bijinya terlebih dahulu. Kemudian ackee direbus atau dimasak seperti biasa. Cara ini juga diterapkan oleh warga di negara-negara Afrika Barat seperti Kamerun, Gabon, dan Benin yang juga akrab dengan ackee.

 

4. Ikan fugu - Jepang

Olahan ikan fugu atau merupakan salah satu hidangan mewah yang paling dihargai di Jepang. Ikan ini berikut masakannya paling mudah ditemukan di Shimonoseki.

Satu set olahan ikan fugu bisa mencapai delapan jenis masakan, antara lain sashimi, karaage, dan chirinabe. Salah satu faktor yang menyebabkan ikan fugu dianggap sebagai hidangan mewah adalah persiapannya yang sulit. Seorang koki yang bertugas mengolah fugu harus terlatih selama tiga tahun dan mengantongi sertifikat. Pasalnya, ikan ini mengandung racun tetrodotoxin yang bisa mengakibatkan kematian dalam waktu singkat.

Tetrodotoxin terkonsentrasi di bagian yang berbeda-beda pada ikan fugu. Menurut para pecinta kuliner, livernya adalah bagian yang paling lezat. Namun bagian ini pula yang paling beracun, sehingga penyajiannya sudah dilarang oleh pemerintah sejak tahun 1984. 

 
 
 

5. Jamur otak (Gyromitra Esculanta) - Eropa

Jamur otak (Gyromitra Esculanta) atau biasa juga disebut jamur palsu merupakan salah satu bahan makanan yang populer di negara-negara Skandinavia dan Eropa Barat. Biasanya jamur yang bentuknya mirip otak manusia ini dijadikan campuran omelet atau tumisan.

Sama seperti fugu, sebenarnya jamur otak juga cukup berbahaya bagi kesehatan jika tidak dimasak dengan benar. Jamur mengandung racun gyromitrin yang bisa memicu reaksi alergi akut.

Sebelum diolah menjadi makanan, jamur otak harus dikeringikan terlebih dahulu. Jika ingin dikonsumsi dalam keadaan segar, sebaiknya direbus dua kali dan dibilas dengan aur. Dengan cara ini, sebagian besar racun sudah ternetralisir.

 

6. Kodok lembu Namibia - Namibia

Kodok lembu atau giant bullfrog dianggap sebagai makanan lezat di negara-negara Afrika, terutama Namibia yang menjadi habitat utama amfibi ini. Selain itu, masakan dari daging hewan ini juga cukup populer di negara-negara Karibia.

Di banyak negara, bagian tubuh katak yang paling umum disantap hanya kakinya saja. Namun di Namibia, kodok lembu dimasak utuh. Hanya organ dalam dan kulitnya saja yang dibuang. Pasalnya bagian-bagian tersebut mengandung racun dalam dosis yang lumayan mematikan. Kasus keracunan karena menyantap daging hewan ini cukup sering ditemui. Warga setempat menyebutnya oshiketakata yang berarti gagal ginjal temporer.

Kodok lembu relatif aman dikonsumsi setelah musim kawin dan hujan ketiga, karena pada masa-masa ini kandungan racunnya tidak terlalu banyak.

 

7. Hakarl - Islandia

Hakarl disebut-sebut sebagai salah satu hidangan paling berbau di dunia. Namun ada satu hal yang sering dilupakan banyak orang. Hakarl juga termasuk makanan yang bisa membahayakan nyawa.

Hakarl terbuat dari daging ikan hiu Greenland. Ikan predator tersebut tidak memiliki ginjal dan saluran kemih. Jadi semua limbah dan zat beracun disaring di kulitnya. Daging hewan ini juga mengandung racun yang cukup mematikan. Karena itulah pengolahan hakarl membutuhkan proses berkali-kali yang memakan waktu hingga enam bulan.

Agar aman dikonsumsi, daging ikan hiu harus dikubur dalam timbunan batu kerikil untuk menghilangkan semua cairan. Setelah itu, ikan difermentasi, dipotong-potong, dan digantung agar benar-benar kering. Jika sudah siap disantap, hakarl akan berbau seperti ikan busuk dan amonia. Jika proses pengolahannya tidak cukup lama, hakarl bisa mendatangkan berbagai penyakit bagi siapa saja yang mengonsumsinya.(Juft/Merdeka)

 

Tags: 
Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...