19 April 2019

Cerita di Balik Nikmatnya Petai asal Perbukitan Rumpin Bogor

Konfrontasi - Sore itu Godjali, seorang pemetik durian dari Kecamatan Rumpin, Bogor, Jawa Barat menyajikan telur dadar, ikan asin, sambal tumbuk, dan petai muda yang diiris bagian tengahnya agar mudah disantap.

Hidangan sederhana itu sangat terasa nikmat. Petai muda yang baru saja dipetik dari bukit, sambal tumbuk, dan nasi hangat menjadi paduan yang sangat pas.

Petai itu terasa sangat berbeda dari petai yang biasa kami beli di pasar. Petai muda yang masih sangat segar tersebut masih menimbulkan suara “kriyuk” saat kami mengigitnya. Sangat nikmat.

Petai itu kami petik di puncak bukit pada pagi harinya.

Saat itu kami dan Godjali tengah berjalan menuju puncak bukit sekitar Gunung Suling untuk memanen durian.

Mendekati puncak bukit Godjali menghentikan langkahnya dan mengajak kami ke arah pohon petai yang sangat tinggi yang tumbuh di tepi tebing.

“Sebentar ya Bapak metik petai dulu, lumayan buat lalap di rumah,” ujar Godjali.

Tak perlu menunggu terlalu lama, Godjali segera memanjat pohon petai itu. Kami cukup dibuat berdebar saat menyaksikan Godjali memanjat. Pasalnya ranting-ranting pohon tempat Godjali memanjat mengarah langsung ke tebing.

Namun Godjali terlihat sangat lincah mengayunkan kakinya dari ranting yang satu ke ranting yang lain dan memetik beberapa gepok petai.

Petai-petai itu lantas dijatuhkannya ke tanah agar tak mengganggu langkahnya di atas pohon.

Sekitar 15 menit kemudian, Godjali turun dari pohon dan memunguti petai-petai yang sengaja dijatuhkan.

“Kalau petai yang baru saja dipetik begini pasti beda rasanya. Ada manis-manisnya begitu. Beda dengan petai yang dibeli di pasar,” tutur Godjali.

Bagi Anda penggemar petai, merasakan petai segar yang baru saja dipetik dari pohon ini akan membuat pengalaman makan Anda begitu berkesan. (kcm/mg)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...