17 December 2018

Prospek Menjanjikan Budidaya Perikanan

KONFRONTASI-Organisasi Pangan dan Pertanian PBB (FAO) sudah sejak lama menginginkan produksi perikanan global tidak lagi hanya bergantung kepada penangkapan ikan, tetapi juga dalam bidang aquaculture atau budi daya perikanan.

Berdasarkan data FAO pula, kawasan perairan Asia-Pasifik, yang mencakup pula Republik Indonesia, dinyatakan telah berkontribusi terhadap 90 persen produksi perikanan budi daya dunia.

Untuk itu, berbagai langkah yang telah diambil, bukan hanya pemerintah, tetapi juga pihak swasta untuk menggenjot budi daya perikanan, layak diacungi jempol dan diapresiasi.

Misalnya di Bontang, Kalimantan Timur, di mana PT Pupuk Kaltim memiliki program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR) membantu budi daya keramba jaring apung di perairan Kalimantan Timur, untuk meningkatkan ekspor ikan kerapu.

Antara, Senin (17/9), menyambangi keramba jaring apung milik Koperasi Bontang Eta Maritim yang mengelola budi daya sejumlah komoditas perikanan.

Menurut pembudidaya yang juga Bendahara Koperasi Bontang Eta Maritim, Ismail, pihaknya sangat terbantu dengan bantuan yang diberikan untuk mengelola budi daya berbagai jenis ikan.

Marsidik Suharianto dari Kompartemen Umum PT Pupuk Kaltim menjelaskan bahwa Ismail salah satu di antara 10 pembudidaya yang telah disekolahkan pihaknya ke Tanjung Lesung, Banten, untuk belajar budi daya sejumlah komoditas perikanan.

"Dia (Ismail, red.) adalah salah satu pahlawan lokal di sini," kata Marsidik Suharianto.

Sejak diberdayakan pada 2016, kini jumlah orang yang menjadi anggota koperasi tersebut antara 70-80 orang.

Marsidik juga menerangkan untuk ikan kerapu telah memanen sebanyak tiga kali komoditas ikan kerapu dengan panen perdana sekitar 3,2 ton, sedangkan total hasil dari ketiga panen mencapai sekitar enam ton.

Untuk pemasaran, pihaknya berkoordinasi dengan Kementerian Kelautan dan Perikanan, yang kemudian hasilnya ada kapal dari Kendari (Sulawesi Tenggara) yang menampung hasil panen itu.

Selanjutnya, panen ikan kerapu tersebut akan dijual ke berbagai pihak, termasuk potensial untuk diekspor, seperti ke Jepang, Hong Kong, dan Thailand, dengan harga sekitar Rp100 ribu per kilogram.

Pihaknya memberikan seluruh permodalan dan bantuan alat serta prasarana, sedangkan sistem bagi hasilnya 50-50 setelah dihitung biaya operasional.

Ia menuturkan bantuan jenis ini meninggalkan paradigma lama yang sifatnya seperti amal. Bantuan dengan mekanisme seperti ini lebih memberdayakan SDM lokal dan berkelanjutan.

Tidak hanya kerapu, Koperasi Bontang Eta Maritim juga memproduksi banyak komoditas sektor kelautannya, antara lain lobster, yang saat ini sering diselundupkan ke luar negeri.

Penyuluh Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) di Bontang, David Indra, menyatakan sosialisasi dan pemberian pemahaman secara terus-menerus merupakan hal yang penting dalam rangka mencegah penyelundupan lobster.

Banyak melakukan kewaspadaan kepada pembudidaya merupakan salah satu faktor mengapa kasus penyelundupan lobster di daerah Bontang nyaris tidak terdengar dibandingkan dengan daerah lainnya.

Di Koperasi Bontang yang juga menjadi sasaran penyuluhannya, David terus menyosialisasikan bahwa lobster yang berada di bawah ukuran 300 gram dilarang untuk diperjualbelikan.

Sementara itu, Bendahara Koperasi Bontang Eta Maritim, Ismail, juga menyatakan pihaknya mematuhi aturan yang telah ditetapkan.

Harga lobster mutiara termahal di antara semua jenis lobster yang ada, karena dapat mencapai sekitar Rp900 ribu per kilogramnya.

Menteri Kelautan dan Perikanan Susi Pudjiastuti menyatakan kepada para nelayan agar jangan menangkap lobster yang bertelur karena hal tersebut akan menghalangi pengembangbiakan komoditas tersebut sehingga stok yang ada bisa terhambat.

"Coba, tolong kepada para nelayan dan pengepul, (lobster, red.) yang bertelur jangan ditangkap. Biarkan dia bertelur dan menetaskan untuk jutaan lobster yang akan datang," kata dia.

Tentu saja, larangan itu merupakan hal yang penting dalam rangka melestarikan stok kelautan dan perikanan nasional, sehingga pelaku usaha juga tidak hanya berpikir akan produksi tetapi juga kelestarian.

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...