18 August 2019

Perempuan Inggris, Helena Morrissey, Jagoan Finansial dengan 9 Anak

KONFRONTASI -   It's a good time to be a girl. Lewat goresan penanya, Helena Morrissey berharap dapat mengurangi hierarki dan patriarki dalam masyarakat yang seringkali berlaku mengikuti peranti legitimisasi kaidah sosial.

Bertahun-tahun, salah satu pebisnis paling berpengaruh di Britania Raya tersebut berupaya mengangkat pentingnya keragaman gender. Pria dan wanita sepatutnya bahu-membahu sebagai mitra, bukan hanya dalam karir tetapi juga dalam keluarga.

Banyak yang melihat Helena radikal, bukan karena dia seorang Ibu bekerja dengan sembilan anak, pemimpin industri keuangan yang didominasi pria, ataupun pendiri '30% Club' (sebuah inisiatif untuk meningkatkan proporsi direktur wanita dalam jajaran dewan direksi perusahaan di Inggris).

Sikapnya itu lebih karena menyajikan visi masa depan yang bertentangan dengan kebiasaan sosial masyarakat pada umumnya. Helena lugas menginginkan pria dan wanita untuk hidup berdampingan sebagai makhluk yang berbeda sekaligus mitra yang sejajar.

Ia percaya jika masyarakat menciptakan lebih banyak peluang untuk wanita, kesempatan bagi pria pun lebih banyak tergali. Seorang wanita tidak harus menjadi pria untuk dapat dihargai, begitu pula sebaliknya. Gambaran ini sudah dibuktikan dalam kehidupan berkeluarganya.

Sang suami, Richard Morrissey, tak sungkan mengakhiri profesinya sebagai jurnalis finansial untuk mengambil alih peran 'Ibu rumah tangga' mengurusi kesembilan anak mereka.

Simak uniknya sekelumit 52 tahun kehidupan wanita inspiratif ini.

Berenergi Besar

Helena Louise Morrissey lahir pada Maret 1966 di Cheshire dan dibesarkan di Chichester, West Sussex. Di kemudian hari ia menuturkan, betapa kedua orangtuanya yang berprofesi sebagai pendidik pernah direpotkan oleh energi luar biasa yang telah muncul dari dirinya sejak kecil.

Setelah menjalani masa pendidikan di sekolah komprehensif lokal, ia bersekolah di Fitzwilliam College, Cambridge University, dan meraih gelar BA untuk bidang filsafat pada 1987.

Dilansir Standpoint magazine, Helena mampu bertahan dari kondisi anoreksia yang sempat dideritanya. Ia diketahui perfeksionis dan memiliki etos kerja yang besar sedari dahulu.

Karir profesionalnya diawali sebagai seorang analis global fixed income di Schroders, New York. Diakuinya, isu diskriminasi antar gender telah merajalela pada masa itu. Ia bahkan harus mengalami suatu kejadian tak mengenakkan.

“Ketika saya kembali bekerja setelah melahirkan anak pertama, saya tidak mendapatkan kesempatan promosi. Saya sangat kecewa dan benar-benar berpikir bahwa itu pasti ada hubungannya dengan kinerja saya,” ungkap Helena, dilansir Management Today.

Penasaran, ia pun bertanya kepada atasannya tentang apa yang perlu ia perbaiki. Sekonyong-konyong, atasannya menjawab bahwa tidak ada masalah apapun dalam hal kinerja kerjanya.

“Tidak ada yang salah dengan kinerja Anda, tetapi ada keraguan atas komitmen Anda terhadap perusahaan setelah memiliki anak,” cerita Helena di kemudian hari.

Jagoan Finansial

Pengalaman itu membuatnya berpikir ulang tentang karirnya. Ia kemudian memutuskan pindah ke Newton Asset Management, sebuah perusahaan yang saat itu berskala lebih kecil dan lebih menerapkan sistem meritokrasi.

Karir Helena melejit di perusahaan ini. Hanya dalam beberapa tahun setelah bergabung dengan Newton, ia ditunjuk sebagai CEO perusahaan.

Selama masa jabatannya, Jumlah Dana Kelolaan (Asset Under Management/AUM) Newton tumbuh dari £20 miliar menjadi £50 miliar. Di bawah kepemimpinan Helena pula, perusahaan mampu mengembangkan sejumlah strategi terdepan pasar dalam hal return, pendapatan ekuitas, dan ekuitas global.

Tak cukup menunjukkan kecemerlangan di Newton, Helena memperluas pengaruhnya dengan mendirikan '30% Club” pada 2010. Melalui inisiatif ini, proporsi wanita dalam susunan Dewan Direksi perusahaan di Inggris mencapai lebih dari dua kali lipat selama lima tahun berikutnya.

Dilansir Legal and General Group, Helena juga pernah mengepalai The Investment Association dan ambil bagian dalam Financial Services Trade and Investment Board. Nama harum Helena diganjar gelar kehormatan Commander of the Order of the British Empire pada 2012.

Dengan segudang prestasi yang direngkuhnya, pantaslah jika ia didapuk masuk daftar 'World's 50 Greatest Leaders' versi Fortune Magazine pada 2015 dan 'Person of the Year' pada 2017 oleh Financial Times.

Segala sesuatu memang akan ada saatnya. Pada 2016, dunia bisnis terkaget-kaget ketika ia mengumumkan mengundurkan diri setelah 15 tahun menjabat sebagai CEO Newton Investment Management.

Kembali ke Keluarga

Keputusannya turun dari posisi puncak dengan raihan luar biasa di usia ketika banyak orang belum tentu dapat mencapainya menjadi pertanyaan banyak orang.

“Saya belum menggantung sepatu kok. Saya memiliki pekerjaan besar lainnya dalam diri saya. Hidup bukan tentang mencapai garis akhir, itu adalah rangkaian,” responsnya, dikutip The Telegraph.

Apa yang ia nantikan tampaknya adalah waktu untuk refleksi diri setelah bekerja selama 30 tahun. “Saya tidak mencari status pekerjaan. Saya tidak merasa perlu membuktikan diri,” katanya.

Pastinya dengan mundur dari karir profesionalnya, akan ada lebih banyak waktu yang dapat dihabiskan oleh Helena dengan keluarga tercinta. Bersama Richard, yang ia kenal saat berkuliah di Cambridge, Helena memiliki sembilan anak.

Kesembilannya terdiri dari tiga anak laki-laki dan enam perempuan. Anak kedua mereka, Flo Morrissey, sukses menapaki karir musik dan telah melengkapi keluarga itu dengan kehadiran cucu pertama.

Ada kalanya ia merasa kehilangan sebagian waktu dengan bekerja di luar rumah. Namun, ia menyadari belum tentu akan ada cukup waktu untuk dibagi kepada kesemua anaknya meskipun ia ada di rumah.

"Ada saat-saat di mana saya pikir seharusnya bisa lebih menyesuaikan. Beberapa di antara mereka suka bercerita, tapi dengan yang lainnya Anda bisa melewatkan tanda-tanda bahwa mereka butuh berbicara. Itu yang saya sesali,” ujar Helena.

“A Good Time to Be a Girl”

Dalam buku berjudul “A Good Time to Be a Girl” yang ditelurkan pada awal tahun ini, Helena seakan ingin menepis label 'Super Mom' terhadap dirinya. Ia justru memberi kredit pada peran suaminya di dalam rumah. Tanpa sang suami, belum tentu ia sesukses saat ini.

Richard sukarela mengalah dan meninggalkan profesinya sebagai seorang jurnalis saat berusia 35 tahun pascakelahiran anak keempat mereka. Meski dikelilingi banyak anak yang lucu dan menyenangkan, ia bisa merasa 'sepi' dan 'frustrasi'.

Buku itu mengungkap babak saat suaminya harus berupaya menghibur diri dengan resep-resep cocktail tanpa alkohol dan serial komedi Amerika Serikat 'Modern Family' untuk dapat melalui segala kesemrawutan mengurusi 11 orang sekaligus.

Menurut Richard, bagian tersulit dari perannya merawat anak-anak mereka adalah pandangan masyarakat tentang seorang ayah yang tidak bekerja dan tinggal di rumah.

“Dalam masyarakat kita, menjadi orangtua tidak dilihat sebagai peran full time yang berarti, terutama bagi seorang pria, mengingat kurangnya penghasilan,” tutur Richard, dikutip Daily Mail.

Isu ini pula yang coba disoroti Helena dalam bukunya. Dalam rumah tangga, pria masih dilihat bertugas sebagai pencari nafkah, sedangkan wanita harus siap sibuk di dapur.

Mengapa ini harus menjadi semacam aturan? Mengapa pendekatannya tidak bisa lebih fleksibel?

“Kami sekarang mencari lebih sedikit dari sekadar berganti peran dan lebih banyak untuk berbagi aspek berbeda dari apa yang diperlukan untuk membangun keluarga, menghasilkan uang, dan mengembangkan karir,” tandas Helena, dikutip Harper's Bazaar.

Secara garis besar, ia telah menuliskan sebuah buku yang lugas dan instruktif dengan gaya bahasa hangat, didasarkan pada tujuannya untuk mendapatkan keseimbangan gender yang lebih baik serta memodernisasi praktik kerja.

Buku ini sepertinya cocok jadi referensi bagi Anda yang ingin sukses dalam pekerjaan dan keluarga, khususnya mendambakan banyak anak.(Jft/Bisnis)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...