22 July 2018

Meski Musim Kemarau, Usaha Binatu Tak Pernah "Kering"

Konfrontasi - Ladang bisnis jasa mencuci pakaian alias laundry di tanah air semakin 'basah'. Kini, kian banyak pelaku usaha mencoba peruntungannya di bisnis ini. Salah satunya Deddy Kurniawan asal Banda Aceh. Di kota serambi Mekkah itu, Deddy membuka usaha binatu  bernama Delaundry Aceh.

Deddy merintis usaha Delaundry Aceh pada tahun 2009. Melihat cerahnya potensi bisnis binatu, ia mulai mencoba menawarkan kemitraan Delaundry Aceh pada pertengahan tahun 2015. Saat ini, Delaundry Aceh baru memiliki satu gerai di Banda Aceh dan belum punya mitra.

Bagi calon mitra yang berminat bergabung, Deddy menawarkan dua paket investasi, yakni senilai Rp 50 juta dan Rp 150 juta. Fasilitas yang bisa didapat mitra dari kedua paket itu, antara lain, mesin cuci, mesin pengering, setrika uap, printer, komputer, timbangan, SOP, pelatihan, dan seragam karyawan.

Perbedaan kedua paket investasi hanya terletak pada jumlah dan merek mesin cuci yang didapat mitra. Contohnya untuk paket Rp 50 juta, mitra akan mendapatkan dua mesin cuci dan satu mesin pengering. Sementara paket Rp 150 juta, mitra akan dapat empat mesin cuci dan dua mesin pengering.

Namun, kedua paket investasi belum termasuk biaya sewa tempat. Mitra juga wajib menyediakan karyawan minimal empat orang yang masing-masing akan bertugas sebagai kasir, cuci, setrika, dan penamaan pakaian yang telah dicuci.

Layanan jasa laundry

Paket investasi Delaundry Aceh berlaku lima tahun. Jika kontrak habis, mitra bisa memperpanjang kerjasama sesuai kesepakatan kedua pihak. Mitra juga akan dipungut biaya royalty fee per bulan sebesar 5% dari total pendapatan. Selain itu, mitra juga wajib beli bahan baku detergen dari pusat.

Delaundry Aceh menyediakan jasa cuci pakaian dengan sistem satuan dan kiloan. Tarifnya dibandrol berkisar Rp 15.000 per kilogram (kg) dan Rp 35.000 per kg.

Deddy mengklaim, keunggulan Delaundry Aceh adalah punya pengalaman bisnis binatu selama lima tahun dan didukung tenaga profesional di bidangnya. Sistem operasionalnya juga dilengkapi teknologi modern, seperti penggunaan timbangan digital, komputer, dan printer. "Layanan kami juga lebih cepat, jasa binatu bisa selesai dalam waktu lima jam hingga dua hari," katanya.

Deddy mengaku, dalam satu bulan, Delaundry Aceh bisa meraup omzet Rp 25 juta dengan laba bersih sampai 50%. Mitra diperkirakan bisa balik modal dalam waktu 10 bulan-12 bulan.

Khoerussalim, pengamat waralaba dari Enterpreneur College menilai, hal yang perlu diantisipasi oleh mitra pebisnis Delaundry Aceh adalah pemilihan segmen pasar. Bisnis jasa binatu jangan hanya menyasar pelanggan individu, tapi juga perusahaan. "Mitra juga harus perhatikan kualitas layanan, karena mencuci pakaian butuh perawatan ekstra," katanya. (kntn/mg)

Category: 
Loading...