26 June 2019

Meraup Laba dari Bisnis Gelas Kertas

Konfrontasi - Kemasan tidak lagi dipandang sebagai wadah penyimpan atau pembungkus produk belaka. Di masa kini, baik konsumen maupun produsen sama-sama menganggap kemasan sebagai faktor penting keberhasilan suatu produk. Berbagai inovasi pun dilakukan pada kemasan.

Kepedulian yang tinggi terhadap lingkungan juga turut mempengaruhi tren kemasan beberapa tahun belakangan. Nah, salah satu solusi akan kemasan yang ramah lingkungan adalah menggunakan kemasan yang terbuat dari kertas, seperti gelas kertas (paper cup).

Ada beberapa alasan kemasan jenis ini jadi pilihan banyak pengusaha makanan dan minuman. Selain karena ramah lingkungan, paper cup juga praktis untuk dibawa dan aman untuk produk konsumen, baik panas ataupun dingin.

Lioe Susanto Widjaja, Presiden Direktur PT Indo Right Pack (IRP), bisa dibilang salah satu orang yang paham akan industri paper cup. Sejak 1996, pria yang akrab disapa Susanto ini sudah akrab dengan proses pembuatan paper cup. Maklum, dia pernah bekerja di sejumlah produsen paper cup negeri ini.

Lantas, Susanto membuka usaha sendiri pada 2010. Menurut dia, paper cup pertama kali diproduksi di dalam negeri sekitar 1987 oleh Inpack Pratama. Kemudian, pada tahun 1990-an, perusahaan yang menjajakan makanan cepat saji mendirikan anak usaha yang memproduksi paper cup. Dari situlah, industri paper cup dalam negeri berkembang pesat. “Dulu produsen paper cup merupakan perusahaan besar karena usaha ini butuh modal yang sangat besar,” ujar Susanto. Namun saat ini, Susanto bilang, sudah ada beberapa produsen kecil yang terjun ke industri pembuatan paper cup.

Dibandingkan dengan kemasan yang terbuat dari plastik, harga paper cup memang jauh lebih mahal. Selisih harga antara keduanya bisa mencapai 40%. Toh, penggunaan paper cup terus meningkat dari tahun ke tahun. Jumlah UKM yang bertambah juga mendukung peningkatan permintaan paper cup. “Industri ini juga didukung oleh tingkat pendapatan yang semakin meningkat dan masyarakat yang lebih peduli terhadap lingkungan,” kata dia.

Di beberapa negara di Asia, seperti Jepang dan Korea Selatan, penggunaan kemasan dari plastik maupun styrofoam sudah tidak diperbolehkan. Bahkan, produsen kemasan plastik diwajibkan membayar pajak lingkungan. “Makanya banyak produsen di luar negeri lebih tertarik memproduksi paper cup,” tambah dia.

Meskipun aturan itu belum berlaku di dalam negeri, tapi kesadaran masyarakat untuk menjaga lingkungan sudah mulai tumbuh. Susanto pun menegaskan peluang untuk merintis usaha seperti ini cukup cerah. “Sekarang persaingan sudah mulai ketat, ditambah dengan produsen kecil yang cenderung merusak harga pasar untuk mendapat order,” ucap dia.

Di IRP, Susanto menerima order untuk paper cup dengan beragam varian seperti single polyethylene (PE) coated paper cup dan double PE coated paper cup. Ukuran isinya juga bermacam-macam, dari yang kecil 2,5 oz sampai 16 oz.

Susanto memasarkan paper cup dengan kisaran harga Rp 175–Rp 500 per item. Ia menetapkan minimal order sebanyak 25.000 item. Akan tetapi, untuk membantu pelaku UKM, ia menerima orderan 10.000 item dengan tambahan harga Rp 25 per item.

Dalam sebulan, Susanto bisa memproduksi hingga 2,5 juta paper cup. Jadi, ia bisa mengantongi ratusan juta rupiah dari usaha ini. Sementara itu, laba bersih dari pembuatan paper cup diakui Susanto tidak terlalu besar. “Kalau dulu saya bisa mengantongi untung sampai 20%, tapi karena makin banyak pemain di usaha ini, keuntungan pun hanya 8%,” ungkap dia.

Produsen paper cup lainnya ialah PT Nilam Sukses Mandiri (Nisuma) yang mulai usahanya sejak 2009. Jeanne Tjan, Account Manager Nisuma, menuturkan, tiap tahun terjadi peningkatan yang lumayan besar. Pasalnya, banyak merek waralaba dari luar negeri merambah pasar Indonesia. “Standar mereka untuk kemasan cukup tinggi terutama mengenai lingkungan, jadi itu mendorong pertumbuhan permintaan paper cup di sini,” ucapnya.

Selain menyasar pasar UKM yang terus bertumbuh, Nisuma juga mengekspor produknya ke beberapa negara di Asia, seperti Malaysia, Singapura, dan Thailand. “Masyarakat saat ini sudah paham mengenai food grade dan kemasan merupakan salah satu poin utama dalam penjualan,” ujarnya. Kemasan yang berkualitas serta ramah lingkungan membuat konsumen tertarik akan suatu produk.

Menurut Jeanne, paper cup yang berkualitas bisa dilihat dari performa secara fisik. Paper cup harus kokoh ketika dipegang. Kekokohan itu didapat dari bahan baku yang berkualitas baik. Selain itu, keamanan juga harus diperhatikan. “Kami sudah memegang sertifikat HACCP sehingga klien sudah tahu bahwa produk kami aman sebagai kemasan makanan dan minuman,” kata Jeanne.

HACCP yang singkatan dari Hazard Analysis & Critical Control Points merupakan sistem manajemen untuk memastikan sebuah makanan layak untuk dikonsumsi. HACCP disusun FDA, pengawas makanan dan obat di Amerika Serikat (AS).

Saat ini, Nisuma memasarkan berbagai ukuran dan jenis paper cup dengan harga berkisar Rp 500–Rp 1.000 per cup. Adapun kapasitas dari pabrik Nisuma mencapai 18 juta paper cup saban bulannya. (kntn)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...