Mentan Tantang Generasi Milenial Jadi Petani, Berani?

KONFRONTASI-Menteri Pertanian Syahrul Yasin Limpo mengatakan bahwa generasi milenial harus mau dan berani menjadi petani atau mendirikan perusahaan rintisan (startup) di bidang pertanian.

"Yang paling pasti itu membuat startup pertanian. Jadi kalau kita mau membenahi, menurut saya selain ekonomi ini juga membuka lapangan kerja yang pasti," kata Mentan pada kegiatan 100 hari kinerja Menteri Pertanian dengan mengusung tema membangun sinergi untuk pertanian maju, mandiri dan modern di Jakarta, Jumat.

Sebagai contoh, ia mengumpamakan jika seseorang membuka usaha tambang, setidaknya butuh waktu 10 hingga 20 tahun baru memiliki hasil. Begitu juga dengan usaha industri bisa memakan waktu minimal lima atau enam tahun.

Namun, jika milenial mau bertani dengan cara yang maju dan inovatif termasuk mendirikan perusahaan rintisan di bidang pertanian, bisa menghasilkan uang dalam waktu singkat.

"Kalau kau bertani, hari ini kau tanam maka tunggu 100 hari pasti ada hasilnya," ujar dia.

Contoh lain, kata dia, salah satu perusahaan rintisan berbasis pertanian di Pangalengan, Jawa Barat, yang bisa menghasilkan Rp200 juta per bulan.

Menurutnya, salah satu kekhawatiran atau keengganan milenial untuk bertani ialah anggapan harus bersentuhan dengan lumpur dan semacamnya. Padahal, dengan kemajuan zaman saat ini beragam teknologi bisa dimanfaatkan untuk mempermudah pekerjaan.

Oleh karena itu, pemerintah melalui kementerian terkait akan terus mendorong generasi milenial agar mau membuka usaha rintisan di bidang pertanian yang memanfaatkan teknologi.

"Ini sekaligus bagaimana pemerintah mendeteksi apa saja yang dibutuhkan generasi milenial apabila mendirikan perusahaan rintisan dengan beragam pendekatan," katanya.

Dengan beragam peluang dan potensi di bidang pertanian tersebut, Syahrul mengajak para generasi milenial untuk membuka wawasan lebih luas dalam memajukan perekonomian khususnya di bidang pertanian.(mr/tar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA