20 June 2019

Kisah Sukses Iwan Sunito: Dulu Minder Tak Naik Kelas, Kini Jadi Pengusaha Properti di Australia

KONFRONTASI -   Iwan Sunito merupakan pendiri dan pemimpin Crown Group. Crown Group sendiri merupakan salah satu perusahaan properti terbesar di Australia.

Baru-baru ini, Southern Courier yakni media yang berafiliasi dengan News Corp Agency memasukkan Iwan sebagai salah satu dari 20 orang paling berpengaruh di New South Wales, Australia.

Iwan berada di posisi 16 dalam daftar tersebut. Dia, merupakan satu-satunya orang yang lahir di Indonesia.

 Iwan berbagi pengalaman serta pandangan hidup dalam membangun bisnisnya. Berikut petikan wawancaranya:

 Waktu kecil kepikiran nggak sih jadi pengusaha properti sukses?
Enggak juga, menarik ya kalau dipikir-pikir.I never told anyting. Malah kalau dipikir-pikir waktu kecil punya pikiran merasa gagal saja. I fell like i was not good. Betul-betul nggak pinter, betul-betul kok bodo, membuat saya malah minder jadi orang.

Tapi mungkin ada baiknya juga, jadi perjuangan mengalahkan masa minder itu, sampai nggak naik kelas kan.

Kemunduran itu yang kita bisa menangkan, yang menjadi basis di manamindset diubah. Seandainya kalau nggak ada perjuangan mungkin nggak sama. Kalau perjuangan itu saya mikir ya kita berusaha saja, yang penting you try, buktinya dulu bisa harusnya bisa.

Pengalaman hidup saya dari situ, you can only do better. Hidup itu usaha lebih baik lagi. Saya orang yang mungkin dream bigdan nggak untuk takut memulai.

Tapi impian gede itu nggak start karena di awal lho, impian kecil banget asal dapat sekolah saja, nilai, tapi i willing to start. Tapi sudah mulai saya nggak naik kelas, lalu saya belajar kumpul dengan orang pintar-pintar, nggak sengaja ya, keberanian itu membuat saya tambah berani, kepercayaan diri.

Orang itu kan nggak bisa diajari percaya diri kecuali melalui kegagalan lalu berhasil. Eh bisa juga, the next level lagi.

Dari hal itu saya juga belajar the power of dream dalam hidup kita, impian yang besar tapi saya realistik orangnya. Saya bukan terlalu muluk-muluk. Somehow, mungkin training architect membantu i can imagine, bisa memimpikan, ada suatu visual kuat ini membantu saya.

Saya pikir-pikirkan, eh sambil jalan kok ada saja yang bisa kelihatan. Jadi itulah mengubah saya, karena saya berani untuk bermimpi yang much bigger daripada yang saya mampu sekarang.

Minder itu bagaimana maksudnya?
Karena memang nilainya nggak karuan, sama pada waktu itu memang sekolahnya nggak bagus, prestasi sport juga jelek. Dan saya bukan satu pemimpin. Lama-lama orang ngomong, minder karena sendiri merasa bodoh, orang lain juga ngomong, goblok banget lu (tertawa).

I have to say, journey dari hidup saya banyak terlibat dengan dunia sosial lama-lama membantu saya untuk lebihconfidence itu yang membuat tahu-tahu dari nggak naik sekolah, waktu ke Sydney orang lain bisa saya harus bisa juga, kita bisnis berpikir begitu, orang lain bisa kenapa nggak bisa.

Saya belajar setelah dapat visi, belajar kaya orang mau jalan ke suatu kota yang dia nggak kenal, dia harus membuat peta jalan gimana. Bagi saya step-nya gampang, step satu visinya apa, step dua jalan A ke B gimana, gimana tahu jalannya tanyalah orang-orang yang sudah tahu ke arah sana, orang sudah mengerjakan, orang yang sudah berhasil, orang yang sudah melakukan itu.

Belajar dari orang seperti itu, jangan gagal terusan, boleh belajar, gimana dia bisa gagal, kenapa dia gagal. Tapi jangan karena itu lalu berkata dia gagal kita juga gagal, karena orang lain berhasil kenapa yang lain gagal.

Ketiga saya yang satu visi, kedua bikin peta jalan, ketiga yang paling punya sikap belajar untuk jadi pemenang. Jangan melihat segala kalau nggak berhasil lalu gagal, kita belajar saja. Proses aja.

Titik mana bangkit dari rasa minder itu?
Mungkin titik berbalik saya waktu tabrakan di Bali, waktu tabrakan truk itu betul-betul cacat, tulang ini kan putus, beberapa retak, tabrak mobil truk, sama sepeda motor. Saya pikir kok masih hidup, kaya satu inspirasi bahwa pastinya ada rencana besar, kalau nggak mati duluan, ini mengubah paradigma saya.

Kembali lagi, visinya terbentuk sesuatu yang besar. Dari situ saya mulai fighting that, tapi hidup menurut saya karunia maksudnya suatu pemberian dari Atas dalam hal hidup itu kumpulan daripada rencana-rencana kita yang kandas, banyak yang kita rencakan nggak jadi, yang tidak direncanakan dikasih. Siapa sih yang milih tabrakan, siapa yang milih nggak naik kelas.

Begitu nggak naik kelas, tabrakan, ditaruh kumpulan kelas terbaik. Mengubah mindset, teman saya, lingkungan saya. Itu kan tidak rencana. Rencananya saya mau kelas ternyata nggak naik kelas, kalau nggak naik ya sudah tapi tabrakan, musibah, kaya karunia diberikan kegagalan kesuksesan.

Kapan tabrakan itu?
Umur 17 tahunan di Bali waktu itu, nggak naik kelas jalan-jalan lagi, SMA kelas 2. Nggak naik kelas, tabrakan. Hebat.

Kapan dapat kelas bagus?
Setelah nggak naik kelas 2.

Kalau kita mau berubah, berubah lah di lingkungan kita, ada pepatah orang berjalan orang bijaksana akan menjadi bijaksana.

 Bagaimana membangun bisnis Crown dan bertahan dari krisis?
Krisis pertama ya memulai perusahaan, susah banget, kita nggak punya staf, nggak ada kerjaan, nyari proyek baru, tapi paling indah juga kita looking back.

Lalu, krisis 1997-1998 krisis ekonomi Asia, itu juga, satu masalah 2004 residencial property di New South Wales itu setengah mati, betul-betul keringet dingin.

Tapi pada waktu perusahaan itu sudah gedean ongkos makin besar, orang kan sering kali mikir makin gede makin santai, gede sama aja, problemnya lebih gede.

Global financial krisis 2008 to me tiap krisis belajar banyak banget. Jadi setiap kali ada pertumbuhan baru masalah baru, exciting. Bukannya kita lalu mundur tapi makin maju.

Karena banyak waktu krisis perusahaan nggak bagus tumbang, ada perkataan bahwa semua kapal terapung kalau air pasang, tapi begitu surut kapal bagus aja yang terapung.

Jadi sama juga dengan bisnis, anjurannya saya, kerjakan sesuatu yang seumur hidup untuk kerjakan itu. Karena pengalaman skill dibangun menjadi yang terbaik. Sehingga orang lain mikir kok susah banget untuk kita gampang. Nggak beda orang latihan badminton, pertama susah banget, setelah jadi juara tahu geraknya kemana, tapi perlu 10-20 tahun untuk jadi jagoan begitu. Kalau sedikit-sedikit keluar kerjaan, apa yang dipelajari karena susah, kita nggak tertanam. Kaya pohon yang dicangkokin terus akarnya nggak pernah dalam.

Anda jadi orang berpengaruh di Australia, bagaimana tanggapannya?
Pikiran saya pertama this is nice kaya Indonesia naik daun, saya nggak pikir pribadi saya, saya cuma pikir Muhammad Zohri bisa jadi yang terbaik, ko sekarang ceritanya ada di Australia. I hope jadi satu kebanggaan untuk bangsa Indonesia. Dan saya yakin punya persepsi yang diubah, kayak dulu China dianggap kurang bagus sekarang Australia anggap China the biggest.

Saya pikir waktunya Indonesia lah. Dulu dianggap tradisional, tapi Indonesia ekonomi terbesar di southeast Asia, jadi nice, ya kaget jugalah, menarik juga.(Jft/Detik)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...