18 August 2018

Ketika Anak-anak Muda Menjadi Jutawan Berkat Video Game: Page 2 of 2

Video game serius untuk mempromosikan suatu gerakan

Banyak anak muda memanfaatkan demokratisasi sumber daya ini untuk menjadi inovatif dalam satu hal: mempromosikan ide-ide untuk membuat masyarakat jadi lebih baik. Game yang mengangkat tema identitas gender, politik budaya, atau perawatan kesehatan mental.

Sebagai konsep, ini juga bukan hal baru. Program Pangan Dunia merilis hal yang mereka sebut "video game kemanusiaan pertama" nyaris 13 tahun lalu. Permainan itu bernama Food Force, dirilis dalam tujuh bahasa dan bertujuan mengajarkan anak-anak tentang bencana kelaparan di dunia.

Tapi yang baru ialah para pengembang video game pemula ini membuatnya sendiri, dan bahkan berniat menjadikannya sebagai karier.

"Ada orang-orang yang datang ke kampus untuk membuat gim yang serius karena mereka ingin membuat perubahan," kata Altizer.

Altizer sendiri melakukan ini di laboratorium Permainan dan Aplikasi Terapeutik di Universitas Utah, yang berfokus dalam menciptakan gim yang membantu pasien cedera tulang belakang melakukan latihan untuk mencegah rasa nyeri karena pemakaian kursi roda, atau gim yang melatih petugas sosial mengenali bahaya bagi anak-anak dengan memandu mereka dalam tur realitas virtual ke rumah-rumah fiktif.

Tapi internet tidak hanya memungkinkan 'kids zaman now' membuat gim mereka sendiri; beberapa anak muda memanfaatkannya untuk mencari nafkah sebagai penghibur.

Elspeth Eastman bermain video game dan menyiarkannya di situs Twitch. Ia telah mengumpulkan 103.000 pengikut.

Eastman mengaku menghabiskan $2000 (sekitar Rp28,5 juta) untuk komputer baru tak lama setelah lulus kuliah, demi mencoba menjadi seorang streamer. Sekarang, Eastman mencari nafkah dengan melakukan apa yang disukainya.

"Saat ini saya duduk di dalam ruangan 90%-nya berisi kabel dan komputer," kata Eastman ketika diwawancarai lewat sambungan telepon dari studionya. "Di bisnis ini, Anda benar-benar sendiri. Anda harus melakukan semuanya: Anda penata cahayanya, sekaligus penampil di atas panggung."

Nantinya, ikhtiar ini bisa berujung pada kerja sama iklan atau layanan berbayar, dengan sebagian keuntungannya mengalir ke streamer. Tapi bagi banyak streamer baru, mereka harus meminta donasi dari para penonton. Butuh waktu lama untuk mengumpulkan penonton sebelum bisa menghasilkan uang.

"Dalam model langganan tetap, atau patronage, penampil mendapat pemasukan tetap dari para penontonnya. Model ini sangat umum," kata Altizer.

Eastman dan seorang streamer lainnya bernama Valkyrae (bukan nama asli), yang memiliki 200.00 pengikut dan telah bekerja penuh waktu sebagai streamer selama tiga tahun, menekankan pentingnya membangun jaringan dan mempromosikan diri sendiri di media sosial, atau kolaborasi dengan sesama streamer yang pengikutnya lebih banyak.

Dan seperti dalam pengembangan aplikasi DIY, sifat streaming yang berbasis komunitas juga bisa dimanfaatkan untuk tujuan baik. Valkyrae mengungkap kegiatan streaming untuk amal yang ia ikuti pada Natal tahun lalu berhasil mengumpulkan $8.700 (sekitar Rp124 juta) dalam enam jam. Uang yang terkumpul kemudian disumbangkan ke rumah sakit anak St. Jude.

"Seorang pelanggan saya menderita kanker dan butuh operasi," tuturnya. "Dan kami urunan untuk membantu membayar biaya operasinya, yang mencapai sekitar $8.000 (Rp114 juta). Anda bisa membantu orang lain secara finansial – saya membantu ibu saya berkat semua penghasilan tambahan yang saya dapat ini."

Pemain video game profesional

Tapi mungkin jalan paling ambisius – dan menguntungkan – menuju kesuksesan yang tidak tersedia di arus utama satu dekade lalu ialah pemain game profesional. Kebanyakan orang di profesi ini berusia duapuluhan atau lebih muda.

Olahraga yang disebut eSportsini diperkirakan menarik 600 juta penonton dan bernilai $1,4 miliar (20 triliun) pada tahun 2020. Komite Olimpiade Internasional bahkan mempertimbangkan untuk menyertakannya dalam rangkaian acara resmi.

Sumail Hassan adalah pemain game profesional termuda yang memenangkan $1 juta dari eSports. Ia telah meraup lebih dari $2,5 juta dengan bermain Dota, sejenis online multiplayer game. Ia menyebut bermain gim sebagai pekerjaan penuh waktu.

"ESports baru mulai populer ketika saya memulai karier pada 2015," kata Hassan. Usianya kini 19 tahun, tapi ia telah bermain gim sejak 7 tahun.

"Saya tahu bermain video game adalah kemampuan terbaik saya, jadi saya memutuskan untuk menjadi profesional."

Altizer mengatakan Universitas Utah menawarkan beasiswa untuk eSports, dan universitas mempunyai program kompetisi eSports yang mengadu para pemain dengan satu sama lain dalam gim seperti League of Legends dan Overwatch.

Layaknya para atlet profesional, peluang untuk menjadi pemain eSports ternama dunia sangatlah tipis.

"Ini mungkin bukan jalan menuju ketenaran dan kekayaan dengan memenangkan turnamen internasional. Seperti sekolah sambil bermain lacrosse - tidak banyak orang yang menghasilkan jutaan dolar sebagai pemain lacrosse," kata Altizer.

Hassan berkata ia akan fokus pada kariernya sebagai pemain gameuntuk saat ini, tapi menyarankan kepada orang lain untuk tetap bersekolah dan melanjutkan pendidikan. (Ini sikap yang juga dipegang oleh streamer Eastman dan Valkyrae.)

"Jangan terlalu mengandalkan bermain gameuntuk mencari nafkah," kata Hassan.

Rencana untuk masa depan?

Baik itu eSports, streaming,atau mengembangkan video gamesendiri dari kamar Anda, industri game telah berkembang pesat dalam dua dekade terakhir, dan banyak karier baru ini lahir bersama pertumbuhan internet.

Kesuksesan di bidang ini membutuhkan banyak keterampilan selain pemrograman komputer: kepribadian yang menarik di depan kamera, memasarkan diri sendiri di media sosial, dan banyak lagi.

Tapi kebanyakan orang tidak berakhir di studio besar membuat Call of Duty berikutnya, atau menjadi juara turnamen World of Warcraft, atau streamer di Twitch dengan jutaan pengikut. Dan itu bukan hal yang buruk, karena anak muda sekarang punya lebih banyak kesempatan untuk masuk ke industri game.

Altizer mengibaratkannya dengan industri musik: "Mungkin terdapat lebih banyak orang yang bekerja di industri yang mendukung musik daripada mencari nafkah sebagai musisi," ujarnya.

"Lebih gampang mendapat pekerjaan menyetem gitar di toko alat musik daripada tampil bersama band di atas panggung."[mr/bbc]

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


loading...