Karpet dari Anyaman Serat Pohon Pisang Rambah Mancanegara

KONFRONTASI-- Karpet produksi Palembang, Sumatera Selatan, kini mendunia. Produk kerajinan itu, mampu menembus pangsa pasar Amerika, dan Eropa. Bahkan, di tengah pandemi COVID-19 bengkel anyaman ini tidak satupun merumahkan pegawainya.

Bengkel anyam milik Djunaidi di Jalan Sukarela kilometer tujuh Palembang, terlihat puluhan pekerja larut dalam kesibukannya membuat karpet yang terbuat dari serat pohon pisang.

Mereka larut dengan berbagai peralatan yang dipegangnya, untuk menciptakan lembaran karpet yang indah. Para pekerja nampak sibuk dengan peralatan seperti alat tenun bukan mesin (ATBM), palu, paku, lem, dan gunting.

Serat pohon pisang yang digunakan, menurut pemilik bengkel anyam karpet serat pohon pisang, Djunaidi, khusus serat pohon pisang Abaca, alias Abaca Fiber, yang diimpor dari Filipina, dan Ekuador.

"Serat pohon pisang Abaca ini sengaja kami pilih untuk bahan utama pembuatan karpet, karena memiliki kualitas yang bagus. Serat bisa tahan lama, sehingga karpet yang dihasilkan juga akan bagus," tuturnya.

Proses pembuatan karpet ini dimulai dari memintal serat pohon pisang Abaca, menjadi tali di bagian pemintalan. "Tiga lembar serat dijadikan satu, sehingga menjadi tali yang lebih tebal," terangnya.

Tali itulah yang akan dirajut menjadi berbagai jenis kerajinan, di antaranya karpet atau pun keset kaki, tatakan dengan berbagai motif. Sementara untuk karpet ukuran terbesar, yakni 9 x 9 meter, diproduksi dengan metode merajut secara vertikal.

Meskipun tanpa motif, proses produksi karpet ukuran besar ini bisa memakan waktu 1-3 bulan, karena memiliki tingkat kesulitan tersendiri dalam proses merajutnya secara vertikal.

Produk karpet serat pohon pisang Abaca ini, diklaim Djunaidi baru satu-satunya di Indonesia. "Karpet ini murni handmade, dan dibuat hanya berdasarkan permintaan yang rata-rata berasal dari Amerika, Inggris, Belgia, Turki, dan Malaysia," ungkapnya.

Harga karpet serat pohon pisang bervariasi, tergantung dari bentuk dan ukuran. Ada yang dihitung Rp3 juta/meter, dan harga termahal adalah karpet ukuran terbesar yakni hampir mencapai Rp250 juta.

Saat kondisi normal, omzet usaha ini mencapai Rp1 miliar/bulan. Namun akibat pandemi COVID-19 omzet usaha ini turun hingga 40%. Namun Djunaidi yakin, apabila kondisinya sudah normal, akan banyak pemesanan lagi seperti sedia kala.(mr/snd)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...