19 September 2019

Era Suku Bunga Tinggi Segera Datang akibat BBM Naik

Konfrontasi-Sinyal era bunga mahal makin dekat. Efek kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi mulai menjalar. Tak hanya mengerek tarif transportasi dan harga kebutuhan pokok, harga baru BBM juga menyulut kenaikan bunga bank.

Kemarin, Bank Indonesia (BI) menaikkan bunga acuan (BI rate) sebesar 25 basis poin (bps) menjadi 7,75 persen. Kenaikan ini merupakan respon BI atas kenaikan harga BBM sebesar Rp 2.000 per liter. Kini, BI rate berada di level tertinggi dalam lima tahun terakhir.

Agus Martowardojo, Gubernur BI, menyatakan, kenaikan BI rate bertujuan mengendalikan inflasi. Maklum, harga bahan kebutuhan pokok mulai merangkak naik. Estimasi BI, kenaikan harga BBM akan menyumbang tambahan inflasi 2,6 persen, sehingga inflasi pada tahun ini diprediksi 7,7 persen.

Selain BI rate, bank sentral juga menaikkan bunga lending facility sebesar 50 bps menjadi 8,00 persen, namun tetap mempertahankan bunga deposit facility sebesar 5,75 persen. Tujuannya agar bank lebih memilih mencari dana di pasar uang ketimbang meminjam dana dari BI.

Bisa jadi, tren bunga ke depan bakal menanjak. Apalagi, kalau Bank Sentral Amerika Serikat (The Federal Reserve) menaikkan bunga acuan tahun depan menjadi 1 persen–1,5 persen pada medio tahun 2015.

Ekonom Bank Central Asia (BCA), David Sumual berpendapat, kerja pemerintahan Joko Widodo–Jusuf Kalla menunjukkan hasil di tahun depan, BI tak perlu kembali menaikkan BI rate demi menangkal aksi The Fed. "Perbaikan itu akan menggiring arus investasi asing dan mungkin saja rating Indonesia naik lagi," tutur David, kemarin.

Sebaliknya, jika kinerja pemerintah tak sesuai harapan, BI rate bisa saja mengekor besaran kenaikan bunga The Fed hingga 150 bps. "Tapi skenario terburuk itu tidak pernah saya bayangkan akan terjadi," imbuh David.

Kenaikan BI rate bakal berefek domino. Salah satunya, bakal menyeret kenaikan bunga kredit perbankan. Sejauh ini, para bankir belum mau berspekulasi tentang peluang menaikkan bunga kredit.

Bahkan, Direktur Utama Bank Mandiri Tbk, Budi Gunadi Sadikin, menyatakan, meski BI rate naik 25 bps, bank belum tentu menaikkan bunga kredit. Direktur Keuangan Bank Rakyat Indonesia, Achmad Baiquni, mengaku akan berhati-hati menghitung bunga kredit. Dia tak ingin kenaikan bunga kredit malah menaikkan kredit bermasalah. Aksi kerek mengerek bunga kredit juga bisa dicegah.

Misalnya, kata Halim Alamsyah, Deputi Gubernur BI, jika pemerintah mampu menggelontorkan dana subsidi BBM ke kegiatan produktif, bank tidak punya alasan menaikkan bunga kredit. (kompas/Dea Chadiza Syafina, Margareta Engge Kharismawati, Nina Dwiantika, Yuwono Triatmodjo)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...