25 September 2018

Bisnis Keripik Tempe Makin 'Gurih' Jelang Lebaran

KONFRONTASI-Menjelang lebaran 2016, omzet perajin keripik tempe khas Kabupaten Trenggalek, Jawa Timur, meningkat hingga 300 persen dari hari biasanya.

"Permintaan keripik tempe sudah mulai naik jelang Ramadhan awal Juni 2016 hingga sekarang," kata Istikomah, salah satu pelaku industri rumahan keripik tempe di Desa Kranding, Kecamatan Pogalan, Kabupaten Trenggalek, Senin (4/7/2016).

Rata-rata perputaran modal usaha Rp1,5 juta per hari menjadi Rp5 juta per hari dengan asumsi volume produksi mencapai 10 ribu helai keripik tempe.

Istikomah menjelaskan pada hari biasa atau sebelum Ramadhan volume produksi di tempat usahanya hanya berkisar 3.000 helai keripik tempe dengan harga jual setiap potongnya Rp550 untuk kelas pengecer (pedagang) atau Rp650 per potong untuk konsumen langsung.

Untuk menambah kemampuan produksi, Istikomah menambah jumlah pekerja dari sebelumnya hanya tiga orang menjadi delapan orang.

Tidak hanya sebatas menggoreng tempe dari setengah jadi menjadi keripik tempe, tenaga kerja Istikomah juga ikut memproses peragian kedelai sehingga menjadi tempe yang telah dipola menjadi lembaran tipis dan siap goreng.

"Proses pembuatan keripik tempe dari bahan baku, peragian, hingga penggorengan membutuhkan waktu kurang lebih empat hari," ujarnya.

Untuk memacu produktifitas serta menjaga kualitas rasa, Istikomah mengaku hanya fokus pada industri pengolahan dari tempe menjadi keripik tempe.

Sementara industri hulu pembuatan tempe ia serahkan pada perajin spesialis pembuatan tempe tetangganya dengan harga Rp130 per helai.

"Saya beli dalam bentuk bahan baku dari kedelai yang telah diolah hingga peragian. Pembuatan tempe dilanjutkan oleh pekerja saya di rumah mereka masing-masing dengan upah Rp80 per helai. Tapi semua bahan sudah dari saya," ujarnya.

Dengan asumsi biaya produksi itu, termasuk bahan baku minyak goreng kemasan untuk menggoreng tempe, Istikomah mengaku masih memiliki margin keuntungan sekitar Rp200 rupiah per lembar.

Selama sebulan Ramadhan Istikomah mengaku memiliki omzet penjualan mencapai Rp130 juta lebih, jauh di atas rata-rata pendapatan kotornya pada bulan-bulan sebelumnya yang berkisar Rp45 juta.

Peningkatan omzet imbas tingginya permintaan keripik tempe selama Ramadhan hingga menjelang Lebaran tidak hanya dinikmati Istikomah, namun juga pelaku industri keripik tempe lain.

Purwanti, pengusaha industri keripik tempe di Desa Bendorejo, Kecamatan Pogalan mengaku tiga pekan terakhir omzet produksinya mencapai Rp70 juta lebih dari biasanya hanya sekitar Rp25 juta per bulan.

"Kami benar-benar kewalahan memenuhi permintaan dari sebagian pedagang di sentra pusat oleh-oleh jalan raya Trenggalek-Tulungagung Desa Kranding yang jumlahnya ada sekitar 50-an kios," ujarnya.

Istikomah dan Purwanti mengatakan, mereka terpaksa menolak beberapa pesanan pelanggannya karena keterbatasan kemampuan produksi.[mr/okz]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  



Berita lainnya

loading...