Bioskop oleh Investor Asing Dibuka Lebar

KONFRONTASI- Revisi Daftar Negatif Investasi (DNI) dengan membuka investasi asing di bisnis film bidang produksi, distribusi eksebisi dan teknik, diklaim sudah benar. Agar bisnis bioskop maju pesat.

Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM) Franky Sibarani bilang, salah satu fokus BKPM adalah membuka kepemilikan asing di sektor eksibisi, atau usaha bioksop dari 51% menjadi 100%.

Alasannya, kata Franky, jumlah bioskop di tanah air, masih sangat minim, jika di bandingkan dengan jumlah penduduk. Dengan dibukanya investasi asing sampai 100%, bisa menjadi katalis bagi industri film dari hulu hingga hilir.

"Misalnya, kenapa kita berani membuka invesyasi asing di bisnis bioskop sampai 100 persen. Ada dasarnya. Dasarnya apa? Sekarang berapa jumlah layar bioskop? Cuma 1.000 sekian. Sementara, salah satu kota di Beijing, layar bioskopnya bisa sampai 100 ribu. Jadi, negara sebesar Indonesia kok jumlah layar bioskopnya hanya seribu," kata Franky di Cilegon, Banten, Jumat (12/2/2016).

Franky bilang, undang-undang (UU) No 33/2009 tentang Perfilman mewajibkan 60% film di bioskop adalah tayangan Indonesia. Namun yang terjadi justru sebaliknya. Film-film luar negeri justru mendominasi serta mendapatkan karpet merah. "Sekarang lihat, ada enggak 60 persen? Kita nonton film Indonesia saja susahnya minta ampun," tutur Franky.

Franky meyakini, apabila investasi asing di bioskop dibuka 100%, maka sineas perfilman nasional kian memiliki daya saing. Paling tidak, hasil karya sineas nasional berpeluang untuk ditayangkan ke lebih banyak bioskop di seluruh Indonesia.

"Saat ini, katakanlah 1.000, terus nanti bertambah menjadi 100 ribu. Tentu saja, pemerintah akan mendorong pertumbuhannya ke daerah juga, enggak cuma di kota besar," ucap Franky. [ipe]

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...