23 November 2017

Utang Numpuk, Sri Mulyani Diyakini Sebagai Biang Keroknya

KONFRONTASI-Situasi ekonomi yang terjadi hari ini dengan utang yang segunung sudah dapat diprediksi dari awal. Pasalnya, ada kesalahan fundamental pemerintah saat awal menjabat, yakni mencabut subsidi BBM yang terang saja memukul sektor riel.

Begitu dikatakan Koordinator Presidium Pergerakan, Andrianto, menanggapi kondisi ekonomi Indonesia belakangan ini,  di Jakarta, Jumat (14/7).

"Akibatnya fatal, daya beli melemah, yang berarti menihilkan roda pembangunan," ujar Andrianto.

Lalu, tambah Andrianto, praktek-praktek yang tidak fokus dan konsisten. Misalnya kabinet ramping dan profesional, sangat jauh dari harapan. Akibatnya resonansi publik lenyap, sentimen positif melayang.

Dan berujung rupiah melemah sampai detik ini.

"Nafsu tanpa konsep yang jelas soal infrastruktur akibatnya butuh pembiayaan yang tidak kecil. APBN yang tiris tidak bisa diharapkan, swastapun ogah melihat kinerja yang bak orkestra tapu nihil konduktornya," tambah dia.

Dalam kondisi seperti itu, terang dia, lagi-lagi putusan keliru yang diambil oleh pemerintah, yakni utamg. 

"Nah yang punya duit kan Amerika lewat World Banknya (WB). Jadi patut disimpulkan keberadaan Sri Mulyani (SMI) sesungguhnya sebagai Collateral utang WB," ucapnya. 

Andrianto menilai, SMI jelas figur bermasalah, yang terkait Skandal Century Rp 6,7 Triliun dan namanya disebut Pansus Century 2011 sehingga ditendang dari kabinet Soesilo Bambang Yudhoyono (SBY) 

"Jadi SMI ini jelas mewakili wajah neo liberalis. Konsepnya jelas potong subsidi. Kejar pajak demi tersedianya loan untuk bayar utang. Makanya banyak dipuji media dan lembaga internasional," imbuh dia. 

"Jadi  bisa ditebak, sulit rejim Jokowi  ini keluar dari krisis bila SMI dipertahankan di kabinet," tandasnya. [mr/monitor]

Category: 

SCROLL KE BAWAH UNTUK MEMBACA BERITA LAINNYA


loading...

Related Terms



loading...

Baca juga


Loading...