Upaya BI Jaga Stabilitas Rupiah Agar Tak Semakin Anjlok

Konfrontasi - Nilai tukar (kurs) rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) sempat melemah hingga sentuh Rp 16.000 per USD. Hal ini dinilai karena aksi kompak para investor dan pelaku pasar untuk menjual asetnya ke dalam bentuk kurs dollar.

Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengatakan, pihaknya telah melakukan beberapa kebijakan dalam upaya menahan pelemahan rupiah lebih dalam. Salah satunya dengan menurunkan suku bunga acuan sebesar 25 basis poin (bsp) menjadi 4,5 persen.

"Ini untuk memberikan kemudahan bagi dunia usaha dan masyarakat bagaimana memudahkan pembiayaan dari perbankan. Tentu saja kepada bapak ketua OJK kami mendorong dan meminta kalangan perbankan turunkan suku bunga kredit. Agar bisa mendorong perkonomian lebih lanjut," kata Perry dalam konferensi video, Jumat (20/3/2020).

Selain itu, BI telah melakukan triple intervension, seperti transaksi Domestic Non-Deliverable Forward (DNDF), pembelian Surat Berharga Negara (SBN) di pasar sekunder. Ini dilakukan untuk menarik modal asing ke Indonesia.

Bersama OJK, BI berkoordinasi untuk melakukan stabilisasi di pasar saham, sesuai dengan arahan Presiden Jokowi agar seluruh potensi suplai dalam negeri dimobilisasi. Termasuk eksportir yang selama ini tahan dolar agar berikan suplai ke pasar valas.

Di samping itu, BI juga mengajukan repo dengan agunan SBN sebesar Rp53 triliun bagi bank buku I dan buku II.

"Awal tahun kami telah turunkan Giro wajib minimum (GWM) juga sebesar Rp23 triliun dari sebelumnya Rp51 triliun per 1 April 2020 mendatang. Ada pun GWM valuta asing (Valas) bakal diturunkan menjadi Rp3,2 miliar," imbuhnya.

Perry menjelaskan, BI juga menyediakan mata uang dolar secara tunai, hingga mengimbau para investor maupun pelaku pasar untuk tidak panik dalam merespon situasi pasar keuangan yang sedang terjadi.

"Kami memastikan kepercayaan nilai rupiah terjaga dan stabilitas valas (valuta asing)," tandasnya.

Arahan Jokowi

Sebelumnya, Presiden Joko Widodo (Jokowi) meminta Bank Indonesia (BI) fokus menjaga stabilitas nilai tukar rupiah yang terus mengalami tekanan di tengah situasi pandemi corona (Covid-19). Hal ini disampaikan Jokowi dalam rapat terbatas melalui video conference dari Istana Bogor Jawa Barat, Jumat (20/3).

"Saya minta BI fokus terus jaga stabilitas nilai tukar rupiah, jaga inflasi, dan mempercepat penggunaan rekening rupiah di dalam negeri," kata Jokowi.

Dia juga meminta BI berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK), Kementerian Keuangan, dan Lembaga Penjamin Simpanan untuk memastikan ketersediaan likuiditas dalam negeri. Selain itu, BI juga diminta meningkatkan mitigasi risiko di tengah pandemi corona.

"Kemudian memantau setiap saat terhadap sistem keuangan dan mitigasi keuangan sekomprehensif, sedetail mungkin," tutur Jokowi.

Seperti diketahui, nilai tukar rupiah terhadap dolar Amerika Serikat (AS) kembali bergerak melemah pada perdagangan Jumat akhir pekan ini. Rupiah sudah tembus ke level psikologisnya yaitu Rp 16.000 per USD. (mrdk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA