30 March 2020

Soal Impor Bawang: Mentan Amran Keberatan, Menteri Rinso Paling Ngotot

KONFRONTASI-Terkait impor bawang merah sebanyak 2.500 hingga 5.000 ton, Menteri BUMN Rini Soemarno (Rinso) disebut-sebut yang paling ngotot untuk melakukannya. Alasannya demi menstabilkan harga.

Anggota Komisi IV DPR Andi Akmal Pasludin menyebutkan bahwa Menteri Rini lah yang menganjurkan agar importasi bawang merah dibuka. Agar harga bawang merah di pasaran yang kini masih tinggi, bisa turun ke angka normal.

Desakan dari Menteri Rini, kata politisi PKS ini, sudah disampaikan kepada Menteri Koordinator bidang Perekonomian Darmin Nasution dalam rapat koordinasi terbatas atau Rakortas yang membahas harga pangan. "Oh iya itu kan hasil rapat terbatas. Dalam hal ini Menteri Rini dapat tugas melakukan impor lewat Perum Bulog," kata Akmal dilansir INILAHCOM, Sabtu (28/05/2016).

Akmal bercerita, dalam rakortas tersebut, Menteri BUMN dan Menko Darmin mendorong Presiden Jokowi untuk membuka keran impor bawang merah. Kalau tidak segera dibuka maka harga bawang merah dikhawatirkan terus naik. Apalagi menjelang Bulan Puasa dan Lebaran, di mana harga barang selalu naik.

Lalu di mana posisi Kementerian Pertanian? Masih kata politisi asal Makassar, Sulawesi Selatan ini, Menteri Pertanian Amran Sulaiman merasa keberatan dengan rencana tersebut. Lantaran, stok bawang merah di dalam negeri masih cukup.

Perihal naiknya harga bawang merah, lanjut Akmal, bisa jadi bukan disebabkan oleh minimnya persediaan. Namun akibat masih panjangnya rantai distribusi. "Ini kan jadi tidak ketemu, datanya di mana. Katanya kita harus percaya Badan Pusat Statistik (BPS) yang bilang surplus. Kok sekarang pemerintah yang enggak percaya sama BPS. Berarti memang ada masalah di importasi bawang ini," paparnya.

Akmal mengatakan, dibukanya importasi bawang merah, jelas-jelas akan merugikan petani bawang yang jumlahnya lebih dari sejuta orang. Apalagi saat ini, sejumlah daerah memasuki masa panen bawang merah. "Jelas ini kegagalan pemerintah, tidak memiliki koordinasi yang baik antar instansinya," kata Akmal.

Sebelumnya, Ketua Pengembangan Sumber Daya Manusia (SDM) Dewan Bawang Nasional (Debnas) Amin Kartiawan Danopa mengatakan, Menteri Rini yang paling ngotot terkait kebijakan impor bawang merah tersebut.

"Terkesan kuat adanya skenario agar bawang merah yang diserap Perum Bulog, volumenya tak banyak. Selanjutnya ada alasan untuk impor. Ini kan jelas-jelas ingin membunuh petani bawang," ungkapnya.

Amin bilang, Menteri Rini-lah yang menetapkan harga pembelian bawang merah dari petani oleh Perum Bulog. Dalam rapat koordinasi terbatas (rakortas), Debnas mengusulkan harga Rp 25 ribu hingga Rp 27 ribu per kilogram. Selanjutnya disepakati Rp 25 ribu per kilogram. Tiba-tiba, Menteri Rini memerintahkan Perum Bulog menggunakan harga Rp 20 ribu per kilogram.

"Akibatnya, petani bawang harus merugi besar-besaran. Saat ini, tren harga bawang melorot drastis di kisaran Rp 10 ribu hingga Rp 12 ribu per kilogram," papar Amin.

Dalam hal ini, lanjut Amin, campur tangan Menteri Rini di komoditas bawang merah, layak dipertanyakan. Bisa jadi memang ada skenario untuk memuluskan impor bawang. "Kita sedang kumpulkan data dan informasi terkait hal ini," tegasnya.

Asal tahu saja, produksi bawang merah nasional, berdasarkan catatan Kementerian Pertanian mencapai 241.600 ton. Angka ini diatas kebutuhan nasional sebesar 175.600 ton. Artinya ada surplus stok 66 ribu ton.

Anehnya, pemerintah justru membuka impor bawang merah sebanyak 2.500 ton hingga 5.000 ton. Jangan-jangan karena fee-nya menarik.[MR/INL]

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...