Slamet Perkenalkan Batu Akik Jenis Fosil dari Semarang

Konfrontasi - Di tengah "booming" batu akik belakangan ini, Slamet (41), warga Jalan Tambra Dalam 2, Kuningan, Semarang, memperkenalkan batu akik jenis fosil dari pohon asam khas Kota Semarang.

"Dulu, di Kota Semarang ini banyak terdapat pohon asam, salah satunya di sepanjang Jalan Mataram (Jalan M.T. Haryono, red.)," katanya saat ditemui di rumah sekaligus bengkel kerjanya di Semarang, Selasa (12/5).

Ia menceritakan sejarah Kota Semarang yang namanya diambilkan dari kata "Asam" dan "Arang", termasuk banyaknya pohon asam yang tumbuh, namun kini sudah banyak yang ditebangi untuk pembangunan permukiman.

Makanya, ia optimistis fosil kayu yang ditemukannya di suatu tempat di Kota Semarang itu, bakal meramaikan "booming" batu akik sebagai ikon khas Semarang, sebagaimana batu Giok Aceh dan Klawing Purbalingga.

"Saya kerap berziarah ke makam-makam wali, termasuk di Kota Semarang. Ada 99 makam wali yang saya ziarahi, antara lain Makam Kiai Sholeh Darat, Makam Syeh Maulana Jumadil Kubro, dan Makam Syeh Siwalan," katanya.

Dari hasil perjalanan spiritualnya, Slamet mengaku mendapatkan petunjuk lewat mimpi untuk mencari dan menemukan tiga jenis batuan yang ada di Kota Semarang, yakni Galih Asam, Galih Kelor, dan Sodo Lanang.

Fosil adalah salah satu jenis batuan yang berasal dari pohon atau mahluk hidup lain yang telah membatu karena proses kimiawi di dalam tanah selama ratusan tahun, dan sering dijadikan sebagai aksesoris.

"Kalau galih, ini adalah bagian inti dari pohon. Meski berupa fosil, kekuatan batuan ini tidak bisa diremehkan karena sama kerasnya dengan jenis akik lainnya, terutama bagian yang mengkristal," katanya.

Akhirnya, Slamet mulai mencari tiga jenis batuan itu dan sampai sekarang ini baru menemukan dua, yakni Galih Asam dan Galih Kelor, sementara jenis batu Sodo Lanang belum ditemukannya sampai sekarang.

Setelah diolah dan dipoles, batu temuan Slamet itu ternyata menampakkan beragam motif yang indah, didominasi warna cokelat, hitam, putih, dan abu-abu, di samping dilihat dari khasiat secara mistisnya.

Sampai sekarang, Slamet masih merahasiakan lokasi penemuan batuan tersebut karena khawatir terjadi eksploitasi besar-besaran di tempat tersebut yang akan mengancam kelestarian alam dan keselamatan warga sekitar.

"Saya tahu tempatnya, namun saya tidak mau menyebutkan. Yang jelas, ada yang di lereng di sebuah kawasan permukiman di Semarang. Kalau itu dikeruk, permukiman di atasnya berbahaya, bisa longsor," katanya.

Pria yang akrab disapa Mbah Met itu lebih memilih mengambil bebatuan yang ada di dasar jurang di sebuah tempat di Kota Semarang yang memiliki kedalaman sekitar 12 meter dan dilakukannya secara manual.

"Saya biasanya puasa dulu satu hari sebelum mengambil batu-batu itu. Saya ambil seperlunya saja. Saya jual paling mahal sekitar Rp300 ribu/buah, padahal di tangan kolektor bisa berharga jutaan rupiah," katanya.

Sekarang ini, Slamet sering mendapatkan pembelian akik Galih Asam dan Galih Kelor dalam partai besar, seperti dari Batam 200 biji, Surabaya 150 biji, dan Pulau Bintan 70 biji.

"Tidak ambil untung banyak-banyak. Ya, saya inginnya masyarakat Kota Semarang ini mengenal potensinya, termasuk batuan mulia. Setidaknya, mereka bisa membeli, memakai, dan membanggakannya," katanya. (rol/ar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...