19 April 2019

Sayuran Seharusnya Dapat Jadi Solusi Swasembada Pangan

KONFRONTASI - Komoditas sayuran seharusnya dapat menjadi solusi bagi swasembada pangan di Indonesia. Namun, sampai saat ini belum ada dukungan yang signifikan terhadap petani sebagaimana masih terlihat dengan tingginya impor hortikultura termasuk sayuran saat ini sekitar Rp14 triliun.

Petani sayur saat ini masih bergantung kepada pasar tradisional untuk menampung hasil panen mereka, padahal itu sangat berisiko, harus ada industri yang bersedia untuk menggandeng mereka menjadi mitra.

Seperti untuk komoditas cabai, seharusnya industri cabai dalam kemasan melibatkan petani agar hasil panennya dapat diserap. Namun di lapangan hal itu tidak terjadi, petani masih mengandalkan pasar tradisional sebagai pendapatan dengan risiko harga jatuh pada musim panen.

Komoditas sayuran seperti labu, kentang, jagung seharusnya dapat menjadi alternatif makanan pokok pengganti beras ke depannya untuk mencapai swasembada pangan.

Namun, untuk mencapai hal tersebut membutuhkan kerja keras semua pihak terutama dalam upaya meningkatkan kesejahteraan petani sayuran.

Produsen benih sayuran terbesar di Indonesia PT East West Seed Indonesia (Ewindo) dengan pangsa pasar sekitar 45 persen merupakan salah satu produsen yang menyatakan kesiapannya untuk memasok varietas unggul kepada petani dalam upaya menciptakan swasembada pangan dari sayuran.

Dalam sarasehan petani sayuran nasional di Purwakarta, pendiri Ewindo, Simon N Groot, mengatakan salah satu cara mendorong swasembada pangan dengan terus meningkatkan pendapatan petani melalui benih berkualitas.

Menurut dia, dengan banyaknya petani yang menanam sayuran maka kebutuhan pangan masyarakat Indonesia akan dapat diselesaikan tidak perlu impor lagi. Kekurangan nutrisi di masyrakat sebenarnya dapat diatasi dengan banyak memakan sayuran.

Ewindo, kata Simon, dalam usia 25 tahun beroperasi di Indonesia ingin terus terlibat dalam pengembangan sayuran di Indonesia berkerja sama dengan pemerintah untuk mendukung teknologi di bidang pertanian sehingga kesejahteraan petani akan lebih baik lagi ke depannya.

Simon mengatakan dalam rangka menciptakan swasembada pangan tetap membutuhkan dukungan dari pemerintah terutama dalam menciptakan iklim investasi yang lebih baik lagi bagi para pelaku di bidang hortikultura, termasuk perusahaan benih.

Sebagai perusahaan PMA diharapkan pemerintah memiliki kebijakan terkait dengan kepemilikan pemegang saham agar perusahaan dapat lebih solid dalam mendukung program pangan pemerintah.

Digambarkan, untuk produsen benih akan sulit berkembang apabila pemegang saham asing dibatasi karena untuk mengembangkan varietas unggul tahan penyakit, tetapi produksinya maksimal membutuhkan teknologi yang sangat mahal.

Managing Director Ewindo, Gleen Pardede, mengatakan perusahaan benih merupakan perusahaan kepercayaan, apabila selama ini petani menghasilkan panen yang baik, maka produk itulah yang akan terus digunakan bagi petani.

"Petani akan memilih benih sayuran yang minim biaya perawatan termasuk penggunaan obat-obatan untuk menghasilkan panen terbaik," kata Glenn.

Saat ini, kata Glenn, terdapat 10 juta petani di seluruh Indonesia yang menggunakan benih Ewindo, dari jumlah tersebut 7.000 petani diantaranya merupakan mitra kerja dalam memproduksi benih hybrida.

Sementara itu, Dirjen Hortikultura Kementerian Pertanian, Spudnik Sujono, mengatakan pemerintah akan berupaya mendukung berbagai upaya menciptakan swasembada pangan.

Dia berharap varietas unggul dapat terus diciptakan Ewindo, tentunya dengan melibatkan juga kalangan perguruan tinggi.

Spudnik mengakui apabila konsumsi buah dan sayuran di Indonesia masih di bawah standar FAO, sehingga dibutuhkan produksi sayuran dan buah-buahan berkualitas dengan cara memperkuat industri benih hortikultura di dalam negeri.

Spudnik berjanji dalam upaya memproduksi varietas unggul, pemerintah akan terus memperkuat produsen benih di Indonesia, sedangkan di sisi lain akan terus mengendalikan impor hortikultura serta melindungi petani hortikultura.

Dia mengatakan, kecuali bawang merah dan cabai, pihaknya tidak terlalu khawatir terhadap perkembangan komoditi hortikulutra khususnya sayuran. Namun, dia berharap perusahaan benih juga meningkatkan tanaman sub tropis yang selama ini mengandalkan impor.

"Komoditas seperti kubis, lobak, sawi putih, pakchoi merupakan tantangan bagi produsen benih agar dapat diproduksi lebih banyak lagi," kata Spudnik.

Inovasi Sebagai perusahaan benih terbesar di Indonesia, Ewindo, mempersiapkan berbagai inovasi terbaru di bidang perbenihan sayuran untuk 25 tahun mendatang.

"Kami akan terus mengembangkan varietas unggulan melalui riset-riset terbaru yang terus kembangkan," kata Glenn saat berbicara dalam sarasehan yang dihadiri 200 petani dari berbagai daerah di Indonesia itu.

Glenn mengatakan, dalam sarasehan tersebut juga akan dibahas mengenai peran swasta dalam inovasi varietas baru dalam menunjang ketahanan pangan nasional maupun pengalaman para petani menggnakan varietas unggul untuk meningkatkan produksi dan kualitas sayuran.

"Menjadi tugas kita bersama untuk melakukan riset menemukan teknologi dan varietas unggul baru yang dapat membantu petani bersaing dengan produk impor, sekaligus meningkatkan kesejahteraan mereka," kata Gleen.

Bersamaan dengan peringatan 25 tahun Ewindo, perusahaan ini juga memperkenalkan varietas baru cabai keriting LABA F1 yang tahan terhadap bakteri dan sanggup berproduksi 1,5 kilogram per tanaman atau 20 ton per hektare, tiga kali lipat dari produksi cabai kriting nasional 8 ton per hektare.

Selain itu, juga diperkenalkan varietas terong ungu Laguna F1 tahan bakteri yang memiliki buah berkualitas tinggi dengan rasa yang lebih enak. Potensi varietas ini mencapai 50 ton per hektar atau dua kali rata-rata produk nasional saat ini sekitar 30 ton per hektar, kata Glenn.

Ewindo juga memperkenalkan varietas lainnya yang tahan terhadap gemini virus seperti mentimun Zatavy F1, Metavy F1, kacang panjang Kanton TAV1 dan Parade TAV1, melon manis Graacia F1 dan Madesta F1.

"Tidak kurang 100 varietas baru dan lama ditanam dan diperkenalkan pada acara ulang tahun Ewindo," kata Glenn.

Data BPS menunjukkan luas panen sayuran Indonesia tidak beranjak di angka 1 juta per hektare bahkan cenderung turun, bahkan disebut setiap tahun 80 hektare lahan pertanian hilang atau beralih fungsi, sedangkan permintaan terhadap produk ini khususnya cabai, tomat, bawang merah terus meningkat.

"Ketika ekstensifikasi atau perluasan area tanam sulit dilaksanakan, maka upaya intensifikasi melalui inovasi dan teknologi bisa menjadi salah satu solusi untuk meningkatkan produksi," kata Glenn. (Juft/Inilah)

Tags: 
Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...