23 April 2019

Produksi Sayuran Lebak Tembus Pasar Jakarta

 Konfrontasi - Produksi sayuran Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, kini menembus Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, dengan memasok sekitar empat ton per minggu.

"Kami terus mendorong agar petani mengembangkan budi daya tanaman sayuran guna meningkatkan pendapatan ekonomi," kata Kepala Dinas Pertanian Kabupaten Lebak Dede Supriatna saat dihubungi di Lebak, Kamis (25/12).

Dede mengajak petani mengembangkan tanaman sayuran-sayuran karena permintaan pasar cukup tinggi.

Saat ini, produksi sayur-sayuran petani mampu memasok Pasar Induk Kramat Jati Jakarta empat ton/minggu.

Namun, produksi komoditas sayuran itu masih terbatas dan perlu ditingkatkan pengembangan tanaman tersebut.

Budi daya tanaman sayuran di Kabupaten Lebak sangat cocok karena didukung lahan luas baik areal persawahan maupun ladang.

Selain itu juga budi daya tanaman sayuran tidak begitu banyak membutuhkan ketersedian air.

Karena itu, pihaknya mengajak petani agar menanam sayur-sayuran untuk memenuhi permintaan pasar.

Sebab kebutuhan untuk Pasar Induk Tanah Tinggi, Tangerang, dan Pasar Induk Kramat Jati, Jakarta, cukup tinggi.

Diperkirakan kebutuhan pasar induk tersebut mencapai ratusan ton sayur-sayuran/bulan.

"Kami berharap petani tidak menggantungkan pada tanaman padi saja, tetapi bisa dikembangkan budidaya tanaman sayuran," katanya.

Dede menyebutkan, tanaman sayuran yang cocok dikembangkan antara lain mentimun, kacang panjang, paria, terung, kangkung, dan bayam.

Saat ini, produksi sayuran dari Lebak sudah mampu memasok ke sejumlah pasar lokal maupun Pasar Induk Jakarta.

"Saya yakin budidaya tanaman sayuran dapat mendongkrak ekonomi petani," katanya.

Sejumlah petani Kabupaten Lebak terus mengembangkan budidaya tanaman sayuran, selain pangan.

Selama ini, permintaan sayuran cenderung meningkat, dan sangat menguntungkan.

Selain itu, untuk pemasaran sayuran tidak ada masalah, karena permintaan cukup tinggi.

"Kami terbantu dengan mengembangkan budidaya tanaman sayuran jenis mentimun bisa menghasikan uang sekitar Rp90 juta/hektare dengan biaya produksi Rp25 juta/hektare," kata Memed, petani Kecamatan Cibadak, Kabupaten Lebak. (rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...