10 December 2019

Petani Aceh Barat Terancam Gagal Tanam

Konfrontasi - Sebagian besar petani di Kabupaten Aceh Barat terancam gagal tanam karena sudah memasuki musim tanam mereka belum dapat menemukan benih padi di pasaran.

Kepala Badan Pelaksana Penyuluhan Pertanian, Perikanan dan Kehutanan (BP4K) Kabupaten Aceh Barat Ulul Izmi di Meulaboh Rabu (13/5) mengatakan 16 ribu hektare lebih area sawah petani sebagian besar sudah digarap dan diintruksikan jadwal tanam awal April-Mei 2015.

"Harusnya benih padi sudah masuk ke Aceh Barat paling telat awal Mei 2015, tapi sampai hari ini belum ditemukan oleh patani dipasaran baik yang harga subsidi maupun non subsidi, ini merupakan salah satu masalah dihadapi petani kita," katanya.

Hal itu disampaikan disela-sela acara lomba asah terampil petani Aceh tingkat Kabupaten Aceh Barat yang diikuti perwakilan kelompok tani dari 12 kecamatan yang akan diseleksi mengikuti perlombaan ditingkat provinsi pada September 2015 di Banda Aceh.

Ulul Izmi menjelaskan, dikawasan setempat terdapat 29.330 jiwa masyarakat tani aktif yang mengarap area sawah dalam 12 kecamatan kawasan itu, petani setempat berharap pihak distributor pengadaan benih padi tidak mempermainkan kehidupan petani.

Pemerintah daerah pada prinsipnya sangat konsen terhadap upaya peningkatan produkstivitas pertanian tanaman pangan karena dari itu pertumbuhan ekonomi bisa tumbuh dan semakin sejehtara.

Akan tetapi dalam persoalan ini, pemerintah daerah tidak dapat berbuat banyak, apalagi tenaga penyuluh lapangan yang ditugaskan mendampingi masyarakat selalu disalahkan apabila ada kendala dialami petani terutama dalam rutinitas mereka.

"Berkat kerja keras semua pihak daerah kita mampu mencapai target produktivitas 5,7-6 ton per hektare walaupun ada sebagian yang berproduksi masih 4,5 ton perhektarnya, dan saya pikir kita masih belum terlambat untuk tahun ini mencapai surplus beras apabil kenda-kendala petani dapat segera diatasi," imbuhnya.

Lebih lanjut dikatakan, untuk meningkatkan pemahaman petani terhadap mendorong produktivitas pertanian pihak penyuluh dipercayakan mendampingi setiap kelompok tani memberikan sosialisasi metoda penanaman berteknologi.

Kata dia, dorongan pemerintah mengarahkan petani untuk berbudidaya tanaman padi secara modern bukan berarti menghilangkan sistem pertanian tradisional, akan tetap kedua hal itu dipadukan sehingga target diharapkan produktivitas pertanian semakin meningkat dapat tercapai.

Sebagian besar area sawah petani dikawasan setempat sebut Ulul Izmi, merupakan sawah tadah hujan meskipun didorong pengadaan air dengan pompanisasi ataupun irigasi kecil disebagian area belum memadai untuk menjadikan masyarakat petani berpendirian tetap.

"Kendala lain petani kita disini ada yang beralih profesi karena kondisi area sawah tadah hujan, jadinya setelah beralih kerja sebagai pencari emas gunung atau batu alam, baru mereka garap lagi sawah, kalau kejadian demikian terus terjadi tanam serentak sulit dilakukan," tegasnya.

Berbagai program pemerintah dalam hal pencapaian swasembada pangan dan ketahanan pangan terus dipacu oleh instansi terkait, sementara penyuluh dari BP4K merupakan garda terdepan diharapkan mampu memberi penyadaran tentang perilaku petani.

Kata Ulul Izmi, perilaku petani setempat dengan kondisi area sawah tadah hujan masih melakukan aktivitas secara tradisional sehingga tenaga dan biaya yang dikeluarkan bisa lebih tinggi dari hasil yang didapatkan.

Karenanya para penyuluh dilapangan diintruksikan benar-benar serius memberikan penyadaran tentang pola-pola baru peningkatan produksi tanaman pangan jenis padi sesuai arahan dan sasaran pemerintah pusat dalam peningkatan swasembada pangan.

"Itulah tugas penyuluh-penyuluh kita diharapkan mampu memberikan pemahaman kepada masyarakat petani tentang pola baru. Petani juga kita harapkan tidak terus berpegang pada cara-cara lama karena pemerintah memberikan petunjuk baru tentunya sudah teruji lebih baik dari sebelumnya," katanya menambahkan. (rol/ar)

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...