24 July 2019

Penyelamatan Pasar Tradisional Kita (I)

Oleh: En Jacob Ereste *

 

 

Idealnya Gerakan Pro Pasar Tradidional Ya upaya melindungi dan menjaga kelangsungan usaha warga masyarakat kecil untuk ikut memperbaiki sekaligus memperkuat ketahanan basis ekonomi keluarga dari hantaman beragam kebutuhan hidup yang semakin mahal dan berat untuk diatasi.

Karenanya, Gerakan Pro Pasar Tradisional yang digagas sejumlah aktivis pergerakan meliputi segenap bentuk usaha perdagangan yang dilakukan oleh warga masyarakat, mulai dari warung di depan rumah, hingga pasar kaget mingguan,  hingga pasar tradisional yang berlokasi pada suatu kawasan agak lebih permanen dimana para pedagangnya terdiri dari mereka yang menyediakan barang dagangan untuk dijual keoada masyarakat lainnya.

Bentuk pasar serupa inilah yang dimaksud para aktivis yang berhimpun dalam Gerakan Pro Pasar Tradisional itu. Sementara dipihak lain -- yang selama ini dilihat seperti gurita raksasa yang memangsa makhluk yang kecil, berada dimana-mana sampai ke ujung kampung.


Pengusaha pasar ritel   terbilang raksasa ini ibarat singa lapar yang liar dilepas untuk memangsa ternak peliharaan orang kampung yang juga tidak berdaya apa-apa untuk mencegahnya.


Korban dari pihak pasar tradisional menghadapi keganasan pasar modern dalam bentuk dan tabiatnya yang rakus -- meraup semua bentuk barang dagangan -- jelas membuat para pelaku pasar tradisional keok tidak berkutik. Hingga akhurnya mati atau menyerah dengan baik-baik, tanpa babibu. Bahkan myaris tidak ada yang melakukan protes, atau sedikit perlawanan budaya misalnya dengan melakukan perbaikan dan penyempurnaan dalam ragam bentuk penyediaan barang keperluan hingga cara dan gaya pelayanan yang bisa lebih menarik dan menyenangjan para pembeli.

Kendala bagi pasar tradisional kita memang harus diakui masih terlalu banyak dan ribet, dalam pengertian tidak profesional pengelolaannya

Pertama, masalah di pasar tradisional kita masih dominan pakai gerai seadanya, termasuk sarana dan prasarana yang digunakan. Berikutnya adalah para pelakunya -- penfelola -- masih sering dikakukan secara sambilan. Contoh untuk warung klontong, warung nasi dan warung kopi yang kini -- seperti umumnya yang ada di kota misalnya -- juga sudah dimangsa habis oleh para pemodal besar, kaum kapitalis.

Celakanya, kopi hasil kebun tetangga kita itu bisa dikkaim oleh kedai kopi milik bangsa asing. Padahal kita bisa saja buat Warung Kopi Lampung, Warung Kopi Sidikakang, Warung Kopi Toraja atau Warung Kopi Aceh. *****

* Jacob Ereste adalah Dewan Pembina Komunitas Buruh Indonesia

Category: 

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  


Berita lainnya

loading...