25 June 2018

Pengamat: IPO Perusahaan Properti Dinilai Tidak Menarik

KONFRONTASI -  Kalangan analis menilai penawaran umum perdana atau initial public offering/IPO yang dilakukan oleh emiten properti tahun ini masih akan cukup sulit untuk mendulang permintaan yang tinggi dari kalangan investor.

Alfred Nainggolan, Kepala Riset Koneksi Capital, mengatakan bahwa price earning ratio (PER) dari emiten-emiten properti saat ini masih relatif rendah, rata-rata kurang dari 15 kali. Padahal, dalam sejarahnya saham-sahamnya emiten properti biasanya diperdagangkan pada PER di atas 20 kali.

Hal tersebut mencerminkan bahwa investor saat ini belum cukup percaya diri untuk mentransaksikan saham emiten-emiten properti di level tertinggi mereka biasanya berada. Dengan kata lain, saham emiten-emiten properti belum cukup menarik di mata sebagian besar investor di bursa.

Padahal, kinerja IHSG sepanjang tahun lalu cukup memuaskan, demikian juga di awal tahun ini.

Meskipun saat ini indeks sektor properti, real estate dan konstruksi bangunan sudah tumbuh 8,62% ytd atau outperform terhadap IHSG yang sebesar 3,74% ytd, tetapi peningkatannya belum mampu mengimbangi penurunan indeks sektor ini dalam 2 tahun terakhir.

Lagi pula, peningkatan di indeks sektoral tersebut lebih banyak ditopang oleh pemulihan harga saham emiten-emiten konstruksi yang di awal tahun ini meningkat cukup tinggi karena pemulihan sentimennya.

Menurutnya, wajar bila pertumbuhan harga saham properti masih terbatas sebab kinerja bisnisnya pun belum banyak meningkat. Padahal, pasar sudah melihat adanya relaksasi LTV oleh BI pada 2016, lalu pada 2017 BI rate juga turun meskipun the Fed naik.

Kebijakan ini seharusnya mendukung penjualan properti yang mayoritas masih mengandalkan KPR. Namun, kenyataannya kinerja bisnis properti tidak mengalami banyak perbaikan.

“Dengan kondisi itu, kalau calon emiten properti tetap ngotot mau IPO, ada dua pilihannya. Pertama, mereka harus cari anchor investor atau standby buyer. Kedua, mereka cukup bersedia untuk melepas saham dengan valuasi yang terdiskon,” katanya, Kamis (22/2/2018).

Hans Kwee, Direktur Investa Saran Mandiri, sependapat bahwa dengan kondisi bisnis properti yang masih lesu dan tren harga saham emiten properti yang rendah, minat terhadap IPO sektor properti akan rendah.

Selain itu, minat pelaku pasar untuk terlibat dalam penawaran IPO saat ini juga secara umum relatif berkurang. Pasalnya, beberapa IPO kinerjanya tidak sekuat seperti yang diharapkan. Beberapa emiten justru turun harga sahamnya setelah IPO.

“Dalam IPO ada teori kutukan pemenang, kalau saya dapat barangnya banyak malah turun harganya. Ini jadi kendala karena pasar kita tidak ada market maker-nya,” katanya.

Dirinya menilai, sektor properti memang agak menarik saat ini sebab harganya mulai bangkit dari level terendahnya. Setelah beberapa tahun melambat, pasar properti diharapkan mulai mengalami recovery seiring dengan tren suku bunga yang rendah.

Namun, kondisi pasar IPO yang masih melemah akan menyebabkan emisi IPO sektor properti pun tidak akan terlalu menjanjikan kelebihan permintaan atau oversubscribe.(Jft/Bisnis)

Category: 
Loading...