Peneliti Senior INDEF Minta Pemerintah Waspada Kebocoran Impor Gula Jelang Idul Fitri

Konfrontasi - Peneliti Senior Institute for Development of Economics and Finance (INDEF), Bustanul Arifin, meminta pemerintah waspada akan kebocoran gula rafinasi. Menurutnya, saat gula di pasaran langka, besar kemungkinan gula rafinasi akan bocor ke masyarakat.

Saat ini, Kementerian Perdagangan telah menerbitkan Surat Perizinan Impor (SPI) untuk 438.802 ton gula kristal mentah (raw sugar). Kuota impor ini dianggap dapat memenuhi kebutuhan dalam negeri sampai musim Lebaran pada bulan Mei mendatang.

Dalam kondisi ini, Bustanul meyakini petani gula tidak akan dirugikan karena kuota yang diberikan untuk gula rafinasi. Sehingga gula mentah ini akan langsung masuk ke pasar industri untuk dilakukan pengolahan selanjutnya.

"(Gula impor) masuk ke pelaku usaha industri pangan dan minuman karena berbeda segmen," kata Bustanul dalam diskusi Populi Center dan Smart FM Network bertajuk 'Corona dan Kondisi Kebutuhan Pokok Kita' di Jakarta Selatan, Sabtu (7/3/2020).

Sementara itu, gula hasil olahan petani banyak digunakan untuk konsumsi sehari-hari. Meski begitu, kemungkinan adanya kebocoran kuota impor untuk konsumsi tidak bisa dihindarkan. Maka perlu segera diantisipasi potensi kebocoran. "Esensinya jangan sampai langka," kata Bustanul.

Beras, Tepung Terigu, Kedelai Hingga Bawang Putih Perlu Juga Dijaga Ketersediaannya

Selain gula, banyak kebutuhan pokok lainnya juga harus tetap dikelola dan ditangani dengan baik di tengah kondisi perekonomian lesu akibat virus corona. Misalnya beras yang menjadi makanan pokok masyarakat.

Guru Besar Ekonomi ini melihat tidak adanya tanda-tanda kelangkaan pada beras. Namun, kemungkinan stoknya berkurang karena dampak covid-19 maupun menjelang bulan puasa dan Lebaran.

Komoditas lain yang perlu diperhatikan adalah kedelai. Komoditas ini tidak terlalu banyak berpengaruh karena impor dari Amerika masih berjalan.

Begitu juga dengan tepung terigu. Namun, jika terjadi lonjakan harga, maka akan berdampak juga dengan produk turunannya. Sebab, tidak ada produsen dalam negeri untuk terigu. "Produsennya tidak ada, 100 persen impor," kata Bustanul.

Sementara itu, bawang putih sebagai produk strategis perlu jadi perhatian khusus juga. Sebab, komoditas bawang putih dan cabai bisa menyumbang inflasi.

Ternyata, kata Bustanul, memang ada prosedur impor yang perlu disederhanakan dan kepastiannya harus ditingkatkan. Tujuannya untuk menjaga stabilitas. Sehingga pemerintah perlu jadi responsif terhadap kondisi yang terjadi dan melakukan penyederhanaan sistem.

"Konteksnya kebutuhan pokok dan strategis adalah ketersediaan dan stabilitas harga," tutup Bustanul. (mrdk/mg)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...