20 June 2018

Pemerintah Diprediksi Bakal Kesulitan Kejar Target Pertumbuhan Ekonomi

KONFRONTASI-Pertumbuhan ekonomi pada kuartal pertama 2018 akan menjadi penentu atas segala kebijakan ekonomi yang akan dilakukan pemerintah.

Wakil Direktur Ekonomi dari Institute Development for Economics and Finance (Indef) Eko Listianto mengatakan jika pertumbuhan ekonomi pada kuartal setidaknya bisa 5,2% saja, pemerintah bisa dengan percaya diri melanjutkan semua rencana yang dimiliki.

Namun, katanya, melihat dari keadaan domestik dan global, agaknya sulit untuk mendapatkan pertumbuhan yang diinginkan.

"Apalagi pemerintah punya target [pertumbuhan ekonomi pada 2018] 5,4%, saya rasa itu cukup sulit," katanya kepada Bisnis, Selasa (13/3/2018).

Sejak Desember 2017, neraca perdagangan mengalami defisit, ditambah prediksi BI menyebutkan bulan Februari 2018 juga masih akan menjadi defisit.

"Itu artinya kita masih mengalami tekanan dari sisi ini [neraca perdagangan]," ujar Eko.

Kebijakan proteksionis dalam perdagangan internasional dari Presiden Trump juga akan membuat pedagang pesimis, dan pesimisme pedagang secara tidak langsung bisa membuat produksi menurun.

Dikatakan, pemerintah juga sadar akan hal tersebut, dan hal tersebut pula yang membuat pemerintah mengandalkan belanja sosialnya, sehingga, konsumsi rumah tangga yang kontributor pertumbuhan ekonomi (56,13%) paling besar setidaknya masih bisa dijaga.

Memang, kata Eko, indikator paling kuat untuk mendorong perekonomian adalah investasi, tetapi investasi saat ini masih banyak mengalami hambatan, dan investasi yang masuk juga banyak mengalir ke sektor jasa.

Jadi, dia menyimpulkan, pertumbuhan ekonomi kuartal ini akan sangat sulit untuk melampaui pertumbuhan ekonomi kuartal sebelumnya (5,19%), apalagi untuk mencapai target pertumbuhan di UU APBN 2018 (5,4%). Lebih lanjut, jika melihat dari tren pertumbuhan ekonomi per kuartal pada 2017 adalah 5,01% - 5,01% - 5,06% - 5,19%.

Dijelaskan, pertumbuhan ekonomi di semester satu sangat rendah, dan baru bisa digenjot pada semester akhir. "Dan walaupun tinggi juga tidak bisa sampai menggerek pertumbuhan sesuai target [5,2%]."

Sementara itu, dengan segala potensi seperti kenaikan suku bunga FED yang lebih banyak direalisasikan di semester kedua, dan Pilkada serentak, membuat pertumbuhan ekonomi di semester akhir tahun ini tidak akan begitu kuat dibandingkan tahun lalu.

"Kalau FED menaikkan suku bunga, nilai tukar pasti akan makin terperosok," imbuhnya.(mr/bisnis)

Tags: 
Category: 
Loading...