Pembebasan Bea Masuk Ekspor RI ke AS Tak Otomatis Genjot Investasi

KONFRONTASI-Pemberian fasilitas bebas bea masuk (Generalized System of Preferences/GSP) produk ekspor Indonesia yang diberikan pemerintah Amerika Serikat, tidak otomatis menggenjot investasi.

Penilaian itu disampaikan Direktur Eksekutif Institute Development of Economics and Finance (INDEF), Tauhid Ahmad, dilansir RMOL, Rabu (4/11).

"GSP ini kan kemudahan bea masuk berdasakan ke negara luar. Itu kaitannya dengan ekspor bukan investasi," ujar Tauhid.

Fasilitas GSP, menurut Tauhid, tidak serta merta bisa membuat tertarik investor untuk menanamkan modalnya di Indonesia. Pasalnya, kondisi industri di dalam negeri sedang merosot, dan daya beli masyarakat sedang menurun untuk produk-produk selain tersier.

"Menurut saya ini orang enggak langsung investasi pada produk-produk yang punya fasilitas GSP. Enggak seperti itu. Karena orang investasi di kita (Indonesia) untuk pasarnya yang sudah besar," kata Tauhid.

"Untuk pasar kita, domestik kita kan besar orang investasi produk-prooduknya lari ke sebagian itu tersier. Tersier itu sektor keuangan, jasa hotel, dan sebagainya. Sementara industri cendrung turun dalam 5 tahun terakhir," sambungnya.

Oleh karena itu, Tauhid memprediksi pertumbuhan investasi di dalam negeri belum bisa digenjot pada triwulan keempat. Karena, investor butuh waktu yang cukup panjang untuk berinvestasi.

"Jadi kalau kita lihat enggak sebanding. GSP kan untuk produk-produk industri yang keluar. Kalau pun mau investasi, ya untuk produk-produk yang bersifat tersier," ungkapnya.

"Jadi long waynya masih panjang lah, enggak otomatis," demikian Tauhid Ahmad.

Dalam Rapat Paripurna Kabinet pada Senin kemarin (2/11) Presiden Joko Widodo menegur Kepala Badan Koordinasi Penanaman Modal (BKPM), Bahlil Lahadalia, dan Menteri Koordinator Maritim dan Investasi, Luhut Binsar Pandjaitan.

Jokowi menegur dua menteri tersebut dikarenakan pertumbuhan investasi masih minus di atas 5 persen pada kuartal ketiga, yakni diperkirakan mencapai 6 persen.

Karena itu, Jokowi meminta Luhut dan Bahlil untuk menggenjot nilai investasi pada kuartal keempat. Caranya adalah dengan memanfaatkan fasilitas bebas bea masuk atau Generalized System of Preferences (GSP) yang diberikan pemerintah Amerika Serikat untuk produk-produk impor dari Indonesia.

"Oleh sebab itu ini (nilai investasi) dikejar di kuartal keempat, dan nanti di kuartal pertama bulan Januari, Februari, Maret (2021) sudah mulai bergerak lagi," ungkapnya.

"Saya ingin mengingatkan bahwa kesempatan untuk memperbaiki investasi ini kita diberikan peluang, karena kemarin GSP untuk masuk ke Amerika sudah diberikan perpanjangan,"demikian Joko Widodo.

Adapun realisasi investasi pada kuartal II/2020 tercatat hanya Rp191,9 triliun, terkontraksi -4,3% (yoy) dibandingkan kuartal II/2019 dan sebesar -8,9% bila dibandingkan dengan kuartal I/2020.(mr/rm)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...