Omzet Hancur Dihantam Corona, Pelukis di Lebak Bingung

KONFRONTASI-Omzet pendapatan pelukis di Kabupaten Lebak, Provinsi Banten, sejak dua bulan terakhir turun drastis saat pandemi COVID-19.

"Biasanya, menjelang Lebaran banyak pesanan, namun saat ini belum ada," kata Egom (55), seorang pelukis saat ditemui di Galeri Komunitas Momonon di Jalan Multatuli Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Sabtu.

Selama ini, pelukis bingung saat pandemi COVID-19 karena belum menerima pesanan maupun pengunjung yang membeli aneka lukisan.

Pendapatan penjualan lukisan tidak bisa dijadikan andalan ekonomi keluarga dibandingkan tahun sebelumnya yang cukup lumayan.

Omzet penghasilan tahun lalu, kata dia, hingga belasan juta rupiah menjelang Lebaran, namun tahun ini dipastikan turun 90 persen.

"Kami merasa bingung menurunnya pendapatan itu sehubungan merebaknya pandemi COVID-19," kata pelukis yang melanglang buana selama 22 tahun di Provinsi Bali itu.

Dia kini terpaksa beralih profesi sebagai penjual masker untuk menutupi ekonomi keluarga, sebab permintaan pesanan lukisan tidak ada saat pandemi COVID-19.

Sebelumnya, kata dia, dirinya terkadang menerima orderan atau pesanan dari pedagang seni lukis di wilayah Banten dan masyarakat.

Namun, saat pandemi COVID-19 sama sekali tidak ada pesanan maupun pembeli yang datang ke galeri.

"Kami minta pemerintah dapat memberikan bantuan kepada para seniman lukis agar kehidupan mereka bisa bangkit kembali," kata seorang pelukis realis itu.

Begitu juga Reo (35), seorang pelukis komunitas Momonon Rangkasbitung mengaku terpukul saat pandemi COVID-19 karena omzet pendapatan turun drastis.

Biasanya, kata dia, menjelang Lebaran banyak pesanan lukis, namun saat ini terpuruk.

"Kami setiap hari tetap memajang lukisan di Jalan Multatuli Rangkasbitung, namun banyak duduk karena tidak ada pembeli," ujarnya.

Sementara itu, Ketua Wadah Kreasi Seni (WKS) Rangkasbitung, Kabupaten Lebak, Dedi Heriyadi mengatakan, pandemi COVID-19 tentu berdampak terhadap pendapatan ekonomi para seniman pelukis.

Karya pelukis di Kabupaten Lebak terdapat tujuh komunitas, di antaranya KPJ Rangkasbitung, Momonon dan WKS.

Produk karya lukisan mereka kebanyakan beraliran natural. Harganya terjangkau dengan kisaran Rp300 ribu hingga Rp3,5 juta rupiah.

"Kami berharap seniman itu dapat kompensasi bantuan, karena pendapatan ekonomi seniman semakin terpuruk akibat pandemi corona," kata Dedi yang pernah kuliah di Institut Kesenian Jakarta (IKJ) tahun 1986.(mr/tar)

 GULIRKAN KE BAWAH UNTUK MELIHAT ARTIKEL LAINNYA  

loading...